-->

Kronik Toggle

Petrik Matanasi: "Selamat Jalan Ibu Maemunah Thamrin"

Suatu pagi, November 2007. Saya telat bangun. Maklum hari libur. Saya tidak perlu ke perpus untuk cari bahan. Agenda kami hari itu ke Bojong. Ke rumah Pramudya Ananta Toer. Sang Maestro itu. Kami tidak sedang ingin menemui. Karena dia sudah wafat beberapa tahun sebelumnya. Kami berkunjung untuk belajar dari Pram. Belajar menulis kronik. Dia mungkin kronikus terbaik dengan karya-karya Kronik-nya tentang Indonesia zaman Revolusi.

Karena menunggu Mujib yang baru bangun, kami baru berangkat dari Stasiun DJuanda pukul 11. siang. Bersama Gusmuh alias Muhidin M Dahlan, Rhoma Aria alias Mbak Ria, TUnggul Tauladan alias Tung Tau, Oryza Adithama alias Kecel, Tisa, Winda dan Devi, kami naik KRL ke Stasiun Bojong. Klowor alias Isworo NR tidak bisa ikut karena harus mengantar lukissan ke Jogja. Dan ini kali pertama saya naik KRL.

Setelah jam 12, kami sampai di Bojong. Numpang makan di Warteg, karena sudah siang dan lapar. Selanjutnya cari angkot ke rumah Pram. Hanya butuh waktu 15 menit, dengan angkot, sampailah kami di rumah Pram. Mbak Titi, panggilan Astuti Ananta Toer, menyambut kami. Rumah Pram besar dan saya cuma bisa bilang wooww. Rumah yang menyenangkan dengan pemandangan hijau pohonnya. Kami memasuki ruang kerja Pram. Banyak kliping koran. Pram berencana membuat ensiklopedia. Benar-benar sastrawan yang gila pengetahuan dia. Sayang, sulit untuk melanjutkan proyek hebat dari Bung Pram itu.

Ketika akan pulang, kami berpapasan dan berfoto dengan istri Pram di sebuah Dapur.Saya tidak tahu banyak tentangnya. Dia anak Abdullah Thmarin. Keponakan Muhamad Husni Thamarin–seorang anggota parlemen yang layak jadi teladan–yang juga tokoh Jakarta sekaligus Pahlawan NAsional. Waktu itu Ibu Maemunah sedang memasak Kolak. Kami tidak sempat mencicipi karena keburu ingin pulang ke Jakarta lagi.

Setalah hari itu berlalu, saya tidak pernah lagi melihat Maemunah Thamrin. Hingga baru saja, Diana Shasa mengirimkan pesan pada kami: “Innallilahi wainna ilahi rojiun, telah meninggal dunia Hj. Maemunah Thamrin, istri Bpk Pramoedya Ananta Toer (alm), pd jam 11.45. Rmh Duka Jl. Multikarya 11 no.26, Utankayu, JakTim. Semoga amal ibadahnya diterima Allah, dan ditempatkan di tempat yang terbaik di sisi Allah SWT. mohon doanya untuk almarhumah dan keluarga.”

Ya itulah pertemuan pertama dan terakhir saya dengan Maemunah Thamarin. Atas Kepergiannya, kami hanya bisa berucap, “Selamat Jalan Ibu Maemunah Thamrin…”

*) DIsalin dari Catatan Facebook Petrik Matanasi, 8 Januari 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan