-->

Kronik Toggle

Penyebaran Buku SBY Salah Sasaran

Jakarta – Sejarawan Asvi Warman Adam mengkritisi penyebaran buku Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke 87 Sekolah Menengah Pertama di Tegal, Jawa Tengah. “Ini bukan hanya tidak pas. Tapi salah sasaran,” kata Asvi melalui telepon, Rabu (26/1).
Asvi menyayangkan mengapa buku SBY bisa lolos jadi bacaan siswa SMP. Ia menuturkan, pada masa Orde Baru, buku-buku yang menceritakan kehebatan rezim memang banyak muncul. Namun buku-buku itu tak sampai masuk ke sekolah.

Menurutnya, lebih bijaksana jika pemerintah mempriotitaskan sosialisasi pahlawan nasional,ketimbang mengedarkan buku-buku yang menyajikan kehebatan SBY. Sebab saat ini, hanya segelintir dari 150 tokoh pahlawan nasional yang sudah dikenal masyarakat.

“Seyogyanya, yang dicetak dan diedarkan di sekolah itu kan buku yang membicarakan tokoh nasional. Sebenarnya sah-sah saja kalau Departemen Pendidikan mencetak buku seperti itu. Tapi kan persoalannya, buku itu jadi buku pelajaran di SMP,” ujarnya.

Asvi mencontohkan dua pahlawan nasional, Pong Tiku dari Toraja, dan Garamata dari Sumatera Utara, yang namanya masih asing di telinga masyarakat. Padahal, kata Asvi, keduanya berjuang habis-habisan membela tanah air di era penjajahan Belanda.

“Mereka yang lebih pas dibukukan karena sudah mengorbankan jiwa dan raga. Kalau Pak SBY kan sudah dikenal karena sering muncul di teve,” kata Asvi.

Sebelumnya, buku profil SBY ditemukan Dinas Pendidikan Kabupaten Tegal langsung didistribusikan ke sekolah sebagai penerima dana alokasi khusus dari pemerintah pusat. Buku-buku itu di antaranya berjudul “Lebih Dekat dengan SBY: Jalan Panjang Menuju Istana”, “Merangkai Kata Menguntai Nada”, “Memberdayakan Ekonomi Rakyat Kecil”, dan “ Peduli Kemiskinan”.

Isma Savitri

*) Tempointeraktif, 26 Januari 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan