-->

Kronik Toggle

'Ndok', 'Neng', Perempuan Penghibur Jawa dan Sunda di Bahasa Kreol Sawahlunto

‘Ndok’, ‘Neng’, Pelacur Jawa – Sunda di Tansi Buruh Tambang Sawahlunto
YOGYAKARTA — Munculnya panggilan ‘Ndok’, ‘Neng’ dalam bahasa Tansi menandai dua hal. Yakni, hadirnya Jawa dan Sunda dalam bahasa kreol buruh tambang. Kedua, istilah ‘Ndok’ dan ‘Neng’ itu merupakan penyebutan untuk pelacur yang melayani kehidupan biologis para buruh tambang yang umumnya laki-laki.
Demikian dijelaskan Elsa Putri Ermisah Syafril saat menjawab pertanyaan salah satu penguji, Prof Dr. Soepomo Poedjosoedarmo, dalam ujian terbuka doktoral program pascasarjana untuk studi linguistik UGM di Gedung R.M. Margono Djojohadikusumo, FIB, UGM (2/11).
‘Ndok’ dan ‘Neng’ adalah perempuan yang didatangkan sebagai pekerja seks. “Tapi ada perbedaannya. Yang ‘Ndok’ lebih tinggi derajat sosialnya ketimbang ‘Neng’. Mungkin karena dari Jawa,” kata Elsa.
Bahasa Tansi adalah bahasa yang berasal dari buruh tambang batubara di masa kolonial di Sawahlunto. Para buruh inilah yang menciptakan model bahasa kreol sejak kawasan ini menjadi kota tambang modern sekira seabad silam.
Para buruh itu didatangkan dari penjara-penjara di Batavia, terutama penjara Glodok dan Cipinang. Tahanan-tahanan tu antara lain berasal dari Jawa, Bali, Madura, dan Bugis. Juga didatangkan buruh kontrak yang berasal dari Jawa dan Cina lewat kongsi Singapura dan Penang, serta dari semarang, Batavia, dan Surabaya. (GM/IBOEKOE)

YOGYAKARTA — Munculnya panggilan ‘Ndok’, ‘Neng’ dalam bahasa Tansi menandai dua hal. Yakni, hadirnya Jawa dan Sunda dalam bahasa kreol buruh tambang. Kedua, istilah ‘Ndok’ dan ‘Neng’ itu merupakan penyebutan untuk pelacur yang melayani kehidupan biologis para buruh tambang yang umumnya laki-laki.

Demikian dijelaskan Elsa Putri Ermisah Syafril saat menjawab pertanyaan salah satu penguji, Prof Dr. Soepomo Poedjosoedarmo, dalam ujian terbuka doktoral program pascasarjana untuk studi linguistik UGM di Gedung R.M. Margono Djojohadikusumo, FIB, UGM (2/11).

‘Ndok’ dan ‘Neng’ adalah perempuan yang didatangkan sebagai pekerja seks. “Tapi ada perbedaannya. Yang ‘Ndok’ lebih tinggi derajat sosialnya ketimbang ‘Neng’. Mungkin karena dari Jawa,” kata Elsa yang dalam risetnya soal bahasa kreol ini mendapatkan pujian dari dewan penguji “sangat memuaskan”.

Bahasa Tansi adalah bahasa yang berasal dari buruh tambang batubara di masa kolonial di Sawahlunto. Para buruh inilah yang menciptakan model bahasa kreol sejak kawasan ini menjadi kota tambang modern sekira seabad silam.

Para buruh itu didatangkan dari penjara-penjara di Batavia, terutama penjara Glodok dan Cipinang. Tahanan-tahanan tu antara lain berasal dari Jawa, Bali, Madura, dan Bugis. Juga didatangkan buruh kontrak yang berasal dari Jawa dan Cina lewat kongsi Singapura dan Penang, serta dari semarang, Batavia, dan Surabaya. (GM/IBOEKOE)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan