-->

Kronik Toggle

Gerakan Sejuta Buku bagi Petani Sumbar

PADANG, Para petani di Indonesia didorong membaca buku dan memiliki kesadaran untuk menumbuhkan budaya membaca. Untuk itulah, sebuah gerakan sejuta buku untuk petani mulai diluncurkan sekelompok petani asal Sumatera Barat.

Saat ini mencari gerakan yang murni seperti ini kan tidak banyak. Makanya saya dukung.
— Atika Hasiholan

Gerakan yang dipimpin tokoh muda petani, Masril Koto itu mulai melakukan aksi tersebut sejak sebulan terakhir. Masril adalah pendiri ratusan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis di Sumbar, cikal bakal program pengembangan usaha agribisnis pedesaan (PUAP) nasional.

Targetnya, itu menargetkan dalam lima tahun ke depan gerakan itu akan menuai hasil. Untuk tahap pertama, 15 LKMA di Sumbar akan dijadikan unit percontohan gerakan itu.

“Selain itu juga lima warung kopi akan kami jadikan tempat gerakan sejuta buku untuk petani. Jadi sambil mereka ngopi, bisa juga sembari membaca buku dan diskusi,” kata Masril yang juga aktivis Yayasan Alumni Fakultas Pertanian Universitas Andalas (AFTA).

Gerakan sejuta buku untuk petani tersebut, imbuh Masril, nantinya akan dijadikan gerakan besar-besaran secara nasional. Untuk itulah, sejumlah tokoh dan artis seperti jurnalis kawakan Desi Anwar dan bintang muda Atika Hasiholan telah dipastikan mendukung gerakan tersebut terutama dalam membantu penyediaan buku-buku bacaan.

Atika Hasiholan, ketika dihubungi pada hari yang sama mengatakan sangat terinspirasi dengan gerakan yang digagas Masril Koto.Ia menilai, gerakan Masril adalah aksi nyata yang lebih besar artinya ketimbang hanya sekadar mengeluh.

“Saat ini mencari gerakan yang murni seperti ini kan tidak banyak. Makanya saya dukung,” kata Atika. Ia memastikan, dukungan itu akan ia berikan semampu mungkin hingga batas yang belum bisa ditentukannya.

Menurut Atika, dirinya memahami betul pentingnya membangun dunia pertanian dan menyejahterakan petani lewat pendidikan . Untuk itulah, menumbuhkan minat baca dan merangsang para petani untuk lebih peduli pada pendidikan menjadi hal penting untuk mewujudkannya.

Ia menambahkan, untuk meretas persoalan tersebut kerapkali masyarakat dihadapkan pada pilihan apakah menyediakan dahulu sarananya atau menumbuhkan dulu minat baca. “Menurut saya minat dan saran anya sama-sama penting, dan saya mendukung gerakan ini terutama dalam soal penyediaan sarananya,” ucap Atika.

Guru Besar Tetap Universitas Andalas, Bidang Sosial Ekonomi Pertanian dan Kebijakan Publik, Prof Dr Helmi mengatakan, gerakan membawa buku ke tengah-tengah kehidupan dan aktivitas petani merupakan hal baru yang patut didukung. Pasalnya, imbuh Helmi, selama ini yang dihadirkan adalah buku dalam perpustakaan yang bersifat statis.

“Jadi, sekalian datang ke LKMA, sembari menunggu para petani juga bisa membaca-baca buku,” kata Helmi. Ia menambahkan, menyediakan informasi ke tengah-tengah petani merupakan hal penting untuk meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas petani, terutama lewat buku-buku yang bersifat praktis.

*) Kompas.com, 8 Januari 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan