-->

Lainnya Toggle

Tulis yang Paling Dekat

AgusOleh Agus M. Irkham

First keys on writing is to write. Not to think!” Kunci pertama menulis adalah  menulis. Bukan berfikir. Demikian ucap William Forrester di depan Jamal Wallace dalam film Finding Forrester. Ada kata bijak mengatakan begini: cara belajar yang terbaik adalah dengan mempraktikkannya. Sama halnya dengan olah raga berenang. Anda sudah menguasai segala macam gaya, teori gerakan, sudah nglotok, hafal di luar kepala. Tapi Anda tidak pernah nyemplung ke kolam renang.

Ya, sekali nyemplung, yang ada gaya batu alias tenggelam. Banyak membaca buku berisi teori bagaimana menulis artikel, memang penting. Tapi yang terpenting adalah keberanian untuk memulai. Saya mengkategorikan penulis ke dalam tiga jenis.

Jenis pertama mereka yang tidak tahu teori tapi terus belajar/praktik menulis. Trail dan error terus dicoba, lama sekali golongan pertama ini bergelut dengan huruf, kesalahan-kesalahan terus terjadi. Tapi mereka menjadikan kesalahan dan kegagalan itu sebagai guru. Bukankah kegagalan adalah sukses yang tertunda. Dengan mental baja dan semangat empat lima, akhirnya mereka menemukan cara yang paling tepat untuk menulis. Termasuk menemukan gaya tulisan yang paling pas dan khas untuk dirinya sendiri.

Jenis kedua, tahu teori tapi tidak pernah menulis. Segala macam teori menulis dikuasai, tapi sangat malas praktik nulis. Hasil akhir dari penulis jenis kedua ini, menjadi penulis hanya berhenti in your dream! Hanya ada dalam mimpi. Nasibnya persis seperti perenang gaya batu tadi.

Jenis ketiga adalah mereka yang tahu teori tapi juga praktik. Ini jenis yang paling ideal. Karena dengan tahu teori, Anda tidak perlu melakukan kesalahan-kesalahan yang sudah pernah terjadi pada penulis lain. Tidak perlu memakan waktu yang sangat lama untuk bisa betul-betul menulis. Anda bisa memintas waktu.

Tapi, tetap saja senjata yang paling ampuh untuk bisa menulis adalah menulis. Persis seperti yang dikatakan Kuntowijoyo (alm): ada tiga cara untuk menjadi penulis, yaitu dengan menulis, menulis, dan menulis. Terlepas apakah Anda menguasai teori atau tidak. Terserah jenis tulisan apa yang akan Anda tulis. Menulis catatan harian, tips belajar mudah, cara menulis catatan kuliah yang menarik sehingga kalau membaca ulang tidak bikin ngantuk. Menulis rencana harian aktivitas Anda, menulis surat…cinta, menulis daftar buku-buku yang harus dibeli dan dibaca, dan lain-lain terserah Anda.

Apa yang harus ditulis, pada awal-awal belajar menulis (artikel)? Tentu saja Anda harus memulai menulis sesuatu yang paling dekat denganmu. Dekat bisa berarti kedekatan fisik, tempat tinggal. Misalnya Anda bertempat tinggal di daerah dekat pantai, tulis saja tentang pantai. Atau dekat pabrik yang mengeluarkan limbah hingga mencemari sungai. Tulis saja tentang dampak limbah pabrik terhadap Anda dan tetangga-tetanggamu.

Dekat yang kedua berarti kedekatan rasa,dan minat. Misalnya Anda sangat menyukai sepakbola, menulislah tentang sepakbola. Menyukai olahraga naik gunung, tulis suasana riang dan dingin udara ketika Anda berada di puncaknya. Tulis yang menjadi bagian dari keseluruhanmu pengalaman hidupmu. Hingga Anda tidak perlu mencari-cari sumber-sumber informasi atau bahan tulisan dari lain tempat atau lain orang.

Karena Anda adalah referensi itu sendiri. Pengalaman yang Anda rasakan akan menjadi referensi yang tidak akan habisnya. Ibarat air, kisah hidupmu adalah samudra, yang airnya tidak akan pernah habis, meskipun sering diambil. Dan tulisan yang ditulis berdasarkan pengalaman biasanya, ada semacam aura yang dapat menyihir pembacanya. Mereka larut ketika membaca tulisan itu. Seluruh emosi, simpati dan empatinya ikut masuk, mengikutimu. Karena tulisan itu ditulis tidak dengan teknis saja, sebenarnya merupakan suara hati.

“Penulis harus jujur. Tulis yang paling tahu, paling tidak yang paling menjadi perhatian. Tidak usah ikut-ikutan tren. Karena keberagaman justru menjadi penting.” Ujar Dewi “Dee” Lestari dalam sebuah diskusi di Semarang akhir Mei 2006 lalu. Apalagi jika membaca batasan yang diberikan beberapa penulis tentang artikel:

“…anggap saja anda menulis untuk siapa saja. Untuk menteri pekerjaan umum, untuk tetangga sebelah, untuk penata rambut, untuk anak SMA yang tidak suka merokok. Dan untuk anda sendiri di waktu sakit.…” Demikian terang Eka Budianta, penulis buku Menggebrak Dunia Mengarang.

Atau lebih sederhana lagi, rumusan dari Slamet Soeseno, penulis rutin rubrik ilmiah populer di majalah Intisari:

“Artikel adalah tulisan yang berisi sikap atau pendirian subyektif mengenai masalah yang sedang dibahas dilengkapi alasan dan bukti yang mendukung pendirian itu.”

Nah, mulailah menulis sesuatu yang paling Anda sukai. Yang paling dekat dengan dirimu. Anggap saja artikel itu surat pribadi untuk sahabat karibmu atau untuk dirimu sendiri. Bukankah setiap orang paling suka jika diminta untuk menceritakan (dengan omongan atau tulisan), tentang sesuatu yang menjadi kesukaannya?

*)Dikronik dari buku Prigel Menulis Artikel, Agus M. Irkham, 2007.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan