-->

Lainnya Toggle

Yogyakarta Menulis (Sejarah) Kampungnya

KARTU IBOEKOE_Muhidin M DahlanOleh: Muhidin M Dahlan

Kita mulai saja dari Kinahrejo. Dusun yang terletak di kaki Merapi ini luluh lantak diterjang awan panas. Kalender 26 Oktober 2010, tak hanya mencatat sebagai hari wafatnya Mbah Maridjan, tapi juga rubuhnya sebuah dusun yang menjadi kawasan bersemayamnya kearifan lingkungan. Kinahrejo telah menjadi putih di peta Merapi. Ia meninggalkan mitos besarnya yang dengan itu periset asal Prancis Elizabeth D Inandiak menyambanginya dan menuliskannya dalam buku The White Banyan.

Tak hanya Kinahrejo, tapi juga Dusun Kaliadem, dan dusun-dusun lainnya yang mendekap Merapi, secara serentak di Selasa sungsang itu kehilangan raga, dan bahkan menjadi nisan putih untuk selanjutnya terlupakan.

Termasuk di sini adalah Dusun Gemar, Kecamatan Dukun, Magelang. Dusun ini, yang pada 23 April 2010, memperingati Hari Buku Internasional dengan marak, mesti kehilangan; bukan hanya buku-buku yang dibanggakan dari dusun tertinggi, namun juga kehilangan dusunnya sekaligus.

Foto halaman muka Kedaulatan Rakyat edisi 24 April yang merekam pesta buku di Dusun Gemar itu tampak seperti nekrologi yang memilukan; seorang seniman berwajah putih terlihat tengah menunduk di hadapan tumpukan buku yang perlahan memudar putih di atas tanah yang serba putih.

Dan tiba-tiba saja semuanya menjadi anonim. Sekejap. Semuanya. Tanpa terprediksi. Sebagaimana nasib kampung-kampung di Indonesia.

Kampung-Kampung Anonim

Dalam bentangan kawasan, jumlah kampung (baca desa) di Indonesia kurang lebih 75.000 dari 13.000 pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Rote yang digarisi oleh pantai 95.181 kilometer (km). Dan dari jumlah itu, sekira 32.379 desa dikategorikan tertinggal. Suatu jumlah yang sangat besar.

Yang menarik, nyaris tak ada data yang menginformasikan jumlah kampung yang tak bernama. Semuanya punya nama. Tapi memiliki nama tak berarti memiliki sejarah yang utuh. Sebuah kampung yang memiliki cerita, tuturan, dan silsilah. Tatkala kampung tak punya cerita, tuturan, dan silsilah hidup, ini hanya menambah rentetan pandangan antropologis dan politik sebelumnya bahwa di mana-mana, orang-orang kecil atau warga biasa tak punya hak untuk memiliki kisah yang menjadikannya hero.

Inilah bias pertama penulisan sejarah selama ini yang hanya berbuhul pada ego-ego tertentu dan tempat-tempat tertentu. Dan ini diproduksi secara massal oleh pendidikan di mana murid-murid Pulau Rote atau Sabang dipaksa mengetahui sejarah Diponegoro ketimbang sejarah orang tua atau tetangga atau kisah-kisah yang bisu yang pernah berlangsung di kampungnya

Lantaran itulah, budayawan, rohaniawan sekaligus sastrawan Y.B. Mangunwijaya suatu ketika dan berkali-kali dalam kesempatan yang berbeda begitu gusar melihat bagaimana salah kaprahnya pelajaran sejarah yang merupakan cerminan dari kesalahan persepsi menciptakan kepercayaan diri yang kuat terhadap angkatan muda yang dilahirkan di sebuah kampung.

Tanpa sejarah bagaimana mereka bercerita. Tanpa diajarkan bagaimana mereka mengenal tanah tumpah darahnya di kampungnya sendiri, bagaimana mereka mengenal tanah air bangsanya secara nasional.

Ini kehancuran basis pertama. Kehancuran kebanggaan dari tenaga-tenaga produktif tanah di mana berpijak. Kehilangan tenaga produktif kemudian menjadikan kampung kehilangan harapan. Tatkala kampung kehilangan harapan, saat itulah tumbuh benih perusak, yakni kriminalitas yang diakibatkan bantalan kreativitas dan kesempatan meraih alternatif tergerus, disusul timpangnya pendapatan ekonomi lantaran godaan konsumsi yang meluber, dan kohesi sosial pun tercabik.

Mencatat dari Dalam

Mestilah diusahakan suatu ikhtiar yang kuat untuk memberi makna pada ruang-ruang yang anonim yang jumlahnya ribuan itu. Dan itu mestilah dilakukan oleh warga sendiri. Pencatatan dari dalam. Sebab sudah lama pemerintah datang ke kampung-kampung saat Pemilu tiba, saat musim sensus penduduk 10 tahun sekali. Dan yang sedikit lebih baik, membuatkan toponomi dengan informasi sejarah setiap kampung yang secuil. Kita tahu, tenaga pemerintah sangat kurang melakukan ini. Tenaga akademisi lebih sedikit lagi.

Dan pada mula-mulanya ini adalah soal kesadaran. Kesadaran memberi makna dan perspektif baru di mana warga berpijak, bernapas, dan melakukan kerja rutinnya tiap hari. Kita sudah memiliki banyak contoh, bahwa kampung masa depan adalah kampung yang memiliki kekhasan. Kekhasan itu menjadi penunjuk jalan awal untuk pengenalan. Atau bisa juga simulasi permukaan untuk bisa masuk ke informasi yang lebih sublim. Dan “kekhasan” adalah hanya cara pilihan yang ditimba dari kreativitas.

Karena itu, kita mengenal kampung-kampung dengan sebutan yang unik. Misalnya, Kampung Cyber (Yogyakarta), Kampung Telematika (Yogyakarta), Kampung Seni (Nitiprayan, Yogyakarta), Kampung Buku (Magelang), Kampung Bahasa (Pare), Kampung Pengemis (Depok dan  Madura), Kampung Penyesalan (buatan Lembaga Pemasyarakatan dari Dephukham), juga Kampung Janda (Aceh).

Program penulisan Sejarah Kampung tak membebani diri untuk mencari nama baru bagi kampung, tapi mengail lebih dalam dan jauh apa sesungguhnya yang terjadi dalam kampung itu, mulai dari sejarah masa lalu yang bisa diingat oleh warganya, hingga potensi ekonomi, kekuatan sosial, simpul-simpul budaya, kekhasan kuliner, maupun kehidupan orang-orangnya dalam menjaga kelangsungan hidup kampung itu.

Kerja seperti inilah yang pernah dilakukan Komunitas Kreatif “tandabaca” di Ketangi, Kelurahan Playen, Banyusoco, Gunung Kidul, Yogyakarta. Dengan menggandeng warga sebagai subjek yang menuliskan sendiri sejarah kampungnya, kini Kampung Ketangi bukan lagi kampung tanpa nama, tanpa cerita, tanpa silsilah.

Kisah tentang kampung ini bisa dibaca dalam buku yang berharga: Pelangi di Ketangi. Buku itu berisi hal-ihwal soal Ketangi, seperti (1) Asal Usul Kampung, (2) Bangunan dan Rumah (Arsitektur), (3) Kegiatan Utama Warga, (4) Tokoh dan Matapencahariannya, (5) Makanan dan Obat-obatan, serta (7) Bahasa atau istilah khas yang dipakai oleh warga dalam berkomunikasi.

Kerja serupa juga dilakukan oleh seniman mural di Yogyakarta, Jogja Mural Forum (JMF), ketika mereka menyerbu 16 kampung di Yogyakarta dengan program “Kode Pos Art Project”. Di kampung-kampung itu, mereka melakukan kolaborasi dengan pemuda-pemuda kampung membuat sign art/plang.

Menurut Samuel Indratma, berbeda dengan mural yang sifatnya massif, pembuatan sign art lebih menantang dan sedikit rumit sehingga tak semua warga bisa terlibat. Dibutuhkan seorang “seniman” yang cukup menguasai bahan, desain, untuk membuat plang yang unik. Warga diajak untuk hal lain. Misalnya, pemetaan ruang mana yang penting dan tidak penting untuk ditandai dengan sign tertentu.

Artinya, gerakan sign art ini adalah siasat seniman publik untuk membuka potensi warga setempat dalam bentuk kegiatan yang yang berkaitan dengan seni rupa yang dibutuhkan lingkungan sekitar mereka. Kisah mereka kemudian dipamerkan di  Jogja National Museum dengan tajuk “0274 Art Project, Kompilasi Proyek Seni Tanda Mata dan Kode Pos”.

Nah, momentum rebahnya kampung-kampung yang mengelilingi Merapi dikeharibaan samudera abu, bisa kita jadikan sebagai tapal kesadaran awal bagaimana penulisan sejarah kampung mestilah menjadi gerakan bersama. Gerakan yang menggugah untuk lahirnya cara perpikir historis. Bahwa semua tak ada yang kekal, kecuali yang tertuliskan.

Cerita Pohon Ringin Putih dan Batu Gajah yang berada di Kinahrejo boleh saja terbakar dan terjungkat, tapi memori tentangnya tak akan pernah terhapus dari buku Elizabeth D Inandiak, The White Banyan.

Sumber: Kedaulatan Rakyat, 14 November 2010 (Tulisan ini, bersama Puisi dan Prosa yang dimuat di harian Kedaulatan Rakyat honorariumnya dimasukkan ke Dompet KR untuk Merapi)

[Catatan: Indonesia Buku bersama Angkatan Muda Kampung Patehan sedang mengerjakan Program Belajar Bersama menulis “Sejarah Kampung”]

1 Comment

Chepy - 15. Nov, 2010 -

Apresiasi nan elok Mas Muhidin,,semoga kenangan terhadap kearifan lokal masyarakat lereng merapi takkan lapuk dilekang zaman…

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan