-->

Lainnya Toggle

Ayo Menulis Sejarah Kampung

KARTU IBOEKOE_Diana AV SasaOleh: Diana AV Sasa

”Tidak mungkin ada penulis buku yang mampu merangkum keseluruhan yang ada dan dialami kota Surabaya”.

Kalimat pesimis  ini ditulis seorang profesor  bernama Johan Silas dalam pengantar buku karya Akhudiat, Masuk Kampung Keluar Kampung: Surabaya Kilas Balik (2008). Buku ini adalah sekumpulan esai Akhudiat tentang kampung-kampung dan situs-situs penanda kota Surabaya yang diceritakan berdasar pengetahuan, pengalaman, dan ingatan penulis.

Buku tipis setebal 127 halaman terbitan Henk Publica ini memang tak menjawab keseluruhan pertanyaan tentang sejarah kampung-kampung di Surabaya. Tapi bukan berarti menuliskan potensi dan laku sebuah kampung-kota adalah sebuah ketidak mungkinan.

Surabaya, sebagai kota yang diakui secara internasional sebagai kota yang konsisten melakukan berbagai perbaikan kampung, melalui Rencana Pembangunan Kota (RPK) berani menetapkan kampung sebagai warisan dan pusaka budaya yang dilindungi.

Nama kampung di Surabaya tidak bisa begitu saja diganti. Namun memiliki kampung yang utuh tidak sama dengan memiliki sejarah yang utuh. Banyak kampung yang warganya sendiri tak mengetahui sejarahnya. Sejarah kampung tidak melulu tentang masa lalu, kisah-kisah usang yang bisa diingat warganya, sejarah kampung juga mencakup apa-apa yang dimiliki dan terjadi sekarang. Mulai dari potensi ekonomi, kekuatan sosial, simpul-simpul budaya, kekhasan kuliner, maupun kehidupan orang-orangnya dalam menjaga kelangsungan hidup kampung itu.

Data mengenai potensi yang dimiliki kampung, tidak dimiliki oleh tatanan pemerintahan tingkat terendah sekalipun. Rukun Tetangga tidak memiliki data apa saja profesi warganya, berapa potensi ekonomi di wilayahnya, kuliner khas daerah yang disproduksi warganya, dan segala yang berkaitan dengan tokoh, ruang, dan peristiwa-peristiwa dalam lingkup sekecil  RT yang membawahi 10-25 Kepala Keluarga.

Ini terjadi hampir di semua wilayah Indonesia. Karena itu kekisruhan berkaitan dengan data kependudukan seringkali terjadi. Hal ini dapat dihindarkan bila data-data kecil itu dimiliki setiap kampung.

Upaya menuliskan sejarah sebuah kampung-kota bukan hal mustahil dilakukan. Mari lihat apa yang telah dilakukan Dukut Imam Widodo yang di tahun 2009 menyempurnakan bukunya Soerabaia Tempo Doleoe menjadi Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe.

Buku setebal 825 halaman itu terbagi dalam 3 jilid,  lengkap dengan sejarah perkembangan kota dan foto-foto indah,  serta memakai gaya memoir catatan perjalanan dan bahasa tutur yang mudah dipahami pembaca. Buku ini disambut dengan antusias. Rujukan utama tentang Surabaya yang ditulis anak bangsa.

Upaya menuliskan sejarah kota melalui kampung-kampungnya sebagai jantung utama juga coba ditekuni lagi oleh sekumpulan anak muda yang menelisik tentang nama-nama jalan di seluruh penjuru kota Surabaya. Sekira 25 anak muda itu menghimpun satu persatu nama-nama jalan hingga ke gang-gang terkecil dan kampung-kampung terdalam terjauh di Surabaya. Beberapa menyusupkan foto-foto lokasi jalan. Ada nama jalan yang dapat ditelusur dan ada pula yang hanya berdasar oral history. Bukan hanya sejarah nama jalan yang dituliskan, namun juga bangunan-bangunan apa yang ada di jalan itu pada saat diteliti ke lapangan. Mulai kantor notaris, roti kue, bengkel motor, warung, salon, hingga tukang jam terangkum baik dalam datanya.  Upaya anak-anak muda ini menghasilkan buku setebal 771 halaman yang mereka namai Surabaya on The Book: Potret Sisik Melik Kota Surabaya.

Kesadaran tentang pentingnya menuliskan sejarah kampung sendiri ini tak hanya dilakukan arek-arek Surabaya. Di Gunungkidul Yogyakarta, tepatnya di Ketangi, Kelurahan Playen, Banyu Soco, sejumlah anak-anak SMP yang tinggal di kampung itu menuliskan sejarah mereka sendiri seusai diporak-porandai oleh Gempa Opak 26 Mei 2006. Buku karya mereka bisa kita nikmati dalam Pelangi di Ketangi (2007).

Dalam lingkup lebih luas, kerja serupa juga dilakukan oleh anak-anak muda penekun buku yang tergabung dalam komunitas Indonesia Buku di sudut Alun-alun Kidul, Yogyakarta. Bukan sekadar kampung yang mereka catatkan, melainkan sejarah kota Yogyakarta dalam lingkup seni rupa. Barometer senirupa Indonesia selalu berkiblat pada kota ini, maka sangat tepat menuliskan sejarah seni rupa di sini. Almanak Senirupa Jogja 1999-2009 adalah sebuah buku hasil jerih lelah anak-anak itu yang menghimpun serangkaian informasi mengenai tokoh, ruang, dan peristiwa seni rupa Yogya sebentangan satu dasa warsa terakhir.

Menuliskan sejarah kampung tak harus dengan metode riset yang rumit dan atau pembiayaan yang besar. Gerakan ini bisa dilakukan oleh warganya sendiri dengan biaya yang sangat murah dan menjadi bagian dari kerja sehari-hari.

Bagaimana caranya?

Mari coba kita lihat buku Aku dan Ibuku, terbitan GelarANIbuku (2010), sebuah kumpulan catatan harian anak-anak di Kampung Jambu, Kecamatan Payen, Kediri yang mengamati ibunya selama sepekan. Sejak matahari terbit hingga lelap, mereka mengamati dan mencatat aktivitas sang ibu. Dari catatan-catatan ini kemudian dapat dilihat sosiologis masyarakat kampung itu. Dari laku keseharian para ibu itu dapat tergali informasi mengenai mata pencaharian, pendapatan, tingkat pendidikan, sarana informasi, transportasi, gaya hidup, dan sebagainya.

Riset semacam ini tidak butuh biaya terlampau mahal, hanya dibutuhkan kesediaan dan ketekunan untuk menulis renik-renik. Bisa menjadi bagian dari tugas sekolah, jika di kampung itu terdapat sekolah.

Dapat juga menjadi gerakan massal dokumentasi kampung saat peringatan 17 Agustusan—yang selama ini hanya diisi bazaar dan lomba permainan. Semua akan menjadi kerja komunal yang ringan selama ada kesadaran warga untuk menulis sejarahnya sendiri.

Sebab dengan menuliskan sendiri buku sejarah kampung, maka peradaban kampung-kota bisa dipelajari, ditilik, dan dijadikan sumber penataan peradaban masa depan. Masyarakat pembaca buku adalah masyarakat transisi, yang membawa aspirasi masa lalu ke inpirasi masa depan.

Diana AV Sasa, Direktur Perpustakaan DBUKU Bibliopolis, Royal Plaza, Surabaya

Sumber: Jawa Pos, 14 November 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan