-->

Kronik Toggle

Safari Diskusi Buku "Nicotin War"

Beberapa waktu terakhir ini, perdebatan tentang rokok dan tembakau merebak cukup hangat di tengah-tengah masyarakat di negeri ini. Belum sirna keheranan publik terhadap raibnya satu pasal dari Rancangan Undang-Undang Kesehatan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Selasa 9 Maret 2010, mengeluarkan fatwa haram terhadap rokok. Sebelumnya, mengikuti jejak Pemda DKI Jakarta, sebagian besar Pemerintah Daerah dengan penuh antusias mengeluarkan Peraturan Daerah (PERDA) tentang larangan dan pembatasan terhadap perokok. Pada saat yang sama Pemerintah juga sedang mempersiapkan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Pengamanan Produk Tembakau Sebagai Zat Adiktif Bagi Kesehatan. Rokok dan perokok dipandang sebagai sumber (berbagai) penyakit (sosial) yang perlu diberantas, atau setidaknya perlu dibatasi agar tidak menyebar kepada orang lain.
Di sisi lain, ratusan ribu petani tembakau dan buruh pabrik rokok melakukan unjuk rasa menolak RPP dan semua peraturan tentang pembatasan produk tembakau. Para buruh dan petani ini menunjukkan dengan jelas besarnya sumbangan tembakau dan produk tembakau dalam perekonomian rakyat, bahkan bagi penerimaan pemerintah. Penerimaan pemerintah dari cukai rokok, bahkan jauh melampaui pajak dari sejumlah perusahaan pertambangan terbesar di republik ini. Dalam situasi krisis ekonomi yang paling parah sekalipun, seperti yang terjadi pada 1998, usaha rokok dan produk tembakau lainnya tetap tidak terpengaruh –kalau tidak bisa dikatakan sebagai satu-satunya sumber ekonomi yang paling stabil. Selain itu, ada kurang lebih 6 juta rakyat Indonesia yang hidup dan perikehidupannya bergantung pada tembakau dengan segala industrinya. Industri tembakau merupakan salah satu kontributor terbesar pendanaan APBN.
Bukan rahasia lagi, perdebatan soal rokok dan produk tembakau sejatinya bukanlah sebatas wacana moral tentang dosa dan bukan dosa, bukan juga sekadar argumentasi teknis medis yang bebas nilai tentang sehat dan tidak sehat, tapi sudah berada pada ranah persaingan memperebutkan pasar bagi produk korporasi. Permainan bisnis korporasi ini dilakukan oleh para pemain industri farmasi yaitu perusahaan obat yang berperan dalam pembuatan produk “penghenti rokok”. Sebagai contoh adalah pemasaran obat-obat berhenti merokok seperti permen karet Nicorette, koyok Nicoderm dan Nicotrol, obat hirup dan semprot Nicotrol, dan Zyban.  Sementara para penggiat antitembakau sibuk mengampanyekan bahaya-bahaya tembakau dan ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan yang ketat atas tembakau, korporasi-korporasi internasional yang mendapat keuntungan bisnis dari agenda ini sibuk menghitung peluang-peluang meraup keuntungan dari bisnis nikotin ini.
Wanda Hamilton, seorang peneliti independen dan pengajar di tiga universitas terkemuka di Amerika, mengungkapkan dengan gamblang dan sangat rinci tentang motif-motif yang mendasari larangan dan pembatasan produk tembakau ini. Oleh INSISTPress dan Spasi Media, temuan Wanda Hemilton ini diterbitkan dalam bentuk buku berjudul “Nicotine War: Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat” . Melalui buku ini, INSISTPress dan Spasi Media ingin menyajikan informasi kritis dibalik kampanye antirokok yang saat ini marak digelar di negeri ini, sehingga diharapkan masyarakat bisa melihat secara jernih pesan utama di balik perdebatan dan pro/kontra tentang rokok dan produk tembakau.
Agar pesan dari buku ini bisa tersebar dan diketahui oleh masyarakat luas, INSISTPress, Spasimedia, dan Institut Indonesia Berdikari (IIB) berencana menyelenggarakan acara Peluncuran dan Diskusi Buku ini di 5 kota, yakni: Universitas Indonesia (UI), Jakarta; Universitas Padjadjaran (UNPAD), Bandung; Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta; Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang; dan TB Petra Togamas, Surabaya, Surabaya. Safari acara yang sedikitnya akan dihadiri oleh 150 orang tamu undangan ini akan diselenggarakan mulai tanggal 8 Juni hingga 17 Juni 2010.
Peserta dari Peluncuran dan Diskusi Buku ini akan terdiri dari mahasiswa, akademisi, aktivis organisasi masyarakat sipil, wartawan, petani, pelaku usaha, dan lain-lainl. Sedangkan narasumber/pembicara adalah para ahli di bidang industri dan perdagangan rokok dan tembakau, akademisi/cendekiawan, budayawan, dan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat, serta seniman. Di antaranya adalah Gabriel Mahal, Advokat & Pengamat Prakarsa Bebas Tembakau; Mohamad Sobari, budayawan; Nurtantio Wisnu Brata, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia Jateng; Jaya Suprana, pengusaha jamu tradisional, dan masih banyak lagi.
Diskusi ini akan diselingi dengan penampilan monolog oleh artis monolog, Whani Dharmawan. Dan untuk menyemarakkan suasana, usai diskusi akan diberikan buku dan t-shirt secara gratis bagi peserta yang mendaftar pertama dan yang aktif mengikuti diskusi. Pemberian buku dan t-shirt gratis ini akan dilanjutkan dengan penyablonan t-shirt secara cuma-cuma bagi peserta yang berminat. Panitia akan menyediakan sekitar 5 jenis desain t-shirt yang kreatif yang menggambarkan jiwa kebangsaan, kesadaran konstitusional, dan pikiran jernih dalam menyikapi setiap persoalan pelik.

YOGYAKARTA — Beberapa waktu terakhir ini, perdebatan tentang rokok dan tembakau merebak cukup hangat di tengah-tengah masyarakat di negeri ini. Belum sirna keheranan publik terhadap raibnya satu pasal dari Rancangan Undang-Undang Kesehatan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Selasa 9 Maret 2010, mengeluarkan fatwa haram terhadap rokok.

Sebelumnya, mengikuti jejak Pemda DKI Jakarta, sebagian besar Pemerintah Daerah dengan penuh antusias mengeluarkan Peraturan Daerah (PERDA) tentang larangan dan pembatasan terhadap perokok.

Pada saat yang sama Pemerintah juga sedang mempersiapkan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Pengamanan Produk Tembakau Sebagai Zat Adiktif Bagi Kesehatan. Rokok dan perokok dipandang sebagai sumber (berbagai) penyakit (sosial) yang perlu diberantas, atau setidaknya perlu dibatasi agar tidak menyebar kepada orang lain.

Di sisi lain, ratusan ribu petani tembakau dan buruh pabrik rokok melakukan unjuk rasa menolak RPP dan semua peraturan tentang pembatasan produk tembakau. Para buruh dan petani ini menunjukkan dengan jelas besarnya sumbangan tembakau dan produk tembakau dalam perekonomian rakyat, bahkan bagi penerimaan pemerintah.

Penerimaan pemerintah dari cukai rokok, bahkan jauh melampaui pajak dari sejumlah perusahaan pertambangan terbesar di republik ini. Dalam situasi krisis ekonomi yang paling parah sekalipun, seperti yang terjadi pada 1998, usaha rokok dan produk tembakau lainnya tetap tidak terpengaruh –kalau tidak bisa dikatakan sebagai satu-satunya sumber ekonomi yang paling stabil.

Selain itu, ada kurang lebih 6 juta rakyat Indonesia yang hidup dan perikehidupannya bergantung pada tembakau dengan segala industrinya. Industri tembakau merupakan salah satu kontributor terbesar pendanaan APBN.

Bukan rahasia lagi, perdebatan soal rokok dan produk tembakau sejatinya bukanlah sebatas wacana moral tentang dosa dan bukan dosa, bukan juga sekadar argumentasi teknis medis yang bebas nilai tentang sehat dan tidak sehat, tapi sudah berada pada ranah persaingan memperebutkan pasar bagi produk korporasi.

Permainan bisnis korporasi ini dilakukan oleh para pemain industri farmasi yaitu perusahaan obat yang berperan dalam pembuatan produk “penghenti rokok”.

Sebagai contoh adalah pemasaran obat-obat berhenti merokok seperti permen karet Nicorette, koyok Nicoderm dan Nicotrol, obat hirup dan semprot Nicotrol, dan Zyban.

Sementara para penggiat antitembakau sibuk mengampanyekan bahaya-bahaya tembakau dan ngotot menekan pemerintah untuk membuat regulasi pengontrolan yang ketat atas tembakau, korporasi-korporasi internasional yang mendapat keuntungan bisnis dari agenda ini sibuk menghitung peluang-peluang meraup keuntungan dari bisnis nikotin ini.

Wanda Hamilton, seorang peneliti independen dan pengajar di tiga universitas terkemuka di Amerika, mengungkapkan dengan gamblang dan sangat rinci tentang motif-motif yang mendasari larangan dan pembatasan produk tembakau ini.

Oleh INSISTPress dan Spasi Media, temuan Wanda Hemilton ini diterbitkan dalam bentuk buku berjudul “Nicotine War: Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat” .

Melalui buku ini, INSISTPress dan Spasi Media ingin menyajikan informasi kritis dibalik kampanye antirokok yang saat ini marak digelar di negeri ini, sehingga diharapkan masyarakat bisa melihat secara jernih pesan utama di balik perdebatan dan pro/kontra tentang rokok dan produk tembakau.

Agar pesan dari buku ini bisa tersebar dan diketahui oleh masyarakat luas, INSISTPress, Spasimedia, dan Institut Indonesia Berdikari (IIB) menyelenggarakan acara Peluncuran dan Diskusi Buku ini di 5 kota, yakni: Universitas Indonesia (UI), Jakarta; Universitas Padjadjaran (UNPAD), Bandung; Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta; Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang; dan TB Petra Togamas, Surabaya, Surabaya.

Safari acara yang sedikitnya akan dihadiri oleh 150 orang tamu undangan ini diselenggarakan mulai tanggal 8 Juni hingga 17 Juni 2010.

Peserta dari Peluncuran dan Diskusi Buku ini akan terdiri dari mahasiswa, akademisi, aktivis organisasi masyarakat sipil, wartawan, petani, pelaku usaha, dan lain-lainl. Sedangkan narasumber/pembicara adalah para ahli di bidang industri dan perdagangan rokok dan tembakau, akademisi/cendekiawan, budayawan, dan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat, serta seniman. Di antaranya adalah Gabriel Mahal, Advokat & Pengamat Prakarsa Bebas Tembakau; Mohamad Sobari, budayawan; Nurtantio Wisnu Brata, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia Jateng; Jaya Suprana, pengusaha jamu tradisional, dan masih banyak lagi.

Diskusi ini akan diselingi dengan penampilan monolog oleh artis monolog, Whani Dharmawan. Dan untuk menyemarakkan suasana, usai diskusi akan diberikan buku dan t-shirt secara gratis bagi peserta yang mendaftar pertama dan yang aktif mengikuti diskusi. Pemberian buku dan t-shirt gratis ini akan dilanjutkan dengan penyablonan t-shirt secara cuma-cuma bagi peserta yang berminat. Panitia akan menyediakan sekitar 5 jenis desain t-shirt yang kreatif yang menggambarkan jiwa kebangsaan, kesadaran konstitusional, dan pikiran jernih dalam menyikapi setiap persoalan pelik. (Anwar)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan