-->

Kronik Toggle

Cerpenis Hamsad Rangkuti Terkapar karena Sampah

Cerpenis Hamsad Rangkuti Terkapar karena Sampah
02 Nov 2010
Media Indonesia Nasional
CERPENIS Hamsad Rangkuti rindu rumah. Sudah tujuh hari ia dirawat di kelas II ruang Bougeville Rumah Sakit Bhakti Yudha, Jalan Sawangan Raya, Pancoran Mas,.Kota Depok. Namun, tekanait.darah sang novelis tetap saja menanjak.
Pemenang Cerita Anak Terbaik 75 Tahun Balai Pustaka tahun 2001 itu mengalami tekanan darah tinggi berawal dari masalah sampah.
“Pemerintah Kota Depok membangun tempat sampah di tanah kami tanpa seizin kami,” keluh Rangkuti, 67, yang hasil karyanya banyak diterjemahkan ke bahasa asing.
Tanah ukuran 5 x 12 meter yang dijadikan tempat pembuangan sampah berjarak tujuh meter di belakang rumah Rangkuti di Jalan Bangau 6 No 286 Kelurahan Depok Jaya, Pancoran Mas. Sejak lahan yang dibeli dari PT Perumnas itu menjadi TPS, tensi penulis novel Ketika Lampu Berwarna Merah itu mulai terganggu.
Berulang kali pria kelahiran Titikuning, Medan, itu mengirimkan surat protes kepada Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail agar tanahnya tidak dijadikan TPS, tetapi tak digubris. “Itulah awal naiknya tekanan darah Bapak,” Nurwindasari, 54, istri Rangkuti, menguraikan.
Sampah warga setiap hari menumpuk di sana. Petugas datang sekali sebulan bahkan terkadang dua bulan sekali. Ketika angin mengarah ke rumah Rangkuti, bau tak sedap memenuhi seluruh ruangan dan bau-bau itu menempel di pakaian.
Keluarga Rangkuti sering batuk-batuk dan mengalami gangguan pernapasan. “Bau sampah sangat menyengat. Kami tidak kuatlagi. Tapi pemerintah bertindak otoriter. Mereka tidak mau menerima keluhan kami,” lanjut Nurwindasari.
Bau tak sedap membuat.Rangkuti susah tidur. Tekanan darahnya pun naik ke angka 170/100. Nurwindasari membawa suaminya berobat ke puskesmas.
Bukannya semakin turun, tekanan darah Rangkuti malah naik. Mereka buru-buru pergi berobat ke klinik 24 jamyang tak jauh dari rumah, tetapi belum juga ada perubahan berarti.
Melihat kondisi fisik sang penyair yang juga dikenal jago melukis itu kian melemah, Nurwindasari memutuskan membawa ke Rumah Sakit Bhakti Yudha pada 26 Oktober 2010.
Tujuh hari menjalani perawatan, lagi-lagi tekanan darah tak bergeser dari 170/100. Padahal, biaya pengobatan terus bertambah yang per harinya minimal Rp500 ribu. Bagi keluarga sederhana seperti Rangkuti, angka tersebut cukup memberatkan.
Sudah beberapa sobat datang menjenguk, antara lain, Sori Siregar, Marthin Alaeda, Bahrudin Aritonang dari Badan Pemeriksa Keuangan, Ratna Diyah Wulan dari PT Gramedia, serta Daniel Eliyas, juga cerpenis.
“Kedatangan mereka sedikit menghibur. Mereka semua mendoakan supaya Bapak dapat sembuh dan bisa kembali berkarya,” tutur Nurwindasari.
Kemarin, mantan Pemimpin Redaksi Horison itu kehilangan sabar. Meski dokter meminta ia bertahan, Rangkuti memaksa pulang.
“Saya ingin pulang, jenuh di sini terus,” tegasnya. Sang istri pun tak berani menentang. Rangkuti pulang dengan kondisi tensi darah tetap tinggi. (Kisar Radjagukguk/J-1)

JAKARTA — Cerpenis Hamsad Rangkuti rindu rumah. Sudah tujuh hari ia dirawat di kelas II ruang Bougeville Rumah Sakit Bhakti Yudha, Jalan Sawangan Raya, Pancoran Mas, Kota Depok. Namun, tekanan darah sang novelis tetap saja menanjak.

Pemenang Cerita Anak Terbaik 75 Tahun Balai Pustaka tahun 2001 itu mengalami tekanan darah tinggi berawal dari masalah sampah.

“Pemerintah Kota Depok membangun tempat sampah di tanah kami tanpa seizin kami,” keluh Rangkuti, 67, yang hasil karyanya banyak diterjemahkan ke bahasa asing.

Tanah ukuran 5 x 12 meter yang dijadikan tempat pembuangan sampah berjarak tujuh meter di belakang rumah Rangkuti di Jalan Bangau 6 No 286 Kelurahan Depok Jaya, Pancoran Mas. Sejak lahan yang dibeli dari PT Perumnas itu menjadi TPS, tensi penulis novel Ketika Lampu Berwarna Merah itu mulai terganggu.

Berulang kali pria kelahiran Titikuning, Medan, itu mengirimkan surat protes kepada Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail agar tanahnya tidak dijadikan TPS, tetapi tak digubris. “Itulah awal naiknya tekanan darah Bapak,” Nurwindasari, 54, istri Rangkuti, menguraikan.

Sampah warga setiap hari menumpuk di sana. Petugas datang sekali sebulan bahkan terkadang dua bulan sekali. Ketika angin mengarah ke rumah Rangkuti, bau tak sedap memenuhi seluruh ruangan dan bau-bau itu menempel di pakaian.

Keluarga Rangkuti sering batuk-batuk dan mengalami gangguan pernapasan. “Bau sampah sangat menyengat. Kami tidak kuatlagi. Tapi pemerintah bertindak otoriter. Mereka tidak mau menerima keluhan kami,” lanjut Nurwindasari.

Bau tak sedap membuat.Rangkuti susah tidur. Tekanan darahnya pun naik ke angka 170/100. Nurwindasari membawa suaminya berobat ke puskesmas.

Bukannya semakin turun, tekanan darah Rangkuti malah naik. Mereka buru-buru pergi berobat ke klinik 24 jamyang tak jauh dari rumah, tetapi belum juga ada perubahan berarti.

Melihat kondisi fisik sang penyair yang juga dikenal jago melukis itu kian melemah, Nurwindasari memutuskan membawa ke Rumah Sakit Bhakti Yudha pada 26 Oktober 2010.

Tujuh hari menjalani perawatan, lagi-lagi tekanan darah tak bergeser dari 170/100. Padahal, biaya pengobatan terus bertambah yang per harinya minimal Rp500 ribu. Bagi keluarga sederhana seperti Rangkuti, angka tersebut cukup memberatkan.

Sudah beberapa sobat datang menjenguk, antara lain, Sori Siregar, Marthin Alaeda, Bahrudin Aritonang dari Badan Pemeriksa Keuangan, Ratna Diyah Wulan dari PT Gramedia, serta Daniel Eliyas, juga cerpenis.

“Kedatangan mereka sedikit menghibur. Mereka semua mendoakan supaya Bapak dapat sembuh dan bisa kembali berkarya,” tutur Nurwindasari.

Kemarin, mantan Pemimpin Redaksi Horison itu kehilangan sabar. Meski dokter meminta ia bertahan, Rangkuti memaksa pulang.

“Saya ingin pulang, jenuh di sini terus,” tegasnya. Sang istri pun tak berani menentang. Rangkuti pulang dengan kondisi tensi darah tetap tinggi.

Sumber: Media Indonesia, 2 November 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan