-->

Resensi Toggle

200 Ikon Bandung, Ieu Bandung Lur! | Ahda Imran, dkk | 2010

bandungJudul : 200 ikon Bandung ; Ieu Bandung Lur!
Penulis : Ahda Imran, dkk
Koordinator Penulis : Zaky Yamani
Penerbit : Pikiran Rakyat
Cetakan : I, Sept 2010
Tebal : xvi+269 hlm

Oleh Tanzil Hernadi

Sebutkan dengan cepat apa yang terlintas dalam benak ketika kita mendengar kata “Bandung”, umumnya Bandung diidentikkan sebagai pusat belanja pakaian dan wisata kuliner, hal ini ditunjang dengan menjamurnya factory outlet dan aneka makanan khas Bandung yang tersebar di berbagai tempat. Hampir setiap akhir pekan wisatawan domestik khususnya penduduk Jakarta menyerbu kota Bandung untuk membeli pakaian sambil menikmati wisata kuliner.

Factory Outlet dan aneka kuliner memang telah menjadi ikon kota Bandung, namun sebenarnya bukan itu saja, ada 200 ikon yang menjadi trade mark kota Bandung! Apa saja? Dalam rangka ulang tahun kota Bandung yang ke 200, Pikiran Rakyat selaku surat kabar lokal terbesar di Jawa Barat merasa perlu untuk mengangkat dan mendokumentasikan ikon-ikonnya sehingga Bandung tak hanya dikenal sebagai kota wisata belanja saja.

Niat untuk mendokumentasikan ikon-ikon Bandung ini terealisasi dalam bentuk sebuah buku yang berjudul “ 200 Ikon Bandung, Ieu Bandung Lur!” Semula ke 200 ikon ini akan ditampilkan untuk dalam satu buku, namun karena keterbatasan waktu dan pertimbangan ekonomis dan ketebalan buku maka buku ini dibagi dalam dua jilid. Hingga tulisan ini dibuat baru buku pertamanya saja yang telah diterbitkan yang mennampilkan seratus ikon di berbagai bidang yaitu ekonomi (tempat usaha), politik, seni, agama, kesehatan, lanskap, pendidikan, dan olah raga yang masing-masing terbagi dalam bab-bab tersendiri.

Sebagai kisah pembuka buku ini menyajikan sejarah berdirinya kota Bandung. Pada tahun 1810 Gubernur Jenderal Daendels bersama bupati Wiranatakusumah II bertandang ke sebuah lokasi hutan yang akan dilewati jalur pembangunan Grote Postweg (Jalan Raya Pos). Sambil menancapkan tongkatnya Daendels berkata “Usahakan saat aku datang lagi ke sini, sebuah kota sudah dibangun!”.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada 25 September 1810, Bupati Wiranatakusumah II mendapat SK (Surat Keputusan) pemindahan kota kabupaten ke wilayah dimana Daendels menancapkan tongkatnya. Tanggal surat SK itulah yang kini dijadikan patokan sebagai hari lahirnya kota Bandung. Sedangkan tempat dimana Daendels menancapkan tongkatnya itu kini dijadikan titik KM 0 dimana terdapat tugu atau monumen “Kilometer Nol” yang kini letaknya persis di depan kantor Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jawa Barat atau tepat di seberang hotel Savoy Homan di jalan Asia Afrika Bandung.

Tugu atau monument “Kilometer Nol” tersebut diresmikan gubernur Jawa Barat pada thun 2004. Selain tugu terdapat juga monumen mesin penggilingan (stoomwals) kuno disertai sebuah batu prasasti beruliskan sejarah yang menaungi keberadaannya. Tugu dan monument mesin stoomwals ini didedikasikan bagi rakyat Priangan yang menjadi korban kerja paksa saat membangun Jalan Raya Pos.

Setelah kisah tentang KM 0 buku ini mengurai satu persatu ikon Bandung secara menarik. Ada yang memang mungkin sudah sangat dikenal seperti Gedung Sate,kampus ITB, Gedung Merdeka, dll, tapi ada juga yang mungkin merupakan hal-hal yang belum diketahui khususnya bagi generasi muda Bandung. Kalaupun ikon tersebut sudah dikenal tapi melalui buku ini pembaca akan menemukan kisah-kisah menarik dan unik dibalik ikon-ikon tersebut.

Misalnya fakta tentang ikon Bandung paling terkenal yaitu Gedung Sate. Siapa yang menyangka kalau ternyata di halaman Gedung Sate hingga kini masih tertanam empat jenazah pejuang Bandung yang gugur untuk mempertahankan Gedung Sate dari Pasukan Gurkha dan Nica pada tahun 1945.

Lalu siapa yang tahu jika di Pabrik Kina yang didirikan sejak 1896 itu memiliki lorong bawah tanah yang melintas di jalan Pajajaran yang hingga kini masih dipakai untuk lalu lintas karyawan pabrik yang hendak menyeberang ke pabrik di seberangnya.

Di buku ini akan terungkap pula bahwa Badak Bercula satu yang kini hanya dapat ditemui di Ujung Kulon konon kabarnya pernah memiliki habitat di Bandung saat masih berupa hutan dan rawa-rawa karenanya kawasan itu dinamakan Rancabadak (Rawa Badak) yang sekarang menjadi Rumah Sakit Umum Dr. Hasan Sadikin, karenanya tak heran jika dulu Rumah Sakit tersebut dikenal dengan RS Rancabadak.

Di bidang kuliner selain mengetengahkan Brownies Amanda, lotek Edja, Es Oyen, Cireng Cipaganti, dan sebagainya tercatat pula sebuah warung kopi Purnama di jalan Alketeri Bandung yang ternyata sudah berusia seratus tahun dan tidak boleh ditutup oleh pelanggannya. Walau telah berusia seratus tahun namun warung kopi Purnama tidak pernah berniat untuk mengubah warungnya menjadi Kafe atau lebih besar lagi, jadi ia tetap warung kopi yang bersaja hingga kini.

Masih banyak ikon-ikon menarik lainnya yang dibahas di buku ini , seperti tokoh-tokoh seni (Bimbo, Kang Ibing, Harry Roesli, dll), tempat ibadah (Mesjid Cipaganti, Katedral, Gereja Betel), olah raga ( Pemandian Tjihampelas, Stadion siliwangi, BHHH) dan sebagainya.

Kesemua ikon dalam buku ini disusun dengan gaya penulisan jurnalistik karena para penulisnya adalah wartawan HU Pikiran Rakyat. Dalam menampilkan setiap ikon selalu terdapat sisi unik yang disajikan dengan gaya penulisan feature yang ringkas, padat, dengan bahasa yang mudah dimengerti. Tiap ikonnya umumnya tak lebih dari dua halaman yang dilengkapi dengan sebuah foto hitam putih dan box keterangan berisi data-data tempat seperti tahun berdirinya, alamat, nama pemilik, dsb.

Sebagai buku yang mengungkap ikon-ikon Bandung kehadiran buku ini dapat menjadi pelengkap literatur tentang Bandung yang telah terlebih dahulu hadir seperti buku-buku karya Haryanto Kunto (Wajah Bandung Tempo Doeloe, Semerbak Bunga di Bandung Raya, Balai Agung di Kota Bandung, dll), Bandung Citra Sebuah Kota (Robert PGA Voskuil, dkk ), Jendela Kota Bandung (Her Suganda), dan sebagainya.

Yang agak disayangkan dari buku ini adalah editing yang tidak maksimal karena disana-sini masih ada beberapa kesalahan ketik yang seharusnya bisa dihindari oleh editor yang tentunya telah terbiasa mengedit sebuah harian besar. Kesalahan fatal terdapat di halaman 5 dimana tertulis surat keputusan p[emindahan Ibu kota Kabupaten Bandung tertanggal 25 Mei 1810, seharusnya tanggal 25 September 1810 yang tanggalnya dijadikan acuan untuk memperingati hari jadi kota Bandung.

Kemasan buku yang dikemas secara hard cover dengan penjilidan yang sempurna memang sangat baik untuk buku koleksi, namun hal ini mengakibatkan harga buku menjadi relatif mahal dan mungkin agak sulit dijangkau oleh masyarakat umum. Alangkah bijaknya jika di kemudian hari penerbit bisa menerbitkan edisi paperback sehingga harganya bisa lebih terjangkau dan buku ini dapat dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat, khususnya warga Bandung yang ingin mengenal kotanya lebih dekat lagi.

Akhir kata, tentunya dengan kehadiran buku ini maka akan menimbulkan interaksi positif antara kota dan warganya. Interaksi yang baik akan lahir jika ada ingatan kolektif di benak warga tempat dia tinggal. Pencatatan, pendokumentasian, dan publikasi ikon-ikon kota seperti yang tersaji dalam buku ini adalah salah satu cara untuk membangun ingatan kolektif tersebut sehingga masyarakat khususnya warga Bandung dapat menyelusuri Bandung tempo doeloe maupun Bandung masa kini sehingga diharapkan dapat semakin mencintai kotanya.

H Tanzil, pembaca buku. Ratusan buku yang sudah diresensinya terkumpul di sini.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan