-->

Kronik Toggle

Anak-Anak Pakisbaru, Nawangan Menulis Sejarah Kampungnya Sendiri

Anak-Anak Pakisbaru, Nawangan Menulis Sejarah Kampungnya Sendiri
Tulis Semua Potensi Desa, Jadi yang Ketiga di Indonesia
Sekitar 50 anak Desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan, Pacitan akan menulis sejarah kampungnya  sendiri. Semua hal diriset, mulai dari asal-usul kampung, tokoh pendiri, komunitas, potensi ekonomi, hingga sistem sosial. Hasil riset akan dibukukan pada Maret 2011 dan diedarkan ke seluruh Indonesia serta beberapa perpustakaan di luar negeri.
Bahrun Mahabi mengacungkan tangan dengan semangat. “Saya usul,” kata bocah berusia 9 tahun itu. “Bagaimana kalau kita menulis sejarah klub sepak bola yang ada di Pakisbaru?” lanjut siswa kelas V SDN Pakisbaru I ini.
Puluhan rekan Abi, sapaan akrab Bahrun, langsung menanggapi. Ada yang setuju, ada pula yang menolak mentah-mentah usulan Abi. “Apa menariknya sejarah klub sepak bola? Akan jauh lebih menarik kalau kita menulis soal siapa para tokoh pendiri desa kita,” bantah Salsabila, siswi kelas VIII SMPN 1 Nawangan.
Diskusi di antara anak-anak nan muda belia itu berlangsung gayeng, rileks, namun tetap serius. Itulah suasana perencanaan penulisan sejarah kampung Pakisbaru yang dikerjakan sendiri oleh anak-anak yang tumbuh dan besar di kampung yang terletak 27 kilometer dari pusat kota Pacitan tersebut.
Pelatihan awal dilakukan pada Sabtu-Minggu (27-28/11/2010) di Balai Desa Satria Bhakti, Pakisbaru. Sebanyak 50 anak dibekali materi dasar jurnalistik, mulai dari penulisan, teknik wawancara, hingga fotografi. Para fasilitator yang hadir, antara lain, penulis buku Muhidin M. Dahlan dan Irwan Bajang (Yogyakarta), Adi Toha (Pekalongan), Diana Sasa (Surabaya), dan penyair Nisa Elvadiani (Surabaya).
Ketua Rintisan Balai Belajar Bersama Taruna Mandiri Pakisbaru Mustofa mengatakan, program penulisan sejarah kampung adalah bagian dari berbagai program rumah baca yang ada di Pakisbaru. “Kami sengaja memilih tema sejarah kampung karena sampai saat ini referensi tentang kampung yang ditulis oleh anak-anak kampung itu sendiri sangat minim, bahkan nyaris tak ada,” ujar guru Madrasah Tsanawiyah I Nawangan.
Indonesia adalah negeri kaya dengan lebih dari 17.000 pulau dan sekitar 32.000 kampung. Namun, kata Mustofa, hingga saat ini baru ada satu buku tentang sejarah kampung, yaitu Pelangi di Ketangi yang mengisahkan sejarah kampung Ketangi, Gunung Kidul. Saat ini anak-anak kampung Patehan, Yogyakarta, juga sedang melakukan langkah serupa.
“Jadi kalau karya anak-anak muda belia Pakisbaru ini sudah selesai dan dibukukan, itu akan jadi buku ketiga di Indonesia tentang sejarah kampung yang ditulis oleh anak-anak yang lahir dan tumbuh di kampung tersebut. Kalau yang ditulis oleh dosen, pakar, atau peneliti luar negeri kan sudah lumayan banyak,” kata Mustofa yang juga ketua Karang Taruna Pakisbaru itu.
Mustofa menuturkan, pengerjaan riset sejarah kampung ini akan memakan waktu sekitar empat bulan. Hasil riset akan dibukukan dan diterbitkan Indonesia Buku Yogyakarta. “Selama dua bulan, Desember 2010 dan Januari 2011, anak-anak itu akan mewawancarai para sesepuh desa dan tokoh masyarakat. Mereka juga akan menggali data sekunder dari dokumen-dokumen di desa maupun BPS. Setelah itu masuk tahap penulisan dan penyuntingan. Buku akan terbit Maret 2011,” papar Mustofa.
Selama proses tersebut, sambung Mustofa, para bocah akan didampingi oleh fasilitator lokal yang tak lain adalah para aktivis Karang Taruna Pakisbaru.
Fasilitator pelatihan yang juga Direktur Yayasan Indonesia Buku Yogyakarta, Muhidin M. Dahlan, mengatakan, sejarah kampung penting untuk ditulis sebagai bekal untuk mengarungi masa depan. Akan ada lima fokus dalam penulisan sejarah kampung, yaitu asal-usul, para tokoh, potensi ekonomi, sistem sosial, dan komunitas.
“Bicara soal potensi ekonomi, misalnya, kita akan tahu di kampung ini komoditas pertanian apa saja yang dikembangkan, apa kendalanya, bagaimana potensi pasarnya. Itu semua diriset dari tahun ke tahun, yang akan jadi bekal kampung ini untuk mengembangkan sektor pertanian di masa mendatang,” jelas penulis puluhan buku sejarah tersebut.

Bahrun Mahabi mengacungkan tangan dengan semangat. “Saya usul,” kata bocah berusia 9 tahun itu. “Bagaimana kalau kita menulis sejarah klub sepak bola yang ada di Pakisbaru?” lanjut siswa kelas V SDN Pakisbaru I ini.

Puluhan rekan Abi, sapaan akrab Bahrun, langsung menanggapi. Ada yang setuju, ada pula yang menolak mentah-mentah usulan Abi. “Apa menariknya sejarah klub sepak bola? Akan jauh lebih menarik kalau kita menulis soal siapa para tokoh pendiri desa kita,” bantah Salsabila, siswi kelas VIII SMPN 1 Nawangan.

Diskusi di antara anak-anak nan muda belia itu berlangsung gayeng, rileks, namun tetap serius. Itulah suasana perencanaan penulisan sejarah kampung Pakisbaru yang dikerjakan sendiri oleh anak-anak yang tumbuh dan besar di kampung yang terletak 27 kilometer dari pusat kota Pacitan tersebut.

Pelatihan awal dilakukan pada Sabtu-Minggu (27-28/11/2010) di Balai Desa Satria Bhakti, Pakisbaru. Sebanyak 50 anak dibekali materi dasar jurnalistik, mulai dari penulisan, teknik wawancara, hingga fotografi. Para fasilitator yang hadir, antara lain, penulis buku Muhidin M. Dahlan dan Irwan Bajang (Yogyakarta), Adi Toha (Pekalongan), Diana Sasa (Surabaya), publistis Eri Irawan, dan penyair Nisa Elvadiani (Surabaya).

Ketua Rintisan Balai Belajar Bersama Taruna Mandiri Pakisbaru Mustofa mengatakan, program penulisan sejarah kampung adalah bagian dari berbagai program rumah baca yang ada di Pakisbaru. “Kami sengaja memilih tema sejarah kampung karena sampai saat ini referensi tentang kampung yang ditulis oleh anak-anak kampung itu sendiri sangat minim, bahkan nyaris tak ada,” ujar guru Madrasah Tsanawiyah I Nawangan.

Indonesia adalah negeri kaya dengan lebih dari 17.000 pulau dan sekitar 32.000 kampung. Namun, kata Mustofa, hingga saat ini baru ada satu buku tentang sejarah kampung, yaitu Pelangi di Ketangi yang mengisahkan sejarah kampung Ketangi, Gunung Kidul. Saat ini anak-anak kampung Patehan, Yogyakarta, juga sedang melakukan langkah serupa.

“Jadi kalau karya anak-anak muda belia Pakisbaru ini sudah selesai dan dibukukan, itu akan jadi buku ketiga di Indonesia tentang sejarah kampung yang ditulis oleh anak-anak yang lahir dan tumbuh di kampung tersebut. Kalau yang ditulis oleh dosen, pakar, atau peneliti luar negeri kan sudah lumayan banyak,” kata Mustofa yang juga ketua Karang Taruna Pakisbaru itu.

Mustofa menuturkan, pengerjaan riset sejarah kampung ini akan memakan waktu sekitar empat bulan. Hasil riset akan dibukukan dan diterbitkan Indonesia Buku Yogyakarta. “Selama dua bulan, Desember 2010 dan Januari 2011, anak-anak itu akan mewawancarai para sesepuh desa dan tokoh masyarakat. Mereka juga akan menggali data sekunder dari dokumen-dokumen di desa maupun BPS. Setelah itu masuk tahap penulisan dan penyuntingan. Buku akan terbit Maret 2011,” papar Mustofa.

Selama proses tersebut, sambung Mustofa, para bocah akan didampingi oleh fasilitator lokal yang tak lain adalah para aktivis Karang Taruna Pakisbaru.

Fasilitator pelatihan yang juga Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia Buku Yogyakarta, Muhidin M. Dahlan, mengatakan, sejarah kampung penting untuk ditulis sebagai bekal untuk mengarungi masa depan. Akan ada lima fokus dalam penulisan sejarah kampung, yaitu asal-usul, para tokoh, potensi ekonomi, sistem sosial, dan komunitas.

“Bicara soal potensi ekonomi, misalnya, kita akan tahu di kampung ini komoditas pertanian apa saja yang dikembangkan, apa kendalanya, bagaimana potensi pasarnya. Itu semua diriset dari tahun ke tahun, yang akan jadi bekal kampung ini untuk mengembangkan sektor pertanian di masa mendatang,” jelas penulis puluhan buku sejarah tersebut. (Laporan Langsung Eri Irawan dari Pakisbaru)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan