-->

Tokoh Toggle

Alberthiene Endah, Sang Pencatat Jejak Biografi

alberthiene endahJakarta – Sepanjang 2010, karier kepenulisan Alberthiene Endah bisa disebut sempurna. Sepuluh buku biografi dihasilkan dalam waktu hampir bersamaan. Nama dia sebagai penulis biografi sudah menjadi jaminan bagi para tokoh yang menginginkan sisi lain kehidupan mereka diakrabi masyarakat.

Tak semua dibuat pada tahun itu, memang. Proses pembuatan buku Kepak Sayap Putri Prajurit, yang menceritakan kehidupan Ani Yudhoyono, membutuhkan waktu setahun. Beberapa bukunya juga baru akan diterbitkan bulan ini, seperti biografi Anang Hermansyah berjudul Aku dan Diva.

Awalnya, penyuka parfum Fahrenheit ini berambisi bisa menerbitkan sekaligus pada 2010. Sayang, tubuhnya tak mampu mengikuti keinginannya. Gejala tifus dengan kadar hemoglobin hanya 80 ribu memaksanya beristirahat di rumah sakit hingga malam Natal tahun lalu.

“(Masih) bagus gue enggak gendheng,” katanya kepada Istiqomatul Hayati dan Hadriani Pudjiarti dari Tempo di kamar VIP Rumah Sakit Medistra, Jakarta, Kamis pekan lalu.

Mantan wartawan majalah Femina ini juga menjawab tudingan bahwa biografi Krisdayanti, My Life My Secret, menjadi penyebab perceraian sang diva dengan suaminya. Ia juga ingin agar makin banyak para penulis biografi seperti dirinya. “Aku sedih kalau orang menulis dibayar murah,” katanya.

Apa rencana Anda pada awal tahun ini?
Januari ini, aku menerbitkan (biografi) Anang Hermansyah. Judulnya Aku dan Diva. (Juga biografi) Ramli, perancang busana yang menderita kanker stadium IV. Novel saya, True Love, akan kelar Januari juga. Desember kemarin, Bu Ani (Yudhoyono) meminta aku membuat buku lagi yang bercerita tentang pengalaman beliau sebagai ibu negara. Kalau yang kemarin (Kepak Sayap Putri Prajurit) bercerita tentang Ibu saat kecil. (Selain itu) aku bikin buku operasi-operasi militer yang pernah dijalankan Marinir. Buatku, semua kerjaan itu sulit, tidak ada yang mudah. Tapi aku semangat banget.

Benarkah Anda akan menerbitkan majalah?
Januari ini aku buka majalah dan production house. Mudah-mudahan launching-nya awal Maret. Majalah ini konsep baru, aku namakan “mabloid” atau majalah tabloid. Tipis tapi kualitasnya majalah. Sangat stylish. Saya terinspirasi dari majalah O (The Oprah Magazine), yang isinya sangat inspiring. Aku lihat majalah yang (ada) sekarang sudah bagus, tapi kebanyakan konsumtif, tentang gaya hidup. Majalahku nanti mau menunjukkan perempuan juga bisa membaca news. Di situ aku jadi pemilik. Kalau tadinya aku jadi pemred (pemimpin redaksi) yang digaji tiap bulan, sekarang totally. Tapi (ini) menantang.

Tahun 2010 sepertinya tahun yang sibuk, ya, buat Anda….
Ini akhir tahun yang menyenangkan karena betapa beratnya tahun 2010. Kok, bisa-bisanya aku membuat 10 biografi. Di antara orang terkenal, ada yang tidak terkenal. Jadi aku bikin (biografi) Jenny Rachman, Chrisye (The Last Words of Chrisye), Probosutedjo, Ani Yudhoyono, buku Teh Sariwangi (Mari Bicara). Ada buku tentang raja minyak bikin (biografi) suami-istri. Kalau sama Anang dan Ramli (yang diluncurkan Januari ini), ditotal ada 10. (Masih) bagus gue enggak gendheng. Tahun depan aku enggak mau. Aku maunya (membuat) novel dan majalah.

Bagaimana bisa mengerjakan 10 biografi dalam setahun?
Aku orang yang bisa switch. Jadi bukan satu buku satu bulan, tapi aku bisa mengerjakan beberapa pekerjaan dalam waktu yang sama. Itu memang sudah berkah. Makanya mulai 2011 ini aku (akan) membuat (buku) cara menulis biografi. Kalau cara menulis novel sudah jadi, tinggal diterbitkan. Karena aku ingin wartawan bisa memulai dengan itu (menulis biografi). Aku sudah dengan susah payah membuat satu sistem sehingga orang menghargai tulisan itu seperti orang membeli lukisan seniman. Itu sulit. Kita mendapatkan harga yang pantas untuk sebuah buku. Saya sedih kalau orang menulis dibayar murah.

Berapa tarif Anda?
Saya ndak mau ngomong kalau tarif. Yang jelas, bisa buat hidup mapan (tertawa). Kalau kita bisa membuat yang disukai oleh klien, akan bisa bernego soal harga. Itu sangat mungkin.

Buku-buku Anda laris. Apa resepnya?
Ada ramuannya supaya membuat buku itu komersial. Nanti aku jelaskan di buku itu. Intinya menulis biografi itu adalah proyek besar jurnalis. Jurnalis itu sangat berpotensi menulis biografi karena itu based on fact. Dan itu menuntut kesabaran saat wawancara. Harus punya napas panjang karena dilakukan puluhan hingga ratusan kali kepada satu orang yang sama. Di dalamnya ada perjuangan mengenali batin dan mood yang berubah-ubah. Jadi menulis biografi itu mirip psikiater. Juga membuat satu pola skenario yang runtut. Ketika mau membuat biografi, film itu sudah ada di kepala kita, bukan di kepala dia. Karena nyaris tak ada satu pun orang yang akan kita tulis biografinya mengerti apa itu biografi.

Ada pengalaman soal itu?

Saat bikin (buku) Probosutedjo, di kepala gue sudah muncul harus ada cerita bahwa dia anak tiri atau bukan, bagaimana ketika Pak Harto jadi jenderal, bagaimana saat kejadian PKI, ketika sudah kaya berubahkah sikapnya. Skenario itu sudah ada di kepala kita. Dia yang harus kita giring ke cerita itu. Yang salah persepsi dari menulis biografi itu adalah dengan mewawancarai sebanyak-banyaknya dan “memasak” dengan pusing setelahnya. Kalau saya, membuat satu buku yang menyederhanakan dan mendefinisikan biografi itu dengan spesifik dan tajam. Ini akan menghasilkan biografi efektif.

Bagaimana kiatnya?

Ini bergantung pada style kita nulis. Sebenarnya ini bukan karena aku jago nulis atau tidak. Semua orang akan bisa. Cuma the way-nya karena ketika kita nulis tentang apa saja dari narasumber, di situlah awal kecelakaan muncul. Karena kita tidak lagi memasak pikiran pembaca. Pembaca itu harus kita olah, yang nikmatnya itu di mana saja.

Bagaimana proses penulisan?
Ini (pekerjaan) merangkai kata. Tapi anak buah gue banyak, (ada) yang transkrip (wawancara). Misalkan Probosutedjo bicara tentang penyelewengan hutan, anak buah gue lari ke Kompas, cari (artikel-artikel) penyelewengan hutan. Yang sifatnya database, aku dicariin. Tapi, wawancara, aku (lakukan) sendiri. Napas pun mempengaruhi cara dia bercerita. Aku tidak yakin orang bisa bikin biografi tanpa dia yang mewawancarai sendiri.

Sebenarnya satu biografi itu berapa lama pembuatannya?

Rata-rata buku biografi yang padat wawancara intensif, empat bulan. Kalau bisa, dua hari sekali ketemu. Tapi kadang-kadang, karena aku punya kemampuan switch yang tinggi, maka aku bisa melakukan beberapa hal sekaligus.

Ada cerita unik saat mewawancarai orang yang dibuat biografi?
Yang menyenangkan adalah kita menjadi orang yang sangat intim. Itu luar biasa. Sama Bu Ani, aku dianggap anak. Pak Probo menganggap gue cucu. Sama Krisdayanti, aku sahabat. Dia menceritakan apa yang dia sembunyikan pada kita. Membuat biografi juga memungkinkan gue dekat sama orang-orang yang gue kagumi. Tapi ada juga yang aku tolak.

Apa alasannya menolak?
Kehidupannya datar. Aku bisa melihat, riset, mempelajari. Aku juga bisa curiga orang ini hanya mau nulis yang bagus-bagus saja. Di buku KD (Krisdayanti), aku tulis bagaimana dia operasi plastik, (terlibat) narkoba. Itu susah. (Saat) buku itu selesai, aku bisa tidur nyenyak, tapi KD belum tentu bisa tidur nyenyak kalau diserang orang.

Di situlah fungsi biografi, ketika orang belajar dari nothing menjadi something, dari rusak menjadi benar. Kalau unsur ini tidak ditunjukkan, biografi tidak ada nilainya.

Ada kritik bahwa Anda kurang gereget menulis biografi Ani Yudhoyono?
Orang berharap saya mengungkap apa yang terjadi sekarang ini. Kritik terbesarnya adalah apakah Bu Ani menjadi pendikte. Karena orang berharap itu yang dibaca, lalu orang merasa, “Aduh, ini tidak ada.” Padahal kalimat pertama Bu Ani ketika memanggil saya, “Albertheine, saya ingin kamu menulis bagaimana ayah saya membesarkan saya.” Itu saja, dia ingin sekali ada buku tentang Sarwo Edi Wibowo. Sampai mati tidak ada buku tentang beliau. Semua data Sarwo Edi hilang, termasuk di Kopassus. Enggak tahu siapa yang mengambil. Kata Bu Ani, Sarwo Edi telah membuat catatan tetapi tidak selesai keburu meninggal tahun 1989. Jadi Bu Ani itu berutang.

Seberapa susah menghadapi Bu Ani?
Protokolernya. Dia narasumber yang profesional. Ketika kita duduk pertama kali, dia sudah mengerti bahwa mulai detik itu dia harus mulai cerita. Runtut ceritanya.

Bu Ani happy?
Sangat happy. Ibu Ani sangat terbuka, paling sedikit wawancara dua jam. Dia pencerita yang lugas, terus-terusan sampai lupa makan. Kita kan wawancaranya di Cikeas, Istana Negara, Tampak Siring, Tawangmangu, dan Aceh. (Dia) orangnya sangat intimate, mengelus-elus punggung, kepala, (tertawa) ngakak. Bu Ani yang aku kenal secara empat mata adalah Bu Ani yang menarik. Makan pakai tangan, ngelawak.

Berapa lama pembuatan buku Bu Ani?
Wawancara setahun lebih. Udah enak-enak neh, tiba-tiba ada bom Marriott, panik dan stres. Mulainya dari awal 2009. (Ketika) pemilu, berhenti lama. Setelah selesai pemilu, enggak ketemu lagi.

Pernahkah narasumber bosan saat bertemu dengan Anda?

Rata-rata kebalikan. Justru repot kalau narasumber merindukan kedatangan kita. Itu yang menarik dari biografi. Setiap orang menemukan kelegaan ketika berhasil menceritakan apa yang dia sembunyikan, termasuk Bu Ani. Kalau sudah sampai di situ, kita sudah berhasil menguasai hati dia. Tapi risikonya Anda akan dirindukan. Narasumber menceritakan pengalaman paling menyedihkan, itu seperti lagi healing. Itu diakui oleh narasumberku.

Sepertinya Anda makin menguasai ilmu psikologi, ya?
Saya lebih sabar gara-gara bikin biografi. Makin dewasa. Gue makin memahami Anang. Katanya, “Kehilangan cinta Yanti buat saya sakit, tapi saya bisa melupakannya. Tapi, melihat karier dia jatuh, saya tidak bisa terima. Saya itu one of sutradara yang membuat dia sukses.” Buat gue, itu satu kalimat touchy.

Buku tentang KD terlihat dia sangat jujur, tapi begitu terbit muncul kabar perceraian. Anda merasa tertipu?
Nah, itu mau gue jelasin. No, saya tidak merasa tertipu. Bahwa ketika saya menulis, benar bahwa mereka harmonis. Bahwa mereka sering cekcok, itu iya. Buku itu dibuat, gue dikepit oleh Anang dan KD. Artinya, selama wawancara, Anang tak pernah jauh dari gue. Anang akan membenarkan kalau KD salah. Bahkan saya ingat, ketika Anang pulang dari studio rekaman, si KD ngomong begini, “Jadi Mbak, operasi (plastik) itu belekannya segini.” Lalu Anang ngomong, “Mi, benar kamu mau cerita?” Dijawab, “Iya, Mas.” “I love you, Mimi.” “I love you, Pipi.” Jadi tidak benar kata orang buku itu sudah membuat Anang-KD cerai.

Anda tahu kejadiannya?
Nah, pada saat pembuatan buku, KD mendapatkan order nyanyi dari Timor Leste. Saya ingat itu terjadi Mei 2009. Buku itu jadi, di-launching Juni. Bahwa di bulan Juni KD lalu ketemu Raul, di atas kuasa tangan gue. Jadi itu buku yang sangat jujur, but something happened di bulan Juni. Bahkan Anang sendiri masih tidak percaya kejadian itu. Jadi saya minta kepada Anang ketika mau bikin buku itu. Mas, saya minta bab pertama cerita tentang apa yang terjadi di bulan Juni. Itu utang saya kepada pembaca buku KD.

Apa sih artinya menjadi penulis biografi?
Mudah-mudahan apa yang aku lakukan setahap demi setahap, walaupun banyak ketidaksempurnaan, mampu memberikan khazanah. Setelah ini banyak penulis bagus, alhamdulillah. Biografi di Indonesia itu sepi. Makanya kalian bikinlah, jadi kita bisa compare, saingan sehat. Ini dunia yang butuh pemain baru.

Anda dulu bercita-cita jadi penulis?
Tidak. Saya terima kasih pada Tuhan, saya selalu punya mimpi yang saya gigih mencapainya.

Pencapaian apa yang masih ingin dikejar?

Kalau biografi, saya ingin Anggun. Itu satu-satunya orang yang ingin aku kejar. Karena semua, orang meminta, bukan aku yang minta. Tapi, karena beda negara, agak susah. Christine Hakim termasuk juga yang aku mau. Ramos Horta dengan sangat menyesal kejegal Bu Ani, tidak saya lakukan. Padahal kita sudah meeting dua kali.

Apa perbedaan saat menjadi jurnalis dan sekarang jadi penulis?
Kalau jurnalis bekerja base on perintah. Kadang-kadang ada sesuatu yang cocok dan tidak cocok. Tetapi, ketika menjadi penulis, kita membawa roh kita semua mengerahkan seluruh passion kita.

Total sudah berapa buku yang Anda tulis?
Empat belas biografi, novel sembilan. Novel pertamaku dapat penghargaan juara nasional Adikarya Award. Judulnya Jangan Beri Aku Narkoba. Lalu difilmkan, yang dibintangi oleh Cornelia Agatha. Tahun 2004, film itu menang di Bali Movie Award.

Di luar menulis, apa pencapaian yang lain?
PH (production house). Saya tidak asing di dunia ini. Saya ingin memperbaiki wajah FTV di Indonesia dengan cerita-cerita bermutu. Masak seh saya dan kawan-kawan tidak bisa membuat cerita yang bermutu. Bahkan Amin Suryadi mau bantuan saya.

Apa lagi yang ingin diraih?

Sekarang sedang kursus English writing. Saya ingin mencoba menulis di luar negeri. Saya ingin menulis tokoh dunia, banyaklah, Madonna. Kalau kita membaca tulisan orang luar negeri, tulisan mereka sederhana. Bahkan saya baca Laura Bush, Hillary Clinton, sederhana biografinya. Kita bisa karena kita complicated cara apresiasinya.

Keinginan lain?
Saya ingin membuat sekolah menulis gratis. Dulu, sebelum bertemu suami, saya ingin hidup melajang. Tinggal di flat kecil di London. Buka jendela, minum kopi sambil ngegodain cowok-cowok (tertawa).

Belajar dari Sang Legenda

Dari semua tokoh terkenal yang dibuatkan biografinya, nama legenda pop musik Indonesia, Chrisye, yang membuat Alberthiene Endah paling bergetar. “Saya belajar bagaimana (membuat) biografi dengan pendekatan hati,” kata AE–panggilan akrabnya–pada Kamis pekan lalu.

Dalam proses pembuatan biografi Chrisye: Sebuah Memoar Musikal itu, AE mengaku, “Kadang-kadang wawancara sejam hanya untuk mendengarkan dia nangis. Itu adalah wawancara paling jujur yang pernah saya rasakan.” Buku itu diluncurkan pada Februari 2007, sebulan sebelum pemilik nama asli Raden Christian Rahadi ini wafat pada 30 Maret karena kanker paru-paru.

Menurut AE, saat wawancara berlangsung pada 2006, Chrisye sudah mengetahui bahwa usianya akan berakhir paling lama Desember 2006. “Bagaimana Anda mewawancarai seseorang yang beberapa bulan lagi mati dan orang itu tahu,” katanya.

Selama berinteraksi dengan Chrisye, AE mengetahui semua perasaan Chrisye. “Dia ketakutan, marah sama Tuhan kenapa karier dan hidupnya berhenti seperti ini.” Pada Agustus, semangat hidupnya terlecut kembali. Saat itu Chrisye mengungkapkan bahwa prediksi dokter tentang waktu kematiannya itu justru sebuah kehormatan dari Tuhan, yang memberinya kesempatan memperbaiki kesalahannya selama hidup.

Yang membuat AE takjub, demi menunggu buku itu diluncurkan, Chrisye sanggup bertahan. “Kata Yanti (istri Chrisye), dia nangis terus baca buku itu,” ujar AE. Daya hidup ini juga mengherankan para dokter Chrisye di Singapura. “Itu luar biasa bagi batin saya, makanya saya membuat The Last Words of Chrisye.” Buku yang mulai diluncurkan pada April tahun lalu itu mengungkapkan curahan hati dan perenungan hidup sang legenda.

ISTIQOMATUL HAYATI | HADRIANI PUDJIARTI

BIODATA

NAMA:
Rr Alberthiene Endah Kusumawardhani Sutoyo

KELAHIRAN:
Bandung, 16 September 1970

SUAMI:
Dio Hilaul

PENDIDIKAN:
l Sarjana Sastra Belanda Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1994)

PEKERJAAN:
Penulis buku, penulis skenario, novelis, pengusaha

KARYA BIOGRAFI:
(Telah menghasilkan 9 novel dan 14 biografi)
l Seribu Satu KD (2003)
l Panggung Hidup Raam Punjabi (2004)
l Anne Avantie: Aku, Anugerah dan Kebaya (2007)
l Chrisye: Sebuah Memoar Musikal (2007)
l Titiek Puspa: A Legendary Diva (2008)
l Catatan Hati Krisdayanti – My Life, My Secret (2009)
l Jejak Batin Jenny Rachman: Kutemukan Ridha-Nya (2010)
l The Last Words of Chrisye (2010)
l Memoar Romantika Probosutedjo: Saya dan Mas Harto (2010)
l Ani Yudhoyono: Kepak Sayap Putri Prajurit (2010)

PENGHARGAAN:
l Juara pertama Adikarya Award Ikapi melalui novel Jangan Beri Aku Narkoba (2005)
l Nomine Penulis Skenario Terbaik FFI lewat I Know What You Did on Facebook (2010)
l Nomine Penulis Skenario Terbaik FFI kategori FTV lewat Supermodel (2007)

*) Tempointeraktif, 2 Januari 2011

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan