-->

Kronik Toggle

Kresnawati di Sisi Pak Lurah

AKHIR pekan awal Maret 2009, Wisma Sritex, Tawangmangu, Jawa Tengah, dijaga ketat Pasukan Pengamanan Presiden. Rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang hari itu meresmikan Pasar Wisata Tawangmangu bermalam di sana.

Di udara dingin Tawangmangu, malam itu, Nyonya Kristiani Herrawati atau lebih populer sebagai Ani Yudhoyono, berbicara empat mata dengan penulis buku-buku biografi, Alberthiene Endah. “Ibu Ani menjelaskan rencananya membuat buku biografi,” kata Alberthiene.

Membaca buku-buku biografi yang ditulis Alberthiene, Ani merasa sreg. Ani menginginkan biografinya ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dan populer. Ketika meluncurkan buku, yang kemudian diberi judul Kepak Sayap Putri Prajurit, di Grand Ballroom Hotel Dharmawangsa, Jakarta, 30 Juli tahun lalu, Ani mengatakan, “Saya merasa cocok dengan gaya bahasa dan penuturannya.”

Sejak diminta menjadi penulis biografi itu, Alberthiene selalu masuk rombongan Ani pada setiap acara di Jakarta ataupun luar kota. Ia juga beberapa kali diundang ke rumah pribadi Presiden di Cikeas, Bogor, Jawa Barat. Di sana Alberthiene mewawancarai Yudhoyono, Ani, dan kedua putra mereka, Agus Harymurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono.

Dalam pertemuan-pertemuan itulah, Ani bercerita tentang kedua orang tuanya, Sarwo Edhie Wibowo dan Sunarti Sri Hadiyah. Anak ketiga dari enam bersaudara ini juga menceritakan masa kecilnya berpindah dari satu tangsi ke tangsi lain, sampai ayahnya menjadi Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat.

Ani lahir pada 6 Juli 1952, ketika ayahnya bertugas di Batalion Kresna, Yogyakarta. Menurut Ani, ayahnya sangat menyukai Kresna, tokoh baik dalam dunia wayang. Itu sebabnya, sang ayah ingin memasukkannya ke dalam namanya. Tapi tak mungkin memberi nama Kresna bagi anak perempuannya. Diubah menjadi Kresnawati juga lucu. “Akhirnya Papi memberi nama Kristiani,” kata Ani. Adapun Herrawati, menurut Ani, berarti kekuatan yang bisa menyapu bersih saat huru-hara. Nama depan Kristiani sempat diributkan sejumlah kelompok pada pemilihan presiden 2004. Oleh mereka, Ani dituduh beragama Nasrani.

Cerita-cerita masa kecil ini juga didapat dari keluarga. Alberthiene diberi akses buat mewawancarai keluarga besar Ani. Ia tak perlu repot-repot mengatur janji, karena Ani mengumpulkan saudara-saudaranya di rumah sang ibu di Cijantung, Jakarta Timur. Bahkan kerabat dan kenalan yang lainnya juga sudah disiapkan buat si penulis. Kata Alberthiene, “Berbeda dengan klien yang lain, Ibu Ani tahu yang diperlukan dalam membuat biografi.”

Alberthiene bercerita materi yang sulit untuk buku ini justru foto-foto masa muda dan foto keluarga. Kepada dia, Ani bercerita foto-foto itu akhirnya didapat dalam kunjungannya ke daerah bersama Presiden Yudhoyono. “Tiba-tiba ada kenalan keluarga yang datang sambil membawa foto di tengah kerumunan,” kata Alberthiene, menirukan cerita Ani.

Menurut Ani kepada Alberthiene, foto-foto keluarga banyak hilang karena seringnya Sarwo Edhie berganti jabatan, terutama selepas penanganan peristiwa Gerakan 30 September. “Banyak arsip keluarga, termasuk foto-foto,” kata Alberthiene mengutip Ani, “hilang karena pindah-pindah.”

Karena perpindahan itu pula, Ani tak sempat menyelesaikan kuliah kedokterannya. Sempat bercita-cita masuk Universitas Indonesia, Ani akhirnya kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia. Baru enam semester, Sarwo Edhie memboyong keluarganya ke Seoul. Ia ditunjuk menjadi Duta Besar Republik Indonesia di Korea Selatan.

Setelah urusan foto dan naskah beres, pada November 2009 penyusunan buku rampung. Rencananya buku akan diluncurkan pada awal 2010. Tapi ketika itu, perhatian publik tersita pada ribut-ribut soal penyelamatan Bank Century. Terutama setelah Dewan Perwakilan Rakyat membentuk Panitia Khusus Hak Angket. Jadwal peluncuran pun diubah. Acara digeser ke April, bertepatan dengan Hari Kartini. Tapi lagi-lagi acara dibatalkan karena media massa sedang ramai memberitakan perkara mafia hukum yang bermula dari pengungkapan kasus Gayus Halomoan Tambunan.

Akhirnya, buku itu diluncurkan pada hari perayaan pernikahan Ani dan Yudhoyono, 31 Juli. Mereka menikah pada 1976, bersamaan dengan pernikahan kakak dan adik Ani. Sang kakak, Wrahasti Cendrawasih, menikah dengan Letnan Dua Erwin Sudjono, belakangan menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat. Adiknya, Mastuti Rahayu, berpasangan dengan Kapten Hadi Oetomo, pensiun dengan pangkat kolonel dan menjadi Ketua Umum Partai Demokrat 2005-2010.

Ani bertemu dengan Yudhoyono ketika Sarwo Edhie menjadi Gubernur Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia di Magelang. Kisah-kisah Ani mendampingi Yudhoyono-oleh teman-temannya dipanggil “Pak Lurah”-membangun karier militer, mendirikan Partai Demokrat, hingga menjadi presiden pada 2004 memenuhi bagian tengah hingga akhir buku.

Ada bagian khusus yang menceritakan soal pendirian Partai Demokrat. “Kami sekeluarga akhirnya menyadari untuk bisa terjun ke dunia politik perlu kendaraan partai politik,” kata Ani dalam bukunya. Ani bercerita ia mendampingi suaminya menyusun konsep Demokrat. Warna biru partai itu, kata Ani, ia yang mengusulkan.

Karena di masa awal itu Yudhoyono masih menjabat Menteri Koordinator Politik dan Keamanan di kabinet Presiden Megawati Soekarnoputri, urusan partai diserahkan kepada Ketua Umum Subur Budhisantoso. Ani ikut menggerakkan mesin partai sebagai wakil ketua umum. Ani tak banyak menceritakan sepak terjangnya di partai.

Selain itu, Ani berkisah banyak soal aktivitasnya sebagai istri Presiden, kegiatannya bersama Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu, jadi berbagai duta kampanye kesehatan, dan memimpin Dewan Kerajinan Nasional. Setelah diterbitkan, seorang sumber bercerita buku itu selalu menjadi barang bawaan dalam kunjungan Ani ke luar kota.

Buku Kepak Sayap Putri Prajurit awalnya tak dijual bebas. Dicetak 1.000 eksemplar luks berukuran besar, buku dibagikan gratis kepada para kolega. Ketika Tempo menyambangi ruang sekretaris pribadi Ani Yudhoyono, Yulia Ekayanti, buku biografi itu disiapkan di sana. “Kalau kunjungan ke daerah, buku itu dibagikan kepada pejabat dan ibu-ibu yang hadir,” ujarnya.

Ani akhirnya memutuskan menerbitkan buku tersebut untuk masyarakat luas. Penerbit Gramedia Pustaka Utama mencetaknya 7.000 eksemplar. Editorial dan Product Manager Nonfiksi Gramedia Siti Gretiana menjelaskan, penjualan buku ini tak terlalu kencang. Sebab, buku itu tak mengungkap banyak peristiwa rahasia. “Tapi, untuk buku biografi, penjualannya lumayan bagus,” kata Greti.

Buku Kepak Sayap tak banyak bercerita tentang isi perut Partai Demokrat ataupun isu-isu politik yang berkaitan dengan keluarga Cikeas. Soal kabar akan diajukannya Ani sebagai calon presiden menggantikan Presiden Yudhoyono yang sudah dua kali menduduki kursi itu disinggung singkat pada halaman terakhir.

Menurut Alberthiene, Ani berkali-kali mengeluhkan soal isu kandidat presiden itu. Bahkan ia berpesan kepada Alberthiene agar memasukkan isu tersebut. Menurut sang penulis, Ani mengatakan, “Tolong ditulis ya, saya tidak mau jadi presiden.”

Oktamandjaya Wiguna

*) Majalah Tempo Online, 10 Januari 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan