-->

Kronik Toggle

Karya Sastra Mengukuhkan Mitos

Karya Sastra Mengukuhkan Mitos
Senin, 8 November 2010 | 07:20 WIB
SHUTTERSTOCK
KOMPAS.com — Banyak bencana alam (tsunami, gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, banjir bandang, tabrakan kereta api, kapal tengelam, busung lapar, dan lain-lain) dihubung-hubungkan dengan kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan ada yang menganjurkan agar Presiden RI tersebut menyembelih kambing untuk tolak bala. Sesungguhnya hal itu merupakan lambang kebudayaan yang mengarah perlunya seorang pemimpin yang karismatik, sebagaimana yang diyakini masyarakatnya.
Guru Besar Ilmu Sastra pada Fakultas Bahasa Sastra dan Seni Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat, Hasanuddin WS, mengatakan hal itu berkaitan dengan mitos yang berkembang di masyarakat tentang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan bencana yang beruntun terjadi di masa kepemimpinannya.
“Satu di antara karismatik pemimpin adalah melalui kemampuan supernatural, misalnya mampu memvisi keadaan atau mempreduksi sesuatu yang bakal terjadi. Dengan demikian, masyarakat yang dipimpinnya akan mengakui kepemimpinannya dengan ikhlas (dalam tradisi kerajaan Melayu dikenal dengan istilah Daulat ),” katanya, menjawab Kompas, saat dihubungi di Padang, Minggu (7/11/2010).
Hasanuddin menjelaskan, kehidupan manusia, dan dengan sendirinya hubungan antarmanusia, dikuasai oleh mitos-mitos. Dalam teks-teks sastra lama, banyak ditemui mitos-mitos tentang keajaiban dan kesaktian yang dimiliki raja, permaisuri, pangeran, dan lain-lain. Sejalan dengan itu, menjadi hal tidak aneh jika pada banyak karya sastra lama ditemukan mitos yang mengukuhkan hal-hal yang telah dipercayai masyarakat karena tuntunan masyarakatnya memang demikian.
Tidak hanya di era Susilo Bambang Yudhoyono ada mitos. Pada era Presiden Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, dan Gus Dur juga berkembang mitos-mitos. Bung Karno telah diramalkan akan menjadi seorang pemimpin besar, karena sewaktu beliau lahir, Gunung Agung meletus sebagai suatu pertanda telah lahir seorang calon pemimpin besar. Soeharto dimitoskan sebagai pemimpin yang mumpuni melalui cerita-cerita heroik, serta digambarkan pula bahwa beliau seorang kejawen yang baik ilmunya. BJ Habibie dan Gus Dus juga diberitakan suka mengunjungi makam-makam orang terkenal untuk menambah kemampuan supernaturalnya.
Hasanuddin berharap, baik kepada peneliti dan penelaah sastra maupun kepada satrawan, kajian kemelayuan dan keindonesiaan sebaiknyalah menyatu dan sejalan dengan kajian terhadap persoalan tradisi, mitologis, dan transformasi budaya. “Hal itu akan memberikan informasi yang memungkinkan peningkatan dan pembinaan terhadap kemampuan berapresiasi sastra,” ungkapnya.
Sastrawan dan Guru Besar dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Sapardi Djoko Damono, pada acara Temu Sastrawan Indonesia III di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, akhir Oktober lalu, mengatakan, perhatian terhadap khazanah sastra lama sudah selayaknya ditingkatkan. Sebab, kekayaan itulah yang bisa memberi keyakinan bahwa kita tidak hidup sekarang saja, tetapi benar-benar ada sejak berabad-abad yang lalu.
“Sastra lama merupakan salah satu landasan keberadaan kita sebagai suatu bangsa. Perhatian terhadap sastra lama ini sangat bermanfaat untuk meneguhkan adanya tradisi penulisan dalam sastra Indonesia; di samping itu sastra lama juga merupakan sumber acuan penting bagi karya satra masa kini,” katanya.
Menurut Sapardi, sastra adalah seni bahasa, dan dalam hal ini bahasa adalah mitos, istilah yang lebih keren untuk dongeng. Dongeng dihasilkan oleh masyarakat untuk menjawab begitu banyak pertanyaan yang muncul ketika mereka menghadapi dan menjalani kehidupannya.
Penulis: Yurnaldi   |   Editor: Tri Wahono Dibaca : 860
http://oase.kompas.com/read/2010/11/08/07204927/Karya.Sastra.Mengukuhkan.Mitos-14

Banyak bencana alam (tsunami, gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, banjir bandang, tabrakan kereta api, kapal tengelam, busung lapar, dan lain-lain) dihubung-hubungkan dengan kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan ada yang menganjurkan agar Presiden RI tersebut menyembelih kambing untuk tolak bala. Sesungguhnya hal itu merupakan lambang kebudayaan yang mengarah perlunya seorang pemimpin yang karismatik, sebagaimana yang diyakini masyarakatnya.

Guru Besar Ilmu Sastra pada Fakultas Bahasa Sastra dan Seni Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat, Hasanuddin WS, mengatakan hal itu berkaitan dengan mitos yang berkembang di masyarakat tentang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan bencana yang beruntun terjadi di masa kepemimpinannya.

“Satu di antara karismatik pemimpin adalah melalui kemampuan supernatural, misalnya mampu memvisi keadaan atau mempreduksi sesuatu yang bakal terjadi. Dengan demikian, masyarakat yang dipimpinnya akan mengakui kepemimpinannya dengan ikhlas (dalam tradisi kerajaan Melayu dikenal dengan istilah Daulat ),” katanya, menjawab Kompas, saat dihubungi di Padang, Minggu (7/11/2010).

Hasanuddin menjelaskan, kehidupan manusia, dan dengan sendirinya hubungan antarmanusia, dikuasai oleh mitos-mitos. Dalam teks-teks sastra lama, banyak ditemui mitos-mitos tentang keajaiban dan kesaktian yang dimiliki raja, permaisuri, pangeran, dan lain-lain. Sejalan dengan itu, menjadi hal tidak aneh jika pada banyak karya sastra lama ditemukan mitos yang mengukuhkan hal-hal yang telah dipercayai masyarakat karena tuntunan masyarakatnya memang demikian.

Tidak hanya di era Susilo Bambang Yudhoyono ada mitos. Pada era Presiden Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, dan Gus Dur juga berkembang mitos-mitos. Bung Karno telah diramalkan akan menjadi seorang pemimpin besar, karena sewaktu beliau lahir, Gunung Agung meletus sebagai suatu pertanda telah lahir seorang calon pemimpin besar. Soeharto dimitoskan sebagai pemimpin yang mumpuni melalui cerita-cerita heroik, serta digambarkan pula bahwa beliau seorang kejawen yang baik ilmunya. BJ Habibie dan Gus Dus juga diberitakan suka mengunjungi makam-makam orang terkenal untuk menambah kemampuan supernaturalnya.

Hasanuddin berharap, baik kepada peneliti dan penelaah sastra maupun kepada satrawan, kajian kemelayuan dan keindonesiaan sebaiknyalah menyatu dan sejalan dengan kajian terhadap persoalan tradisi, mitologis, dan transformasi budaya. “Hal itu akan memberikan informasi yang memungkinkan peningkatan dan pembinaan terhadap kemampuan berapresiasi sastra,” ungkapnya.

Sastrawan dan Guru Besar dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Sapardi Djoko Damono, pada acara Temu Sastrawan Indonesia III di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, akhir Oktober lalu, mengatakan, perhatian terhadap khazanah sastra lama sudah selayaknya ditingkatkan. Sebab, kekayaan itulah yang bisa memberi keyakinan bahwa kita tidak hidup sekarang saja, tetapi benar-benar ada sejak berabad-abad yang lalu.

“Sastra lama merupakan salah satu landasan keberadaan kita sebagai suatu bangsa. Perhatian terhadap sastra lama ini sangat bermanfaat untuk meneguhkan adanya tradisi penulisan dalam sastra Indonesia; di samping itu sastra lama juga merupakan sumber acuan penting bagi karya satra masa kini,” katanya.

Menurut Sapardi, sastra adalah seni bahasa, dan dalam hal ini bahasa adalah mitos, istilah yang lebih keren untuk dongeng. Dongeng dihasilkan oleh masyarakat untuk menjawab begitu banyak pertanyaan yang muncul ketika mereka menghadapi dan menjalani kehidupannya.

Sumber: Kompas.com, 8 November 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan