-->

Kronik Toggle

Terra Brajaghosa: "Buatlah Komik Senasib Sepenanggungan dengan Pembaca"

YOGYAKARTA — Di hadapan 30-an peserta “Angkringan Grafis” dalam perhelatan Dikomfest #4, ISI di Jogja National Museum (25/1), Terra Brajaghosa membuat pengakuan: “Saya belum menghasilkan komik yang unik. Komik yang mudah diingat orang!”

Dan tampaknya, Terra tidak sedang memburu keunikan itu. Baginya, bagaimana cerita dalam komik itu menyentuh kehidupan real masyarakat. Komik senasib dan sepenanggungan dengan pembacanya. “Oh, saya juga mengalami apa yang ada dalam komik itu. Pendidikan mahal, rumah sakit mahal, apa-apa mahal. Ustaz-ustaz makin kaya. Juragan rokok makin melangit hartanya. Dan seterusnya dan seterusnya,” tutur Terra.

Untuk membuat komik-komik kritik sosial, Terra Brajaghosa tidak sendirian. Ia bekerjasama dengan Eko Prasetyo yang memang dari sononya dikenal sebagai penulis yang galak. Baca saja buku duet maut Eko dan Terra ini di Jangan Tanya Kenapa: Perusahaan Rokok Untung Besar! (2007). Komik ini sempat habis di toko-toko buku karena ditengarai diborong habis perusahaan rokok tertentu agar komik ini tak sempat dibaca masyarakat. Komik ini menggempur habis-habisan juragan perusahaan rokok dan kebiasaan merokok masyarakat.

Selain itu, Terra juga sangat kerap menjadi partner Eko untuk membuat ilustrasi tambahan dari buku-buku galak dengan judul berpentung yang dituliskan Eko Prasetyo. Misalnya, Astaghfirullah: Islam Jangan Dijual! dan Keadilan tidak untuk yang Miskin!!.

Walau menjadi komikus dengan tema-tema galak saat ini, Terra justru dibesarkan oleh dunia komik pop seperti Candy Candy dan X-Men. “Tapi perubahan saya terjadi ketika pada suatu hari saya menonton pameran komik Nitiprayan yang dibuat mahasiswa-mahasiswa ISI. Lha, saya kaget, kok komiknya beda sekali. Dulu saya mengira komik itu super hero. Ada juga superhero-nya di Nitiprayan. Tapi setelelah terbang, terus jatuh, ya tokohnya mati begitu saja. Apalagi nggambar komiknya di dinding,” cerita komikus yang turut bergabung dalam komunitas komik Bedebah dan Daging Tumbuh.

Sebagaimana Beng Rahadian, dalam acara bertema “Comicalpreuner” itu, Terra jugaberpendapat komik yang dibuat bisa dijual. Bisa untuk makan. Karena itu, komikus dituntut kemampuannya membikin komik yang siap dibaca. Bukan hanya komik yang bagus di gambar saja. (GM)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan