-->

Kronik Toggle

Bush Mengaku di Memoirnya: Tak Setuju dengan Perang Irak

BUKU MEMOAR
Bush Tak Setuju Perang Irak
Rabu, 10 November 2010 | 03:38 WIB
AFP/SAUL LOEB
Mantan Presiden Amerika Serikat George W Bush meluncurkan buku memoarnya, Decision Points . Buku tersebut sudah ada di rak-rak toko buku di Washington DC, Selasa (9/ 11).
Hanya sepekan setelah Partai Republik berhasil merebut mayoritas kursi di DPR AS dan saat Presiden AS Barack Obama melakukan tur ke Asia, mantan Presiden George W Bush—seorang republiken—mencuri perhatian publik di dalam negeri AS dengan meluncurkan buku memoar.
Dalam buku itu, antara lain, Bush mengaku pada awalnya menentang invasi ke Irak. Bush mengaku memberikan pendapat yang berbeda soal rencana serangan ke Irak dalam rapat-rapat dengan para pembantu dekatnya.
”Saya tak ingin menggunakan kekerasan. Saya waktu itu mencoba memberikan kesempatan diplomasi berjalan,” ujar Bush dalam wawancara dengan stasiun televisi NBC, Senin (8/11).
Setelah dua tahun hampir tak pernah terdengar kabarnya, Bush akan menjalani tur promosi dan melayani wawancara dengan media sehubungan dengan peluncuran buku memoarnya berjudul Decision Points. Di buku itu, ia membela semua keputusan dan kebijakan selama dua periode memerintah Amerika Serikat dari 2000-2008, mulai dari reaksi terhadap serangan teroris 11 September 2001, Perang Irak, metode penyiksaan tahanan, tanggap darurat bencana topan Katrina, hingga krisis ekonomi yang melanda AS hingga kini.
Bush mengaku menjadi orang yang paling terkejut dan marah saat senjata pemusnah massal— alasan utama invasi ke Irak dan penggulingan rezim Saddam Hussein—ternyata tak ditemukan di Irak. ”Saya merasa mual setiap kali saya memikirkan hal itu, sampai sekarang,” kata presiden ke-43 AS ini.
Meski demikian, ia terang- terangan menolak minta maaf atas tidak ditemukannya senjata pemusnah massal ataupun kekacauan yang terjadi di Irak pasca-invasi itu sampai saat ini. ”Meminta maaf berarti sama saja saya mengakui keputusan saya waktu itu salah,” ujar Bush.
interogasi
Pada bagian lain buku setebal 481 halaman itu, Bush mengakui telah mengizinkan penggunaan teknik waterboarding sebagai metode interogasi tahanan terkait terorisme global. Dalam teknik ini, tahanan diikat telentang di atas bangku papan, lalu dalam keadaan kepala tahanan menengadah, air diguyurkan ke muka sehingga memunculkan sensasi tenggelam yang sangat menyiksa.
Menurut Bush, para ahli dari dinas intelijen CIA menyodorinya berbagai teknik interogasi tahanan. Ia kemudian memerintahkan Departemen Kehakiman dan para pengacara CIA untuk memeriksa keabsahan metode- metode itu dari sisi hukum.
”Ada dua (teknik interogasi) yang saya pikir keterlaluan meski legal. Saya memerintahkan CIA untuk tidak menggunakan dua teknik itu. Pilihan lainnya adalah waterboarding, proses yang meniru (efek) tenggelam. Para pakar kesehatan meyakinkan CIA bahwa teknik ini tak menimbulkan efek (luka) permanen”, tulis Bush.
Dalam kasus keterlambatan reaksi Pemerintah Federal AS dalam menangani kondisi tanggap darurat pascabencana alam topan Katrina, yang menewaskan ribuan warga New Orleans, Louisiana, 2005, Bush mengakui kesalahannya.
”Sebagai pemimpin pemerintah federal, saya seharusnya mengetahui adanya kelemahan (dalam penanganan bencana) itu lebih cepat dan mengintervensi lebih awal. Saya terlalu lama mengambil keputusan,” ungkap anak mantan Presiden George HW Bush ini.
Akibat kesalahan dalam menangani topan Katrina inilah, George Bush mengalami apa yang ia sebut momen terburuk sepanjang masa jabatannya sebagai presiden AS. Momen itu adalah saat penyanyi rap Kanye West menyeru ”George Bush tidak suka orang kulit hitam” dalam sebuah acara penggalangan dana bantuan bagi korban Katrina.
(AFP/AP/Reuters/CNN/DHF)
http://cetak.kompas.com/read/2010/11/10/03381266/bush.tak.setuju.perang.irak

Mantan Presiden Amerika Serikat George W Bush meluncurkan buku memoarnya, Decision Points. Buku tersebut sudah ada di rak-rak toko buku di Washington DC, Selasa (9/11).

Hanya sepekan setelah Partai Republik berhasil merebut mayoritas kursi di DPR AS dan saat Presiden AS Barack Obama melakukan tur ke Asia, mantan Presiden George W Bush—seorang republiken—mencuri perhatian publik di dalam negeri AS dengan meluncurkan buku memoar.

Dalam buku itu, antara lain, Bush mengaku pada awalnya menentang invasi ke Irak. Bush mengaku memberikan pendapat yang berbeda soal rencana serangan ke Irak dalam rapat-rapat dengan para pembantu dekatnya.

”Saya tak ingin menggunakan kekerasan. Saya waktu itu mencoba memberikan kesempatan diplomasi berjalan,” ujar Bush dalam wawancara dengan stasiun televisi NBC, Senin (8/11).

Setelah dua tahun hampir tak pernah terdengar kabarnya, Bush akan menjalani tur promosi dan melayani wawancara dengan media sehubungan dengan peluncuran buku memoarnya berjudul Decision Points. Di buku itu, ia membela semua keputusan dan kebijakan selama dua periode memerintah Amerika Serikat dari 2000-2008, mulai dari reaksi terhadap serangan teroris 11 September 2001, Perang Irak, metode penyiksaan tahanan, tanggap darurat bencana topan Katrina, hingga krisis ekonomi yang melanda AS hingga kini.

Bush mengaku menjadi orang yang paling terkejut dan marah saat senjata pemusnah massal— alasan utama invasi ke Irak dan penggulingan rezim Saddam Hussein—ternyata tak ditemukan di Irak. ”Saya merasa mual setiap kali saya memikirkan hal itu, sampai sekarang,” kata presiden ke-43 AS ini.

Meski demikian, ia terang- terangan menolak minta maaf atas tidak ditemukannya senjata pemusnah massal ataupun kekacauan yang terjadi di Irak pasca-invasi itu sampai saat ini. ”Meminta maaf berarti sama saja saya mengakui keputusan saya waktu itu salah,” ujar Bush.

interogasi

Pada bagian lain buku setebal 481 halaman itu, Bush mengakui telah mengizinkan penggunaan teknik waterboarding sebagai metode interogasi tahanan terkait terorisme global. Dalam teknik ini, tahanan diikat telentang di atas bangku papan, lalu dalam keadaan kepala tahanan menengadah, air diguyurkan ke muka sehingga memunculkan sensasi tenggelam yang sangat menyiksa.

Menurut Bush, para ahli dari dinas intelijen CIA menyodorinya berbagai teknik interogasi tahanan. Ia kemudian memerintahkan Departemen Kehakiman dan para pengacara CIA untuk memeriksa keabsahan metode- metode itu dari sisi hukum.

”Ada dua (teknik interogasi) yang saya pikir keterlaluan meski legal. Saya memerintahkan CIA untuk tidak menggunakan dua teknik itu. Pilihan lainnya adalah waterboarding, proses yang meniru (efek) tenggelam. Para pakar kesehatan meyakinkan CIA bahwa teknik ini tak menimbulkan efek (luka) permanen”, tulis Bush.

Dalam kasus keterlambatan reaksi Pemerintah Federal AS dalam menangani kondisi tanggap darurat pascabencana alam topan Katrina, yang menewaskan ribuan warga New Orleans, Louisiana, 2005, Bush mengakui kesalahannya.

”Sebagai pemimpin pemerintah federal, saya seharusnya mengetahui adanya kelemahan (dalam penanganan bencana) itu lebih cepat dan mengintervensi lebih awal. Saya terlalu lama mengambil keputusan,” ungkap anak mantan Presiden George HW Bush ini.

Akibat kesalahan dalam menangani topan Katrina inilah, George Bush mengalami apa yang ia sebut momen terburuk sepanjang masa jabatannya sebagai presiden AS. Momen itu adalah saat penyanyi rap Kanye West menyeru ”George Bush tidak suka orang kulit hitam” dalam sebuah acara penggalangan dana bantuan bagi korban Katrina.

Sumber: Kompas, 10 November 2010, “Bush Tak Setuju Perang Irak”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan