-->

Kronik Toggle

Beng Rahadian: "Kesel Saya dengan Sikap Gramedia"

YOGYAKARTA–“Ngapain jual komik Indonesia. Nggak laku”. Kata-kata pihak Toko Buku Gramedia itu diingat betul oleh Beng Rahadian sewaktu mempresentasikan pameran Satu Dekade Komik Indonesia setahun lalu.

“Kesel saya. Itulah kenapa sangat susah menerbitkan komik di negeri ini. Sikap-sikap seperti Gramedia ini yang membuat komik Indonesia anjlok. Apalagi dalam pasar buku, ya komikus itu nasibnya disamakan dengan penulis. Dapat jatah 10% dari harga jual buku. Menghambat sekali,” lanjutnya ketika diminta menjadi pembicara di “Angkringan Grafis” dalam perhelatan Dikomfest #4, ISI di Jogja National Museum (25/1).

Dalam acara bertema “Comicalpreuner” itu, selain Beng, juga tampil Terra Brajaghosa yang komiknya kerap tampil dengan duet maut dengan penulis sosial Eko Prasetyo.

Beng yang didaulat sebagai penutur pertama di hadapan 30-an peserta diskusi memang mengakui komikus Indonesia, khususnya di Yogyakarta, lemah di dua hal: storytelling dan manajemen pemasaran. Akibatnya, komik pun jalan di tempat. Menurut pencipta komik Lotif: Jaksa Tanggung (dikerjakan bersama sastrawan Radhar Panca Dahana), komikus mesti menerobos terus kelemahan itu. Memilih tema juga perlu sebagai harga jual.

“Umumnya kan komikus ini tidak terlal peka dengan lingkungan sekitarnya. Padahal untuk punya nama dan mendapat posisi, ruang komik lokal ini harus digarap intensif. Komik lokal yang saya maksud adalah yang dibuat orang Indonesia dan bersandar pada lingkungan sekitar,” lanjut Beng.

Profesi

Dengan kesuksesannya mengelola komunitas komik Akademi Samali di Jakarta, alumnus Disain Komunikasi Visual, ISI, Yogyakarta ini masih meyakini bahwa menggambar komik bisa dijadikan profesi. Komik yang menghidupi komikusnya.

“Banyak peluang. Bisa menjadi komikus pesanan seperti dipesan LSM, organisasi di luar negeri, maupun iklan. Duitnya lumayan tuh. Atau menjadi komikus di penerbitan lokal tapi uangnya nggak besar-besar amat,” kata Beng.

Tak lupa Beng mengingatkan, kalau komikus ingin maju, berkomunitaslah. Bangun kelompok. “Sebab di dunia industri komik, yang pertama-tama ditanyakan oleh pasar, kamu dari komunitas mana. Itu biasa tuh. Mungkin anggapannya, jika pun jadi diterbitkan, sudah ada pembeli awal,” lanjutnya.

Akademi samali yang didirikan Beng Rahadian ini kini menjadi salah satu komunitas komik tersukses di Jakarta. Komunitas ini bukan lagi hanya menjadi pembuat komik, tapi juga bisa mengelola event, menjadi konsultan penerbitan (khusus lini komik), maupun mendirikan sekolah. (GM)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan