-->

Lainnya Toggle

Strategi Visual Gaya Penerbitan: Militansi Budaya (Me)Lawan

Koskow, FBOleh: Widyatmoko ‘Koskow’

“Barangkali menyebut orang lain tak sadar itu adalah sebuah cara untuk mengabaikan fakta bahwa tidak semua orang berpikiran sama seperti Anda.” (Joseph Heath & Andrew Potter dalam Radikal Itu Menjual, Antipasti, 2009, h. 118)

Tulisan ini mau mengapresiasi terbitan badai otak (majalah/zine) dan anomali (buku) dalam ruang visual. Strategi visual dipilih untuk mengganti kata estetika dalam artian menggeser pemahaman ke arah manajemen ruang hingga gagasan yang mau disampaikan (bagi saya, strategi visual mau memudahkan menjelaskan estetika dalam ruang visualitas penerbitan).

Arah manajerial dan gagasan yang konsisten dibangun oleh keberkalaan badai otak dan anomali tersebut lama-kelamaan dapat membangun suatu gaya desain, atau gaya penerbitan yang disiasati lewat kerja visual.

Sedangkan, pengertian gaya desain dalam pandangan kali ini tetap melibatkan form and content, bentuk dan isi di mana soal form maupun content dapat benar-benar formalis maupun historis alias berada dalam ruang dan waktu tertentu. Beberapa kajian tentang strategi visual berikut ini hanya dipilih beberapa hal yang dirasa menarik untuk dikaji.

Sebagai titik awal, dalam beberapa hal badai otak dan anomali memiliki perbedaan mendasar, terutama anomali tak selugas badai otak dimana anomali lebih menempatkan diri sebagai buku sedangkan badai otak sebagai majalah mini. Dalam kalimat lain meski ideologi yang diusung sama namun tiap media memberi ruang kepentingan tertentu, anomali lebih formal dalam menyampaikan gagasan sedangkan badai otak lebih lugas karena diposisikan sebagai ruang unik dan olah kreativitas menulis.

Meski demikian, dalam hal visual, badai otak lebih eksploratif dibanding anomali yang cenderung menyerupai buku pada umumnya. Dengan fakta yang demikian, tulisan-tulisan di bawah ini pun di satu sisi membicarakan keduanya (badai otak dan anomali) dan di lain sisi bisa menunjuk ke salah satunya saja.

(Tidak) Uniknya Badai Otak dan Anomali

Sisi bentuk/ukuran badai otak maupun anomali, terutama badai otak yang berukuran kecil dibanding buku-buku pada umumnya (rata-rata14/15 x 20/21 cm, desainer kerap menyebut ukuran setengah A4) rupanya bukan merupakan media/penerbit yang pertama kali menerbitkan buku-bukunya dengan ukuran kecil. Contoh-contoh berikut merupakan penerbitan yang juga berukuran kecil (catatan : dokumentasi penulis).

7 856

Meski bukan merupakan media baru yang berukuran kecil, badai otak maupun anomali mengingatkan saya pada buku-buku Islam seperti buku Iqro, panduan sholat lima waktu, dll dimana kerap saya jumpai kala berada di dalam bis antar kota antar propinsi. Jadi, mesti tak ada kaitan antara badai otak dan anomali terhadap buku-buku tersebut paing tidak ingatan buku-buku Islam yang berukuran kecil sudah ada di benak saya, mungkin juga di benak pembaca juga. Buku-buku berukuran kecil di atas juga memerlihatkan bahwa ukuran kecil bukan hal baru, bukan hal unik. Lantas, dalam hal apa ukuran kecil badai otak dan anomali menjadi unik sebagai sebuah gaya penerbitan? Ke-keren-an.

Yang dimaksud ke-keren-an di sini yaitu selera visual/grafis badai otak dan anomali. Grafis-grafis yang dihasilkan sangat mengesankan clean design karena kental meninggalkan jejak penggunaan software/hardware digital, entah corel draw, ilustrator, photoshop, hingga penggunaan pen mouse. Kesatuan antara kecil dan citra clean design itulah yang membedakan terbitan-terbitan badai otak dan anomali hingga ia boleh dikata unik.

Teknis dan Retorika/Propaganda[1] Visual : Melawan Dengan Gaya

Dilibatkannya teknologi terkini dalam pengerjaan grafis badai otak dan anomali bukan sebatas perkara teknis. Teknis pun melibatkan suyek/person yang mengerjakan. Teknis pun di satu sisi dapat didudukkan sebagai retorika visual, semacam “cara yang visual” digunakan untuk menekankan citra tertentu/konteks tertentu dengan maksud mau menyampaikan pengaruh/pendapat (content) tertentu.

Jika didudukkan sebagai variabel, maka yang teknis ini jadi penting jika dihadapkan dengan variabel lain misalkan ideologi penerbitan. Dalam pandangan saya hal ini penting, sebagai contoh, teks-teks yang melawan Orde Baru pada penerbitan 90-an memiliki simbol visual grafis lawasan. Gabungan keduanya nyaris menjadi simbol/ikon perubahan di antara simbol/ikon lain yang juga hadir salah satunya kesatuan sosialisme dan cukil kayu (Taring Padi). Maka dari itu badai otak dan anomali yang mengusung keislamannya memberi ingatan kuat justru pada yang visual itu tadi, baik dari sampul hingga ilustrasi di dalamnya. Di sinilah keunikan (retorika) visual buku unik dan anomali berada. Tugas berikut yaitu mengkaji tanda-tanda yang diproduksi pada tiap penerbitan badai otak dan anomali (semiotika).

Dalam pandangan sekilas, tanda-tanda yang dihadirkan dalam penerbitan badai otak dan anomali bukan hal baru juga. Beberapa ikon/simbol yang dipilih merupakan tanda umum yang kerap dijumpai seperti perempuan muslim (perempuan bidadari) ditandakan dengan perempuan berkerudung, cowok ditandakan dengan sepatu (jenis converse), catatan dari meja dosen dengan mesin ketik, anak muda ditandakan dengan laki-laki bertopi. Beberapa mengajukan simbol seperti cewek disimbolkan dengan kesatuan (sintaks) mug, bunga, dan kartunal tersenyum, ada pula simbol-simbol yang dalam pandangan tertentu dapat dilihat sebagai suatu bentuk permainan tanda yaitu boneka, ada pula tanda yang memberi harapan seperti tumbuhan muda, dll.

Tanda-tanda di atas bisa menjadi hal yang ideologis manakala ia (tanda tersebut) dipilih untuk mewakili sesuatu, dalam kata lain suatu fakta dipilih untuk memvisualkan teks tertentu, misalkan perempuan bidadari memilih digambarkan lewat sosok perempuan, remaja/muda, berkerudung, lewat gaya grafis vector.

Dalam terbitan anomali “perempuan bidadari”, gambar perempuan berkerudung tersebut tak sebatas tampil di halaman sampul depan, ia juga tampil di halaman sampul belakang, ia juga tampil di halaman isi sebagai penanda paragraf, penanda judul baru.

Sebuah tanda, yang jika diulang-ulang, tentu mau menyampaikan sesuatu, bisa juga suatu kedalaman tertentu karena ia diyakini benar, sepertinya tak ada tanda/fakta lain yang perlu diajukan. Dalam lingkup bahasa rupa, terdapat pertanyaan seperti apa yang digambarkan, juga pertanyaan seperti apa/bagaimana ia digambarkan.

Di sini gambar perempuan berkerudung digambar dengan gaya grafis vektor (teknis yang digunakan bisa melalui corel draw, freehand, atau ilustrator). Gaya grafis ini dipilih bukan karena desainernya suka dengan gaya ini atau hanya bisa gaya/teknis ini. Gaya ini dipilih karena boleh jadi yang menjadi sasaran berkomunikasi yaitu pihak yang kerap direpresentasikan lewat gaya/teknis vektor saat ini, yaitu remaja, terutama perempuan. Pilihan gaya/teknis menjadi ingatan kuat seperti halnya penerbit alternatif-lawasan, sosialisme-cukil kayu (Taring Padi), remaja-vektor (teenlit, chicklit), dan dualitas-dualitas lainnya. Jika dibikinkan tabelnya mungkin bisa seperti berikut ini.

Tabel perbandingan di atas bisa menjelaskan bahwa suatu satu kesatuan bentuk-isi (form & content) mampu menjadi ingatan kuat melekat yang lantas menjadi simbol/ikon tertentu. Perbincangan yang demikian sedikit banyak mengarah ke gaya desain.

Apabila pilihal-pilihan visual tadi merupakan pilihan yang disadari dengan demikian strategi visual dapat dimengerti dalam kerangka gaya desain penerbitan dimana sebagai gaya desain, sekali lagi, ia menyangkut form & content hingga ingatan tertentu. Kita hadap-hadapkan saja buku-buku badai otak maupun anomali dengan buku-buku remaja pada umumnya, maka teks “melawan dengan sederhana” adalah palsu karena yang berlangsung yaitu “melawan dengan/lewat gaya”.

Apakah hal ini penting untuk diperbincangkan lebih lanjut?

Penting, yaitu dengan melihat bahwa badai otak maupun anomali lahir dari pribadi yang menekuni dunia visual yaitu desain grafis. Bahkan mereka yang diajak (baca: dipilih) untuk merancang sampul maupun ilustrasi isi dan layout pun juga sosok yang menekuni desain grafis (Wilsa, dikenal sebagai komikus dan pernah merancang sampul buku Bentang, Uuk yang kental bermain digital imaging, maupun Makmun Arif alias Ayip, penggagas Institut Vektor Indonesia), bahkan melibatkan biro desain Syafa’at advertising dalam sebuah terbitannya, juga Hasbi Mubarok yang memiliki ketelitian dalam stilasi bentuk.

Maka, kajian strategi visual dalam badai otak dan anomali cukup beralasan karena di sini yang visual tak sebatas yang visual namun perpanjangan ideologi/gagasan yang sepenuhnya disadari.

Dari sudut pandang “siapa-siapa saja yang diajak mengerjakan” menggambarkan bahwa badai otak maupun anomali mampu menjadi ruang bermain dalam artian bagaimana yang idelogis (Islam) disampaikan melalui visual (desain grafis). Selain itu, dipilihnya person-person tersebut secara tak langsung badai otak dan anomali mau melegitimasi di tingkat estetik dominasi selera visual (mengingat person-peson yang dipilih merupakan person yang memiliki kepakaran dan pengakuan meski di lingkungan internal, beberapa di lingkup eksternal). Kembali pada ke-keren-an di atas. Hasilnya yaitu ke-keren-an, yang bisa memiliki tiga alasan:

  1. Cara berbicara dengan target sasaran (anak muda pada umumnya).
  2. Mengkooptasi budaya populer (gaya di pihak lawan sebagai alat untuk melawan).
  3. Atau jangan-jangan visualitas budaya populer memang manjadi pilihan estetika pribadi perancangnya alias bekerja lewat mekanisme bawah sadar.

Dari sekian alasan kiranya cara berbicara sekaligus usaha mengkooptasi budaya lawan menjadi pilihan latar belakang keberkalaan visual badai otak dan anomali dengan alasan bahwa kesatuan form-content, katakanlah dualitas form-content dalam kerangka gaya desain penerbitan mengidentitaskan kedirian (visi, sikap, prinsip, ideologi, misi, dll) penerbit itu sendiri.

Menengok jeroan badai otak kita akan mendapati melimpahnya visual yang diposisikan ke dalam berbagai kepentingan misalkan ilustrasi penghias hingga ilustrasi yang mau memerkuat teks yang dituliskan.

Dalam halaman-halaman dalam badai otak juga akan dijumpai halaman iklan namun iklan yang meladeni ideologi teks badai otak. Iklan tersebut, dalam koridor desain komunikasi visual, dapat dikategorikan sebagai kampanye. Sebagai sebuah kampanye ala badai otak ia tidak terselubung, ia terus terang, to the point, lugas, seperti yang nampak pada bahasa-bahasa verbal tulisan-tulisan dalam badai otak maupun anomali.

Di sini bukan indahnya atau apiknya kampanye tersebut yang jadi penting namun bagaimana ruang/manajemen halaman dalam sebuah penerbitan diposisikan dalam berbagai kepentingan: ruang sebagai tempat teks ditata dan ruang sebagai media propaganda. Dalam hal inilah keunikan badai otak jadi terasa menemu bentuk.

12

Selain itu cara berkampanye itu sendiri pun menggunakan pola beriklan media populer (budaya populer). Hal tersebut menjelaskan bahwa apa yang dikerjakan media-media populer, yaitu sebagai media/pihak di mana ideologi populer (kapitalisme) dilawan oleh ideologi teks badai otak dan anomali, dipergunakan/dikooptasi. Jika pada media populer pun memiliki ruang iklan, badai otak pun juga demikian, hanya saja ia tak melayani produk tertentu namun langsung melayani kepentingan badai otak maupun anomali.

Bedanya, halaman-halaman iklan pada media-media populer digunakan untuk menghidupi keberlangsungan majalah tersebut, halaman-halaman iklan pada badai otak digunakan terutama untuk mempertegas kepribadian visimisi sekaligus menjadi ruang perjumpaan penulis dan pembaca yang dalam hal ini perjumpaan yang berada dalam suatu paham/ideologi tertentu (Islam).

Beberapa Pertanyaan Yang Perlu Diajukan

Tulisan ini maunya ringkas saja mengingat ruang dan waktu yang diberikan kurang memungkinkan untuk melakukan kajian dan diskusi panjanglebar. Penulis sengaja menanyai beberapa pihak terkait penilaian mereka, yaitu para pembaca yang terbiasa dengan penerbitan.

Pada umumnya badai otak dan anomali diletakkan sebagai gaya penerbitan dengan budaya remaja saat ini. Di satu sisi penilaian tersebut benar jika melihat gaya berbahasa pun gaya visual yang diterapkan oleh badai otak dan anomali. Di lain sisi, dalam pandangan tertentu, suatu gaya yang konsisten digunakan (bahkan ketika gaya tersebut dikritik oleh pembaca lain dan kritik tersebut dituliskan di badaio otak) kemungkinan besar ia mau menyampaikan sesuatu. Hal ini menjadi suatu fakta yang bisa dikaji lebih mendalam untuk kepentingan memerjelas kedudukan pemikiran badai otak dan anomali dalam lanskap penerbitan buku-buku Islam.

Pertanyaan lain yaitu boleh jadi penting yaitu badai otak dan anomali di satu pihak didudukkan sebagai sayap kanan terhadap arus dominan, namun di satu pihak boleh jadi pula ia berada di sayap kiri pihak yang melahirkannya.

Namun, rasa-rasanya redaksi badai otak maupun anomali sejak awal menegaskan dirinya bahwa media ini merupakan media yang unik dalam menampung kreativitas menulis. Kita boleh tak memercayai hal tersebut (baca : ruang unik dan kreatif) jika badai otak dan anomali didudukkan sebagai sayap kiri atas sesuatu maupun sayap kanan untuk yang lain.

Bagaimanapun juga badai otak maupun anomali mau menegaskan suatu kedudukan tertentu terhadap aliran-aliran yang dilawan maupun terhadap aliran-aliran yang satu kotak dengannya (hal ini dengan lugas ditunjukkan lewat komentar-komentar pada tulisan pengantar beberapa edisi badai otak maupun anomali yang di satu sisi membiarkan penulis badai otak dengan cara berpikirnya, namun di sisi lain tetap merangkulnya sebagai kawan sealiran).

Tulisan ini menutup diri lewat suatu pembayangan dan harapan. Sebagai sebuah media, badai otak maupun anomali memberi gambaran bahwa di sana terjadi hubungan yang, katakanlah, lugas bebas.

Ditinjau dari hal ini badai otak maupun anomali boleh jadi bikin iri pihak lain betapa sebuah media mampu memererat persaudaraan di antara kaum sesamanya. Di sisi lain, dengan kesadaran disiplin ilmu pengetahuan visual person-person dalam tubuh badai otak dan anomali, media ini secara militan tetap konsisten menjadi budaya tanding terhadap ingatan visual citraan ideologi dominan anak muda: kapitalisme (di sini boleh kita satu paketkan dengan liberalisme, globalisme).

Hanya saja, visualitas badai otak maupun anomali selain membedakan diri dengan media lain, lebih penting lagi bahwa ia tak sebatas mengikuti selera visual ideologi dominan (kapitalisme dan budaya populer) namun mengkooptasinya. Visualitas dilawan lewat visualitas yang terkooptasi.

Harapannya, semoga realitas ini tak sebatas realitas simbolik saja. Apalagi secara tak disadari apa-apa yang dikerjakan badai otak dan anomali justru mengamini ideologi yang dilawannya yaitu liberalisme yang hari ini berkredo “yang kreatif, yang menjual”.

Widyatmoko ‘Koskow’ , penulis buku Merupa Buku (2009)

Referensi :

  • Haryatmoko, Etika Komunikasi: Manipulasi Media, Kekerasan, dan Pornografi, Kanisius, Yogyakarta, 2007.
  • Joseph Heath & Andrew Potter, Radikal Itu Menjual, Antipasti, Jakarta, 2009 (terjemahan).
  • Steven Heller & Seymour Chwast, Graphic Styles: From Victorian To Post-Modern, Harry N. Abrams, Inc., New York, 1994 (paperback edition).


[1] Propaganda dalam arti klasik dipahami sebagai wacana yang berusaha mengonstruksi suatu kebenaran palsu dengan memroduksi fakta atau menyembunyikan. (Haryatmoko, 2007, h. 37). Dalam citra-citra yang diciptakan (terutama) badai otak kerap hadir propaganda visual seperti poster/kampanye yang dihadirkan dalam lembar-lembar halaman badai otak. Poster/kampanye tersebut di satu sisi menyembunyikan fakta bahwa meski badai otak menyebut diri sebagai majalah mini namun di lain sisi ia sebenarnya media propaganda/perlawanan terutama terhadap kapitalisme. Meski demikian, dalam ruang ini, lebih tepat tidak terjadi mekanisme penyembunyian fakta namun dualitas bahwa di satu sisi ia majalah, ia zine alternatif, ia media perlawanan, dan di lain sisi ia sedang berorasi dengan gaya remaja kota (alay) sembari mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya reaktif sekaligus mengajukan jawaban-jawaban yang diyakini sudah final.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan