-->

Kronik Toggle

Zen RS: "Esei Paling Hebat yang Pernah Ditulis adalah Teks Proklamasi"

YOGYAKARTA–Esei paling banyak mengubah banyak hal yang ditulis dalam bahasa Indonesia adalah teks Proklamasi. Ini esei paling punya daya gugah dan daya pukau. Teks proklamasi hampir dipastikan menjadi puncak penulisan esei dalam sejarah kesusasteraan Indonesia.

Demikian dikatakan penulis esei Zen RS di hadapan peserta pelatihan penulisan Sejarah Kampung dan Seabad Pergerakan Islam di Indonesia di Perpustakaan Indonesia Buku, Yogyakarta (20/11).

Bagi Zen, Indonesia tak hanya diperjuangkan oleh gerakan bersenjata, oleh tentara. Bukan pula riset-riset yang sangat ilmiah, rigid, dan kaku. Sebagiannya adalah diperjuangkan dan dikampanyekan lewat esei. “Kita punya banyak stok pendiri Republik ini adalah tokoh-tokoh penulis esei yang terkemuka. Sebutlah itu Hatta, Sukarno, Sjahrir, Tan Malaka, Misbach, Natsir, Tjipto, Kasman, dan seterusnya,” simpul Zen.

Pernyataan-pernyataan Zen RS itu mengemuka tatkala memberikan definisi-definisi yang cair tentang esei. Jika Sutardji Colzoum Bahri mengatakan bahwa teks sumpah pemuda adalah puisi, maka bagi Zen RS teks proklamasi adalah esei paling gemilang.

Esei adalah bentuk penulisan yang bertendensi melakukan “coba-coba”. Lantaran itu berada di tengah dua kutub ekstrim bentuk penulisan. Esei ada di antara kutub penulisan ilmiah dan penulisan puisi. “Tulisan yang bukan puisi dan bukan tulisan ilmiah itulah esei. Sebut saja opini di surat kabar, kolom di majalah, tajuk rencana, catatan harian, pamflet pernyataan sikap, ulasan buku, dan seterusnya,” kata jebolan seajarah Universitas Negeri Yogyakarta ini.

Penulisan ilmiah seperti skripsi, tesis, ataupun disertasi adalah penulisan yang sangat jelas, baik prosedur maupun metode yang dilakukan. Tak boleh ada keraguan dan kesimpulan yang tak pasti dalam penulisan ilmiah. Adapun puisi justru ekstrim yang sebaliknya.

Esei mengambil dasar dari penulisan esei, yakni faktual, memberi penghormatan pada objektivitas, tapi di saat yang sama bisa sangat subjektif dan disajikan dengan gaya prosa dengan tendensi mencoba mencari makna baru.

Tapi bukannya esei tanpa batasan. Jika pun ada batasan, itu sangat terkait dengan medium apa yang digunakan untuk penulisan itu. Jika ia buku, maka esei itu bisa sangat panjang, seperti Madilog Tan Malaka atau Memoir Hatta. Jika ia artikel, maka sangat bergantung pada gaya koran yang memuat dan jumlah kata yang diperkenankan dalam koran itu.

Dengan dasar pengertian itulah Esei Sejarah dituliskan. Yakni, esei yang topiknya berkenaan dengan fakta-fakta sejarah dengan pola penulisan yang longgar. (GM/IBOEKOE)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan