-->

Kronik Toggle

Sekeranjang Buku di Malioboro

Oase dalam Sekeranjang Buku
Mematahkan Mitos Semangat Mencari Ilmu Pengetahuan
Rabu, 2 Juni 2010 | 15:04 WIB
Ungkapan belajar untuk siapa saja, kapan saja, dan di mana saja rupanya masih menyala di kota yang mengklaim diri sebagai “kota pendidikan”, Yogyakarta. Kehausan jiwa-jiwa akan pengetahuan dan perluasan cakrawala memang tak mengenal profesi maupun kondisi. Di lorong-lorong sempit pertokoan kawasan Malioboro, oase itu hidup dan dihidupkan.
Adalah program perpustakaan keliling dengan nama “Pustaka Menyapa Mletik Malioboro” yang digagas Paguyuban Kawasan Malioboro (PKM) yang menghidupkan oase tersebut, berada di tengah hiruk- pikuknya denyut ekonomi kawasan Malioboro. Program itu resmi diluncurkan Senin (31/5). Namun, uji coba program sebenarnya telah dilakukan selama dua bulan terakhir.
Setiap Senin-Rabu, dua petugas sukarelawan dari PKM, Aep Saipul Rohman (47) dan Utep Ramdani (32), menyusuri kawasan Malioboro dari ujung selatan jalan hingga titik Nol Kilometer. Mulai pukul 10.00- 14.00, mereka menjajakan berbagai buku, majalah, tabloid, dan bahan bacaan lain kepada para pedagang, tukang becak, kusir andong, atau juru parkir yang sehari-hari beraktivitas di jantung Yogyakarta itu.
Buku-buku itu bisa dipinjam maupun sekadar dibaca secara gratis oleh orang-orang di sana. Jika terdaftar sebagai anggota perpustakaan, buku bisa “menginap”. “Sore harinya, sekitar pukul 17.00-18.30, kami berkeliling lagi untuk mengambil buku-buku tersebut,” kata Aep, saat ditemui di sela-sela aktivitasnya itu, Selasa.
Buku-buku itu dijajakan menggunakan dua buah troli. Sebuah pengeras suara juga disandang Aep untuk sekadar menarik perhatian penghuni Malioboro. Kedua troli itu bisa memuat ratusan eksemplar buku.
Sambutan komunitas Malioboro terhadap perpustakaan keliling ini pun sungguh luar biasa. Aep dan Utep sering kali terlihat sibuk meladeni peminjam yang berkerumun “menyerbu” troli mencari buku atau majalah yang menarik.
Pemandangan itu kembali berulang dengan kerumunan berbeda ketika keduanya baru beranjak beberapa meter dari titik sebelumnya. Dalam sehari, rata-rata 200 eksemplar majalah, buku, atau tabloid yang terpinjam. Kebanyakan pustaka yang diminati adalah yang bertema keagamaan.
Inah (44), salah seorang penjual suvenir di emperan Malioboro, menjadi pelanggan setia perpustakaan itu. Setiap hari, ia meminjam setidaknya dua eksemplar buku bertema keagamaan dan majalah resep masakan. “Daripada bengong atau ngerumpi gak jelas waktu menunggu pembeli, kan, mendingan baca buku,” ujarnya.
Lain lagi Anti (40), pedagang macam-macam kaus, yang mengaku sebenarnya hobi membaca berbagai tema. “Namun, karena harga buku mahal-mahal, saya jadi malas. Kalau ini, kan, gratis,” ujarnya.
Perpustakaan keliling ini juga menjadi solusi tepat bagi dirinya yang tidak bisa meninggalkan lokasi berjualan untuk memuaskan hasrat baca di perpustakaan biasa.
Ketua PKM Sujarwo mengatakan, perpustakaan ini dirancang untuk membangkitkan budaya membaca di kalangan komunitas Malioboro. Selama ini, ada mitos para pedagang maupun masyarakat kecil lainnya yang berprofesi di sektor informal tak gemar menggali pengetahuan melalui membaca. “Program ini membuktikan hal itu salah,” ujar Sujarwo. (ENG)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/02/15042681/oase.dalam.sekeranjang.buku

YOGYAKARTA – Ungkapan belajar untuk siapa saja, kapan saja, dan di mana saja rupanya masih menyala di kota yang mengklaim diri sebagai “kota pendidikan”, Yogyakarta. Kehausan jiwa-jiwa akan pengetahuan dan perluasan cakrawala memang tak mengenal profesi maupun kondisi. Di lorong-lorong sempit pertokoan kawasan Malioboro, oase itu hidup dan dihidupkan.

Adalah program perpustakaan keliling dengan nama “Pustaka Menyapa Mletik Malioboro” yang digagas Paguyuban Kawasan Malioboro (PKM) yang menghidupkan oase tersebut, berada di tengah hiruk- pikuknya denyut ekonomi kawasan Malioboro. Program itu resmi diluncurkan Senin (31/5). Namun, uji coba program sebenarnya telah dilakukan selama dua bulan terakhir.

Setiap Senin-Rabu, dua petugas sukarelawan dari PKM, Aep Saipul Rohman (47) dan Utep Ramdani (32), menyusuri kawasan Malioboro dari ujung selatan jalan hingga titik Nol Kilometer. Mulai pukul 10.00- 14.00, mereka menjajakan berbagai buku, majalah, tabloid, dan bahan bacaan lain kepada para pedagang, tukang becak, kusir andong, atau juru parkir yang sehari-hari beraktivitas di jantung Yogyakarta itu.

Buku-buku itu bisa dipinjam maupun sekadar dibaca secara gratis oleh orang-orang di sana. Jika terdaftar sebagai anggota perpustakaan, buku bisa “menginap”. “Sore harinya, sekitar pukul 17.00-18.30, kami berkeliling lagi untuk mengambil buku-buku tersebut,” kata Aep, saat ditemui di sela-sela aktivitasnya itu, Selasa.

Buku-buku itu dijajakan menggunakan dua buah troli. Sebuah pengeras suara juga disandang Aep untuk sekadar menarik perhatian penghuni Malioboro. Kedua troli itu bisa memuat ratusan eksemplar buku.

Sambutan komunitas Malioboro terhadap perpustakaan keliling ini pun sungguh luar biasa. Aep dan Utep sering kali terlihat sibuk meladeni peminjam yang berkerumun “menyerbu” troli mencari buku atau majalah yang menarik.

Pemandangan itu kembali berulang dengan kerumunan berbeda ketika keduanya baru beranjak beberapa meter dari titik sebelumnya. Dalam sehari, rata-rata 200 eksemplar majalah, buku, atau tabloid yang terpinjam. Kebanyakan pustaka yang diminati adalah yang bertema keagamaan.

Inah (44), salah seorang penjual suvenir di emperan Malioboro, menjadi pelanggan setia perpustakaan itu. Setiap hari, ia meminjam setidaknya dua eksemplar buku bertema keagamaan dan majalah resep masakan. “Daripada bengong atau ngerumpi gak jelas waktu menunggu pembeli, kan, mendingan baca buku,” ujarnya.

Lain lagi Anti (40), pedagang macam-macam kaus, yang mengaku sebenarnya hobi membaca berbagai tema. “Namun, karena harga buku mahal-mahal, saya jadi malas. Kalau ini, kan, gratis,” ujarnya.

Perpustakaan keliling ini juga menjadi solusi tepat bagi dirinya yang tidak bisa meninggalkan lokasi berjualan untuk memuaskan hasrat baca di perpustakaan biasa.

Ketua PKM Sujarwo mengatakan, perpustakaan ini dirancang untuk membangkitkan budaya membaca di kalangan komunitas Malioboro. Selama ini, ada mitos para pedagang maupun masyarakat kecil lainnya yang berprofesi di sektor informal tak gemar menggali pengetahuan melalui membaca. “Program ini membuktikan hal itu salah,” ujar Sujarwo.

Sumber: Kompas, 2 Juni 2010

1 Comment

Moko - 05. Jun, 2010 -

Sungguh inovasi yang luar biasa hebat! mencerdaskan masyarakat!

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan