-->

Kronik Toggle

Sejarawan itu adalah Penulis Sejarah. Bukan Pengajar. Bukan Penikmat

JAKARTA – Istilah sejarawan digunakan untuk menyebut orang yang menulis sejarah, bukan pengajar atau penikmat sejarah. Ada beberapa hal penting yang akan sangat memengaruhi seseorang dalam menulis naskah-naskah sejarah.

Demikian diungkapkan Prof Dr Djoko Marihandono dalam pidato ilmiahnya berjudul ”Menjadi Sejarawan Profesional: Kajian Tentang Sumber Sejarah dan Metodeloginya”. Pidato tersebut disampaikan pada acara pengukuhannya sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Rabu (3/11/2010), di Balai Sidang UI, Depok.

Djoko mengatakan, sebagai orang yang menulis sejarah, diperlukan tiga kemampuan yang sangat berpengaruh pada perkembangan keilmuan, yakni kemampuan berbahasa asing, pemahaman akan sumber dan pengembangan metodologi.

“Menguasai berbagai macam bahasa akan membuka cakrawala sejarawan menjadi lebih luas dan lebih tajam, khususnya dalam memahami sumber sejarah, dalam hal ini arsip,” kata Djoko dalam pidato ilmiahnya berjudul ”Menjadi Sejarawan Profesional: Kajian Tentang Sumber Sejarah dan Metodeloginya”.

Berbagai macam arsip yang telah diterbitkan (leksikografi) menunjukkan, betapa kayanya khazanah arsip yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan semua aktivitas bangsa Indonesia di Nusantara. Sementara itu, lanjut Djoko, kemampuan menerapkan metodologi dalam analisis historis merupakan ketrampilan yang harus terus diasah.

Djoko mengungkapkan, sejarawan sangat menyadari bahwa tidak ada satu karya sejarah yang steril dari pemikiran orang lain. Metodologi struktural dengan berbagai bidang pengembangan dan penerapannya akan membawa perbaikan dan penajaman analisis.

“Untuk mencapai kondisi ini diperlukan komparasi dan kontekstualisasi masa lampau dalam upaya memahami kekinian yang menjadi tujuan analisis mereka,” ujarnya.

Dengan demikian, kata dia, kemajuan ilmu pengetahuan dapat terus diikuti perkembangannya dan diupayakan untuk diterapkan. Belajar sambil berbuat merupakan metode yang selama ini dianggap ampuh untuk memahami teori ataupun konsep yang baru.

Sumber: Kompas.Com, 3 November 2010, “Jadilah Sejarawan yang Profesional, Ok?”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan