-->

Kronik Toggle

Papers and Ugo

YOGYAKARTA – Sekitar 2000 karya dalam goresan kertas berupa sketsa dan drawing dihadirkan dalam pameran bertajuk “Papers and Ugo”. Meski hanya dari selembar kertas, namun karya seni rupa ini mampu memenuhi nyaris semua ruang pamer Taman Budaya Yogyakarta, yang rencananya akan digelar dari 8 hingga 21 Januari 2011. Media kertas yang terpinggirkan oleh media seni lain, diangkat dan dihadirkan seniman asal Yogyakarta, Ugo Untoro dalam karya sketsa dan drawingnya dalam kertas.

Kurator pameran ini, Aminudin Th. Siregar mengatakan banyak cara untuk menilai karya kertas seniman. Dalam konteks sketsa, misalnya, orang sering mengatakan bahwa sketsa merupakan jejak seniman yang paling otentik. Sketsa merekam hal-hal yang sifatnya motorik, spontan dan dokumentari yang tidak pernah terlepas dari biografi seniman.

“Tetapi di sini, aspek-aspek dalam karya kertas itu menandai  memoar visual dari Ugo, yang secara periodik tidak saja mencerminkan ekstasenya mencari peluang artistik media, namun juga memunculkan pelbagai persoalan yang tidak biasa apabila dianalisis dari segi tematiknya,” ujarnya di TBY, Senin (10/1).

Aminudin menjelaskan “Memoar visual” Ugo ini adalah memoar yang datang dari seseorang yang gelisah. Kita seperti diajak membaca biografi seorang tahanan sosial atau seperti kisah perjuangan hidup seseorang yang ingin memahami dirinya. Layaknya sebuah karangan panjang dengan tokoh-tokoh rekaan, yang mengalami rangkaian peristiwa dan berkaitan satu sama lain di suatu tempat dan waktu.

Memoar visual Ugo tidak terpusat pada satu masalah, dijelaskannya alih-alih justru terpecah ke aneka konflik. Konflik-konflik ini memusar ke sudut personal, idiosinkratik, dan terpisah-pisah.  Di dalam memoar ini tidak semua konflik diselesaikan atau memang tidak terselesaikan. Di tengah kondisi seperti itu, memoar ini benar-benar tidak menyodorkan “ending yang bahagia”. Memoar visual ini menawarkan semacam seduksi bercampur kecemasan.

“Kertas-kertas itu sendiri hadir begitu mencemaskan, mereka mengganggu nalar pemirsa dan berhasil menutup mulut kita untuk, misalnya saja, menilai: itu bagus atau itu buruk. Sampai di sini Ugo berhasil memutasikan suatu perkara yang remeh menjadi penting,” tuturnya.

Kertas-kertas Ugo tidak berhenti pada batasan formal seni semisal sketsa atau gambar. Ugo sudah bekerja dengan ribuan lembar kertas. Dengan media ini, dia terbiasa melakukan banyak eksplorasi, eksperimen, baik yang bersifat konvensional berupa sketsa suasana, figur manusia hingga ke tindakan yang radikal seperti melubang-lubangi kertas dengan cara membakarnya.

Pameran ini juga menampilkan karya-karya kritis Ugo berupa satirisme yang dia arahkan ke keluarga Cendana dan pendekatan militerisme dalam menangani masalah sosial. Kuantitas serial politikal ini terbilang minim dibandingkan dengan serial ekspresi-ekspresi personalnya.

“Yang jelas, aku tidak setuju apabila kasta kertas di bawah kanvas. Menurutku kertas justru lebih besar hati daripada kanvas. Ia menampung coretan tak bermakna, gambar-gambar gagal, disobek, dibuang,” imbuh Ugo Untoro

Sudah cukup lama media kertas dipinggirkan, mungkin sampai hari ini. Siapa yang menyebabkannya seperti itu, saya kurang tahu. Tetapi, di lapangan seni, pada kenyataannya kasta kertas ditaruh di bawah kanvas.

Sumber: Portal KR Jogja, 10 Januari 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan