-->

Kronik Toggle

Tiga Kesalahan Periset dalam Pengumpulan Sumber Sejarah

YOGYAKARTA–Filsuf Cicero bilang sejarah adalah guru kehidupan. Sejarah adalah cerminan masa depan. Namun yang ironis justru pelajaran sejarah bisa memaksa sejumlah siswa mengantuk. Bahkan bakal dihilangkan dari kurikulum mata pelajaran.

Sebabnya mengapa antara harapan Cicero dan kenyataan di lapangan bisa bertubrukan lantaran penulisan sejarah dan sumber-sumber sejarah yang digunakan terlalu holisme, terlalu umum. Mutar-mutar di situ saja. Pada periodesisasi. Penanggalan. Peristiwa politik. Tidak manusiawi. Begitu-begitu saja. Tak ada unsur dramatik yang manusiawi. Padahal dimensinya jauh lebih luas dari itu kalau peneliti sejarah kita mau bekerja keras mengumpulkan sumber yang unik dan spesifik.

Nyaris di buku pelajaran sejarah tak ada peristiwa, misalnya, bagaimana spirit Inggit Garnasih ketika membela habis-habisan Sukarno yang berusia muda, menyelundupkan buku-buku dalam penjara, dan kemudian dicampakkan. Atau kisah bagaimana Hatta terjebak dengan seorang perempuan cantik dalam sebuah jeep. Lalu jeepnya mogok di jalanan yang lengang. Sambil menunggu jeep dicarikan bensin oleh sang sopir, perempuan cantik dan Hatta duduk berjauhan. Hal-hal yang manusiawi seperti itu nyaris hilang dalam dimensi sejarah yang kita ketahui. Makanya sejarah itu bikin ngantuk. Isinya tanggal melulu. Periodesisasi melulu.

Demikian dikatakan penulis dan peneliti sejarah Ade Ma’ruf di hadapan peserta pelatihan penulisan Seabad Pergerakan Islam di Indonesia di Perpustakaan Indonesia Buku, Yogyakarta (20/11).

Holisme, bagi alumni Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta ini adalah kesalahan peneliti atau penulis sejarah yang kerap ditemukan. “Apa menariknya sejarah Proklamasi 45 jika sumber yang kita pakai adalah Sejarah Indonesia Jilid 3. Pastilah kesimpulan yang didapatkan adalah hal-hal umum. Tak ada uniknya. Anak-anak SMP saja memakai sumber itu,” kata Ade.

Kesalahan kedua adalah sikap pragmatis. Maunya peneliti enaknya saja. Sumber-sumber pokok tidak disentuh dan dikejar, tapi yang sampingan dipakai. Sumber primer tak dilacak, tapi sumber sekunder bahkan tresier dijadikan tiang penulisan.

Peneliti sejarah fusi Partai Persatuan Pembangunan tahun 1970-an ini kemudian memperingatkan jangan lantaran malas meneliti kemudian bertumpu pada sumber-sumber di internet yang diragukan validitasnya. “Bagi saya, sumber di internet hanya pemandu awal, bukan pokok. Saya sangat tak merekomendasikannya. Itu sumber sekunder. Bahkan tresier malah,” tegas Ade.

Kesalahan ketiga adalah terjebak pada sumber yang kuantitatif, pada angka-angka yang tersedia yang tak dikritisi. Padahal, misalnya, di zaman mataram kuno, pengukuran tanah sangat berbeda dengan pengukuran tanah yang kita tahu saat ini. Dulu, ada sistem jung. Nah, bagaimana kita memberikan analitis pada ukuran itu. Bagi yang hanya mengambil permukaan saja, tak ada penjelasan yang naratif, bandingan-bandingan. Percaya begitu saja pada angka-angka yang tertera.

Kesalahan ketiga menurut Ade, adalah watak estetis. Selalu mengedepankan pada sikap suka atau tak suka. Jika ia sepakat dan sejalan dengan muatan terhadap sumber maka si peneliti mengambilnya. Sebaliknya, jika tak sepaham, ia akan membuangnya. Tanpa ada alasan jelas dan argumentasi yang kukuh kenapa memilih sumber ini dan menyingkirkan sumber itu. Ini kesalahan estetis yang kerap menyergap peneliti sejarah dalam memperlakukan sumber. (GM/IBOEKOE)

2 Comments

Nursam - 23. Nov, 2010 -

Bidikan Ade Ma’ruf di atas menunjukkan kapasitasnya sebagai penulis dan peneliti sejarah. Dan itu menggambarkan kualitas seorang Ade. Kualitas ini kudu dijaga dan dikembangkan terus (Untuk Ade: senang membaca pendapatmu di atas. Jaga kesehatan ya, Bung!)

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan