-->

Resensi Toggle

Finding Forrester | Gus van Sant | 2000

Finding ForresterPemain: Sean Connery (William Forrester), Laurence Mark (Jamal Wallace)

Tulis Saja, Jangan Berpikir!

“Mulailah menulis, jangan berpikir. Berpikir itu nanti saja. Yang penting menulis. Tulis naskah pertamamu itu dengan hati. Barulah kemudian kau tulis ulang dengan kepalamu. Kunci utama menulis adalah menulis, bukannya berpikir.”

Itu pelajaran pertama Jamal Wallace dari seorang novelis pemenang Pulitzer yang hanya menerbitkan satu buku kemudian menghilang, William Forrester. Pelajaran itu menjadi sabetan pertama mengasah bakat menulis Jamal hingga menjadi penulis yang berkarakter. Karakter itu ditemukannya setelah menemukan serangkaian latihan demi latihan di kamar William.

Jamal adalah seorang kulit hitam yang tumbuh menjadi remaja di lingkungan Bronx. Kawasan ras kulit hitam yang padat dan kasar. Ia hidup serumah dengan ibunya. Ayahnya pergi lantaran tak tahan dengan omelan ibunya karena jorok. Saudara laki-lakinya ikut pergi setelah ayahnya pergi. Kesepian membawanya ke sudut kamar bersama buku harian. Di lembar-lembar kertas itulah ia torehkan segala kecamuk hati.

Nah, buku-buku harian itu tertinggal di kamar William ketika suatu malam ia lari terbirit-birit setelah terpergok menerobos masuk rumah William tanpa izin atas tantangan kawan-kawannya.

Buku harian itu dikembalikan William dengan melempar tas dari jendela saat Jamal pulang sekolah. Sampai di rumah, Jamal mendapati catatan hariannya dicoret-coret dengan tinta merah. Lebih tepatnya dikoreksi dan diberi komentar.

Di antaranya adalah komentar “paragraf ini fantastik”, “ketelitian”, “bagus sekali”, “menakjubkan”. Juga beberapa koreksi gramatika, dan sebuah pesan: “Saya ingin mendukung penulis ini. Bisakah kita pergi keluar The Bronx sebentar?”

Undangan itu dipenuhi Jamal. Tapi tak semulus harapannya. Dan memang, tak ada tiket gratis memasuki dunia senyap William. Ia akan menerima Jamal kalau menyetorkan 5000 kata tentang: “Mengapa kau akan tetap berada di luar rumahku?” Jamal pun pulang dengan dongkol dan sekaligus mengerjakan tantangan itu. Lima ribu kata itu ditulisnya dari balik kamar di antara teriakan perempuan tetangganya yang sedang diamuk nafsu.

Rupanya, 5000 kata adalah kunci yang berhasil membuka pintu rumah William. Itu juga menjadi pelajaran pembuka yang diterima Jamal mengenai esensi sebuah pertanyaan. Pertanyaan adalah kunci pertama bagaimana memperoleh informasi yang berarti. Karena itu hindari sedemikian rupa menanyakan hal-hal yang jawabannya sudah kita tahu; pertanyaan yang hanya butuh penegasan.

William dan Jamal menyebut model pertanyaan demikian dengan “soup question”. Seperti sup krim yang jika tidak diaduk dan dibiarkan saja, maka akan membuih. Pertanyaan seperti itu lama-lama akan menjadi bualan omong kosong jika diteruskan.

Pelajaran selanjutnya adalah tentang menghormati buku. Selalu kembalikan buku setelah dibaca ke raknya semula dengan rapi. Jangan sekali-kali melipat sudut kertas untuk menandai batas membaca. Itu seperti membuat kuping anjing saja. Menghina penulisnya.

Pelajaran-pelajaran sederhana ini mengalir dalam pertemuan-pertemuan awal William dan Jamal tanpa sengaja. Sebuah pondasi yang dibangun untuk mencintai buku dengan hati melalui hal-hal kecil yang remeh sebelum mereka bersepakat untuk menjadi mentor dan murid.

William mau menjadi mentor asal tak ada pertanyaan tentang pribadinya, keluarganya, dan mengapa hanya satu buku yang ditulisnya. Ia juga meminta jaminan bahwa segala yang ia ceritakan yang terjadi di kamar itu tak akan pernah diceritakan pada orang lain. Jamal menerima semua syarat itu, asal William mengajarinya menulis. Maka pelajaran menulis itu pun dimulai.

Sebagai awal, William meminjamkan judul dan paragraf pertamanya untuk memberi pancingan agar Jamal mampu menemukan kata-katanya sendiri. Strategi itu manjur. Tulisan pertama Jamal mendapat pujian profesor menulisnya di kelas.

Namun profesor itu terus meragukan orisinilitas tulisan Jamal. Bagi sang profesor, seorang anak kulit hitam dari Bronx dan berasal dari sekolah kecil yang miskin sangat meragukan bisa memiliki tulisan sebagus itu.

Jamal tersinggung tulisannya diragukan. Namun ia tak marah. Disimpannya dendam itu untuk memicunya menulis lebih baik. Ia menulis lagi dengan dibantu judul dan paragraf dari William. Lalu ia mengumpulkan tulisannya untuk lomba menulis novelet akhir tahun di sekolah. Sayang setelah menulis itu Jamal lalai tak mengganti judulnya. Begitu saja dibawa ke sekolah dan mengumpulkan untuk lomba menulis.

Kelalaian itu akhirnya menjadi bumerang. Profesornya—yang sejak semula meragukan kemampuannya—menemukan bahwa judul dan paragraf pertama itu pernah diterbitkan atas nama William Forrester di  majalah New Yorker. Jamal lemas tak berdaya. Dewan sekolah mengancam akan menarik beasiswa. Ia akan diampuni jika mau membuat surat permintaan maaf pada semua siswa atas plagiat yang dilakukannya atau mendapat izin dari si empunya paragraf. Jamal tak memilih dua-duanya.

Ia marah sekali pada gurunya, William. Ia menyesal mengapa William tak mengatakan bahwa tulisan itu pernah dipublikasikan sehingga Jamal bisa menyebutkan sumber kutipan.

Tapi William justru berbalik marah karena sejak awal ia sudah menerapkan aturan bahwa apa yang ditulis di kamarnya akan tetap ada di kamarnya, tanpa kecuali. Jamal membela diri. Ketika ia akan minta izin membawa tulisan itu keluar William sedang tertidur pulas. Jamal malah mengumpat dan mengatakan William tak lebih dari seorang pengecut.

“Untuk apa menulis sampai almarimu penuh jika tak ada seorang pun di luar sana yang mengetahui tulisanmu?!”

William naik pitam. Jamal juga. Mereka berseteru.

Jamal tak menulis surat permintaan maaf, tapi juga tak mengatakan pada dewan sekolah atau siapa pun bahwa ia telah mendapat izin dari si empunya paragraf. Ia pegang teguh sumpahnya kepada sang guru. Ia juga siap melepas beasiswanya. Namun sebuah keajaiban terjadi.

Di saat acara pemenang lomba menulis akhir tahun itu hampir diumumkan, tiba-tiba William muncul dan meminta waktu membacakan sebuah paragraf. Seluruh hadirin yang ada di ruangan itu terkejut ketika ia menyebutkan nama sambil menunjuk foto yang tergantung di atas dinding. Mereka terdiam. Apa yang dibaca William sangat menohok perasaan. Kalimatnya sederhana, lugas, dan dalam. Tentang keluarga dan persahabatan. William membacanya dengan sepenuh hati. Hadirin bertepuk tangan riuh.

William katakan bahwa ia ada di ruangan itu karena seorang sahabat mengizinkannya untuk hadir. Sahabat yang tetap melindunginya di saat William tak bisa melakukan hal yang sama. William beritahu semua orang di ruang itu bahwa ia membantu Jamal menemukan kata-katanya dengan meminjamkan kalimatnya asal Jamal tak menceritakan pada siapa pun tentang dirinya. Dan janji itu dipegang teguh.

Meski Jamal nyaris kehilangan segala kebanggaannya sekaligus. Itulah seorang sahabat sejati. Diberitahukannya juga bahwa paragraf yang dibacanya tadi bukan tulisannya, itu karya Jamal. Hadirin terhenyak dan berdecak kagum sebelum kemudian bertepuk tangan riuh lagi. Sebuah tepuk tangan kebanggaan dan penghormatan. Pengakuan akan sebuah karya dan talenta.

Jamal memang menulis karena ia punya bakat. Tapi bakat saja tak cukup. Perlu pengetahuan tentang bagaimana menulis yang baik dan terus berlatih. Dari sanalah pisau bakat itu menjadi kian tajam dan mengkilap. Sungguh sebesar apa pun bakat menulis seseorang, tak akan pernah berkilau jika ia tak terus melatihnya. Tak cukup di situ. Penulis harus mulai membiarkan tulisannya dibaca orang lain. Seorang penulis harus belajar menghakimi tulisannya. Hingga ia bisa terus melakukan perbaikan-perbaikan. (Diana AV Sasa)

* Resensi ini juga dimuat dalam “Para Penggila Buku: Seratus Catatan Di Balik Buku” karya Diana AV Sasa dan Muhidin M Dahlan (IBOEKOE, 2009: 338).

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan