-->

Kronik Toggle

Melestarikan Suku Tengger Melalui Blog, Nantinya Dibukukan

Pasuruan – Trisno Sudigdho (42). Warga Tosari, Pasuruan, ini diam-diam sedang menyiapkan sebuah buku yang mengupas tentang legenda Suku Tengger. Sementara ini, dia memilih memposting sejarah Tengger di blog miliknya.

“Saya sedang mengumpulkan data-data yang bisa memperkaya isi buku yang akan saya terbitkan nantinya,” kata Trisno saat dihubungi detiksurabaya.com, Minggu (2/1/2011).

Niatnya membuat buku yang menceritakan sejarah Tengger dan Bromo itu berawal dari kegelisahannya. Sebagai keturunan Tengger, dia menilai masyarakat belum memperoleh secara lengkap informasi yang bagian dari sejarah bangsa ini.

“Saya sudah datangi para dukun adat. Saya ingin menyajikan secara lengkap agar tidak terputus sejarahnya,” tambah pria kelahiran Lumajang ini.

Di dalam blog miliknya, d16do.blogdetik.com, dengan tagline-nya’Tengger People/Suku Tengger’, Trisno menggambarkan sekilas Tengger dengan apik. Bahkan dia juga melengkapinya foto-foto pedesaan Suku Tengger di masa lampau.

Tak ketinggalan, foto-foto upacara adat juga disisipkan untuk memberikan pencerahan bagi pembacanya. Bahkan foto industri pariwisata seperti perhotelan maupun paviliun di Tengger pada jaman Belanda pun disuguhkan.

“Foto-foto ini ada yang milik saya ada pula yang dikirimin teman dari Belanda. Saya tidak tahu sumbernya dari mana,” terang Trisno yang rajin ngeblog sejak 2008 lalu.

Dalam profilnya, kearifan lokal sangat terasa. Dia¬† menulisnya dengan dialek sehari-sehari Suku Tengger. Demikian petikannya: Putra Tengger bertekat ikut berbuat sesuatu untuk memajukan dan mencerdaskan Masyarakat Tengger dengan tetap menjujung tinggi Adat, Budaya dan Tradisi Suku Tengger. Maka ‘Dadhia reank wonk Tengger Sejati Lan Reank Bangga Jadi Putra Tengger yang Indonesia‘.

Hong Pikulun dhuh jagat ya Dewa…Nedhi rahardja slamet, Nedhi pait getihe, Dawa gagarane, panjang umure, Adoh balahine, Cedhak rejekine, Gampanga gangsar padhos sandhang lan pangan’.

Kalimat minta keselamatan dan kesejahteraan itu dipetik dari Mantera Pujan Kasodo.Yang artinya Hong Pikulun, wahai dunia, wahai Tuhan, mohon keselamatan, kesejahteraan, tahan penyakit, panjang jangkauan dan panjang umur,jauh dari bencana, murah rejeki, serta mudah mencari sandang pangan.

Di katagori Legenda Tengger, Trisno menyuguhkan episode sejarah Pra Tengger, Joko Seger dan Loro Anteng serta keturunannya. Dia berusaha memberikan informasi tentang Sejarah Tengger yang dimulai pada 1115 Masehi atau Tahun 1037 Caka. “Ini tulisan saya sendiri, di buku lain tidak ada,” jelas Trisno.

“Saya ingin melestarikan kearifan lokal Tengger. Dan kalau bisa sejarah ini dimasukan dalam kurikulum pendidikan. Mudah-mudahan tulisan saya ini berguna bagi orang lain,” kata Trisno yang orantuanya kelahiran Desa Ngadiwono, Tosari ini.

Bagi yang catatan tahun Gunung Bromo meletus, Trisno menyajikan data tahun kejadian secara berurutan. Seperti data yang diposting, Bromo pertama kali meletus pada tahun 1767. Namun letusan yang terbesar terjadi pada tahun 1974.
(gik/gik)

*) Detik.com 2 Januari 2011

1 Comment

wahyu - 24. Mar, 2011 -

saya salut dengan rencana pembuatan buku yang mengulas sejarah suku tengger. ada sebuah desa di kec. puspo pasuruan, yaitu desa keduwung (krajan, jambangan, keduwung atas) di dusun keduwung atas merupakan dusun yang dihuni mayoritas agama hindu yang wilayahnya masih terisolir karena akses yang sulit dijangkau, kebetulan saya pernah mengobrol dengan beberapa masyarakat dan mereka mengatakan bahwa mereka adalah keturunan tertua dari suku tengger. mungkin kalau bapak belum kesana coba ke dusun keduwung atas barangkali ada informasi tambahan buat buku yang bapak buat. trima kasih

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan