-->

Kronik Toggle

Mengintip Ceruk Pasar Bisnis Toko Buku

Bisnis toko buku. Mendengar tiga kata itu disebut, tentu segera terbayang di benak: mustahil jalan. Apalagi pemain-pemain lama masih kuat bercokol bahkan makin kuat, sementara pemain yang relatif baru kian agresif berekspansi. Tapi ceruk pasarnya malah tambah menggeliat.

Tempatnya tak terlalu luas. Ada sedikitnya 12 meja yang masing-masing dikelilingi empat kursi. Di sisi timur air mancur buatan tiada henti mengguyur di sela pepohonan. Sedangkan sisi barat adalah lapangan parkir.

“Di sini nyaman, terbuka tapi tenang. Sejuk pula. Harga makanannya juga terjangkau. Itulah yang bikin saya betah berjam-jam nongkrong sambil baca buku,” kata Fauzia Fatchan, pegawai swasta yang kerap mengunjungi tempat tersebut, Mei lalu.

Tempat yang dimaksud adalah kafe di kompleks toko buku Petra Toga Mas di kawasan Pucang. Kenyamanan seperti yang dimaksud Fauzia tadilah yang membuat tiap hari nyaris seluruh kursi di kafe itu selalu penuh.

“Biasanya, tempat ini digunakan untuk diskusi para mahasiswa,” terang Wakil Store Manager Toko Buku Petra Toga Mas Eko Siti Sholihah.

Sambil membawa laptop, lanjut Eko, diskusi di kafe tersebut bisa berlangsung gayeng karena tersedia fasilitas wifi gratis. “Tempat ini juga favorit para anggota book club kami untuk ngobrol tentang buku,” ujar Eko.

Diskusi buku di kafe dan terbentuknya klub buku: itulah sebagian gaya hidup yang berkaitan dengan buku yang mulai terbentuk di Surabaya Timur. Itu tak lepas dari kian menjamurnya toko buku di kawasan tersebut. Hal tersebut wajar mengingat bagian timur Surabaya adalah sentra pendidikan. Data Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya menunjukkan bahwa 70 persen dari total mahasiswa di Surabaya berkuliah di sana.

Di area segiempat Kertajaya-Pucang-Ngagel-Manyar saja, setidaknya ada empat toko buku besar. Yang terbaru di Kapas Krampung Plaza (Kaza), berdiri Pasar Buku Indonesia Cerdas (PBIC). Itu belum termasuk jalur “indie”. Yakni, para aktivis mahasiswa yang berjualan buku dengan tema tertentu di selasar kampus atau di sekretariat organisasi mahasiswa.

Buntutnya, kelompok diskusi, klub buku, kegiatan bedah buku, dan seminar tentang buku pun bertumbuhan. Toko-toko buku juga berlomba untuk menjadi lebih dari sekadar tempat berjualan buku.

Jumlah Penerbit Membengkak

Komunitas dan gaya hidup terkait dengan buku memang mulai terlihat di PBIC. Menurut Dadang M.A., wakil pengelola PBIC, pihaknya memberikan keleluasaan kepada berbagai pihak untuk memanfaatkan ruang seminar, ruang baca, dan atrium sebagai tempat kegiatan yang berhubungan dengan buku. “Bedah buku mulai rutin dilakukan di sini,” kata Dadang.

PBIC yang bersistem grosir dan dikelola bersama antara IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) dan manajemen Kaza memungkinkan calon pembeli beraudiensi langsung dengan penerbit. Sebab, di tempat itu terdapat berbagai stan penerbit baik lokal maupun nasional

Mulai mengentalnya budaya buku di Surabaya, khususnya Surabaya Timur, juga tak lepas dari kian tingginya minat baca. Menurut Ketua Ikapi Surabaya Abdul Muiz Nahari, meningkatnya minat baca itu bisa dilihat dari bertambahnya jumlah penerbit di Kota Pahlawan ini.

“Empat tahun lalu, jumlah penerbit kurang dari 90. Sekarang jumlahnya sudah 107,” ungkapnya. “Otomatis, jumlah buku yang diterbitkan juga semakin banyak dan beragam,” lanjut dia.

Jenis buku yang banyak dipilih warga metropolis adalah yang mengupas keterampilan, motivasi, dan agama. Untuk buku pelajaran, umumnya sekolah masing-masing sudah memfasilitasi.

Namun, jika dibandingkan dengan kota pendidikan lain, seperti Jogjakarta maupun Bandung, Muiz mengakui bahwa Surabaya masih kalah. “Di sini kan lebih banyak tempat hiburan. Jadi, kebanyakan warga kota lebih memilih ke tempat hiburan daripada ke toko buku,” ucapnya.

Toko Buku Modern

Makin berkembangnya gaya hidup baca buku di Tanah Air, yang berarti ceruk pasar bagi bisnis toko buku, juga diakui Winfred Hutabarat. Karena itulah mantan wartawan ini bersama dua rekannya tak ragu menginvestasikan dana Rp 2 miliar untuk mendirikan toko buku Ak.’sa.ra di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pada 2001.

Lantaran memiliki pasar yang jelas, dia juga tidak khawatir dengan persaingan toko buku di masa depan. Winfred bahkan optimistis dapat memenuhi target, kembali modal dalam kurun waktu tiga sampai lima tahun.

“Para pembaca atau penghobi buku ini merupakan pangsa pasar tersendiri. Berapapun harga buku yang dicarinya pasti dibeli,” ujar Winfred, sembari menambahkan harga buku di tempanya mulai dari Rp 7.500 sampai Rp 1 juta.

Tapi bukan berarti tak perlu kiat khusus untuk mengaet pembeli. Kiat Winfred dan rekan-rekannya adalah mengubah image toko buku yang hanya menyajikan buku serta stationery menjadi toko buku berkonsep modern.

Di dalam toko bukunya itu, Winfred mendesain interiornya sedemikian rupa sehingga dapat memanjakan para calon pembeli. Toko buku Ak.’sa.ra dilengkapi  dengan ruangan khusus anak-anak lengkap dengan alat peraga dan permainannya. Belum lagi interior pendukungnya, menjadikan anak betah dan ingin berlama-lama dengan buku.

Selain itu, tiap awal bulan Ak.’sa.ra mendatangkan pendongeng atau pencerita untuk membacakan buku bagi anak-anak. Pihaknya juga pernah menampilkan musisi jazz Benny Likumahua manggung di tempatnya. “Kami ingin mengajak pelanggan bahwa toko buku bukan sekedar jualan, tapi ada apresiasi seni di dalamnya,” jelas Winfred.

Kemudian, di sini juga terdapat ruangan diskusi berupa seperangkat sofa dan meja. Bahkan di bagian depan rak-rak buku terdapat kursi sehingga membuat nyaman pelanggan. Menurut dia, masyarakat sudah bosan dengan gaya konservatif seperti toko buku yang ada sekarang. “Mencari buku membutuhkan waktu yang lama. Karena itu mereka harus diberi fasilitas senyaman mungkin agar tidak cepat lelah.”

Dengan demikian, sambungnya toko buku di masa depan setidaknya sama dengan beberapa toko buku terkenal di luar negeri. “Pelanggan akan merasakan seperti berada di rumah dan dapat membaca dulu bagian penting buku yang mungkin pada awalnya bukan target utama untuk dibeli.”

Sedangkan pelanggan yang dibidiknya adalah para pencinta buku. Winfred menjelaskan saat ini, peminatnya memang masih lebih banyak ekspatriat. “Mungkin karena letaknya di kawasan Kemang pasarnya lokalnya masih sedikit.” ins

*) Surabaya Post 23 November 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan