-->

Literasi dari Sewon Toggle

Perpus IBOEKOE di Kedaulatan Rakyat

KR“Pekerjaan kalian sungguh-sungguh terpuji,” kata Harry A Poeze sekira medio 2009 saat berkunjung ke perpustakaan Indonesia Buku. Pakar sejarah kehidupan Tan Malaka ini sudah janjian jauh hari untuk datang. Selain melihat, Direktur KITLV di Leiden, Belanda, ini pun membeli beberapa buku cetak terbatas hasil riset Indonesia Buku. Nyaris semuanya tentang sejarah dengan macam-macam tema.

Ketertarikan Poeze barangkali lebih disebabkan terdorong oleh kerja besar dilakukan Indonesia Buku yang dilakukan nyaris seluruhnya oleh angkatan muda. Dan rata-rata masih berstatus mahasiswa.

Sebut saja deretan riset ini: Seabad Pers Kebangsaan (1907-2007), Seabad Pers Perempuan (1909-2009), Kronik Seabad Kebangkitan Indonesia (1908-2008), Almanak Partai Politik Indonesia (1912-1999), Seratus Buku Sastra Indonesia Yang Harus Dibaca Sebelum Dikuburkan, Almanak Seni Rupa Jogja (1999-2009), dan Penulisan Sejarah Kampung (Patehan Yogyakarta).

Riset yang melibatkan 200-an penulis muda itu berasal dari pelbagai perguruan tinggi di Yogyakarta. Antara lain: UGM, UNY, UII, Sanata Dharma, UIN Kalijaga, UPN Veteran, maupun UMY.

Lembaga yang didirikan sejumlah perupa muda sejak 1999 ini, memang bukan sebagai tempat meniti karir bagi mahasiswa. Semata hanya menjadi batu loncatan dan menimba pengalaman dan belajar bersama. Di ruang alternatif ini dibolehkan bereksperimen menulis tema apa saja secara bersama atau individu.

Bahkan, salah satu riset pers dari dua anak muda di lembaga ini, yakni Trilogi Lekra Tak Membakar Buku, sempat dilarang Kejaksaan Agung pada tahun 2009 dan kemudian dianulir Mahkamah Konstitusi setahun kemudian.

“Melecut keberanian menulis dari anak-anak muda ini yang sering digongkan. Dan baru setelah itu diyakinan untuk membuat buku-buku yang bahkan tak terbayangkan oleh mahasiswa itu bisa membuatnya,” kata salah satu koordinator riset Muhidin M Dahlan.

Menurut Agung Dwi Hartanto, ruang belajar dan berekspresi dengan keyakinan sepenuh-penuhnya disuguhkan di Indonesia Buku. Bagus dan tak bagus hasilnya tak masalah. Yang penting rajin dan berani saja.

“Indonesia Buku, bagaimanapun telah memberikan ruang dan waktu kepada para sejarawan muda untuk meriset dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Belum ada, setahu saya, lembaga yang berani memfasilitasi anak-anak muda macam ini,” kata penulis asal Temanggung ini.

Saat menjadi mahasiswa Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta, selain terlibat dalam riset besar Seabad Pers Kebangsaan (1907-2007), Agung juga menerbitkan buku tebal dan bersampul keras berjudul: Marco Kartodikromo: Karya-karya Lengkap yang terbit mendahului skripsinya pada 2009.

“Saya kenalnya dari internet sewaktu tahun 2008. Data-datanya lengkap. Saya kagum juga dengan ketelatenan mahasiswa yang belajar di lembaga itu. Lantaran itu saya ikut bergabung karena yakin lembaga ini mampu menjaga denyut nadi sejarah Indonesia dengan anak-anak muda yang dilatih di dalamnya sebagai amunisinya,” kata direktur d:buku Bibliopolis Royal Plaza Diana AV Sasa yang bergabung untuk riset di Indonesia Buku sejak 2009.

Perpustakaan

Sebagai lembaga riset bagi anak-anak muda, Indonesia Buku juga disertai oleh perpustakaan komunitas dengan ribuan koleksi terpilih. Umumnya bertema Tokoh, Bahasa (Seni dan Sastra), dan Kawasan.

Terletak di Patehan Wetan No 3, Kraton, Alun-Alun Kidul, Yogyakarta, tidak seperti perpustakaan umumnya yang tutup lebih awal. Gelaranibuku, demikian namanya, tutup hingga jam 12 malam.

“Mengikuti buka Angkringan Buku dan berakhirnya siaran Radio Buku,” ujar salah satu pengelolanya, Khotimah Hasanah. Angkringan Buku dan Radio Buku yang dimaksud berada satu atap dengan Indonesia Buku.

Seperti rumah sendiri, kata Komang Ira Puspitaningsih. “Semau saya membaca buku. Hotspotan sampai mata juling juga karena terlalu lama menatap monitor komputer. Membuat teh atau kopi sebanyak yang saya mau. Baca buku sambil tiduran di karpet hingga terlelap pun tak ada yang melarang. Dan yang paling penting, saya tak perlu menutup mulut rapat-rapat seperti di perpustakaan lainnya seolah-olah kita ini kuper dan aneh,” kata mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UNY ini.

Hal senada juga dikatakan mahasiswa Hubungan Internasional UPN Veteran Irwan Bajang. Kata dia, inilah bentuk perpustakaan yang ideal, buku lengkap, tempat nyaman, dan banyak fasilitas pendukung lainnya. Ada juga kelas menulis gratis dengan pembicara penulis-penulis dengan jam terbang yang tinggi. “Apa yang lebih menyenangkan bagi mahasiswa selain memperoleh fasilitas dan ilmu gratis?” katanya retoris. (bond/gus)

Sumber: Harian Kedaulatan Rakyat, suplemen “Swara Kampus”, hlm D rubrik “Panorama”, dengan judul: “Gelaran Indonesia Buku: “Datang Tak Sekadar Bertamu”. Selasa, 18 Januari 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan