-->

Kronik Toggle

Risa Amrikasari Mengenalkan Hukum Lewat Sastra

Risa AmrikasariJumat dua pekan lalu, Komunitas Rose Heart Writers melucurkan Good Lawyer Season 2 di Jakarta. Buku ini berisi kumpulan cerita hukum yang ditulis 11 penulis dari berbagai latar belakang. Dunia hukum yang rumit menjadi lebih sederhana dalam kumpulan cerpen ini.

Sosok di balik penerbitan buku itu adalah Risa Amrikasari. Ia yang menggagas, mengumpulkan materi lewat kompetisi menulis, hingga menjadi buku. Tapi, menurut Risa, ini bukan buku bersifat komersial. Misinya: “Membantu para penulis baru dan memperkenalkan hukum kepada masyarakat.”

Semua bermula ketika Risa berulang tahun ke-37 pada 2006. “Saya bosan merayakan ulang tahun dengan cara yang itu-itu saja: karaoke semalam suntuk atau bagi-bagi makanan ke panti asuhan,” katanya.

Risa yang rajin ngeblog lantas mengumumkan kompetisi menulis cerita pendek di blog pribadinya dengan iming-iming hadiah total Rp. 4 juta dan kesempatan membukukannya. Jurinya diambil dari kalangan blogger. Semua proses lomba itu dibiayai dengan uang pribadi.

Para pemenang dan peserta kompetisi lalu bergabung dengan milis komunitas Rose Heart Writers bentukannya untuk diskusi seputar penulisan. Rose Heart adalah nama Risa di dunia maya. Tak lama, Buku Heart in The Sand bertema cinta terbit untuk kalangan sesama blogger. Tahun berikutnya, ia mengadakan lomba serupa dan melahirkan Buku Devotion yang masih bertema cinta dan juga terbit untuk kalangan terbatas.

Pada ulang tahun ke 39, Risa ingin sesuatu yang berbeda dan lebih serius. “Kali ini temanya hukum,” ujarnya. Risa yang lama bekerja di kantor pengacara dan sedang mengambil magister hukum di Universitas Gajah Mada mengamati bahwa membicarakan soal hukum kepada kalangan awam hukum itu tidak mudah. “Saya cuma ingin kalangan awam melek hukum, dan cerpen adalah cara yang sederhana, mudah dipahami sekaligus menghibur.”

Kriteria penilaian cerpen menjadi lebih spesifik. “Kriteria penilaian terbagi atas ide cerita, aspek hukum, dan alur ceritanya sendiri,” ujarnya. Ahli sastra dan dosen di University of California Berkeley, Prof. Sylvia Tiwon, Pengacara Dwiyanto Prihartono, SH, dan sastrawan Cok Sawitri menjadi juri pada kompetisi ketiga ini. Hasilnya: buku Good Lawyer terbit dan beredar luas pada Januari 2009.

Good Lawyer season 2 yang terbit dua pekan lalu menjadi kado ulang tahun Risa ke-40 dari kompetisi menulis yang masih mengambil tema hukum. Menurut Risa yang juga menulis untuk keempat kumpulan cerpen itu, “kisah-kisah dalam Good Lawyer merupakan fiksi dengan ide cerita dari kejadian di dunia hukum saat ini.”

Risa lahir di Jakarta dari pasangan Soekardjan, pensiunan polisi dan Entjun Sunariyah, mantan lurah. Sejak kecil, ia sangat menyukai sastra. Ketika anak seusianya baru berlatih membuat kalimat lengkap, sulung dari empat bersaudara ini sudah membuat karangan dua halaman folio.

Lulus SMA, ia kuliah di Jurusan Sastra Inggris, Universitas Nasional. Butuh waktu agak lama untuk menyelesaikan kuliahnya, karena Risa sudah bekerja tetap ketika kuliah. Bermodal ijazah Sastra Inggris, ia mendapat pekerjaan yang mengutamakan kemampuan berbahasa Inggris:  dari sekretaris hingga Corporate Secretary.

Pada 2002, Risa yang telah menjadi single parent untuk dua putrinya, berencana pindah ke New Zealand untuk hidup baru. Dia pensiun dini dari posisi Corporate Secretary dan menyiapkan berkas untuk tinggal di sana. Tapi, peristiwa bom Bali membuat rencana Risa berantakan. Visa New Zealand hanya keluar untuk tiga minggu. Jadilah Risa kembali mencari kerja di Jakarta.

Ketertarikannya pada hukum bermula dari perkenalannya secara tak sengaja dengan pengacara Dwiyanto Prihartono, SH. “Saya baru selesai wawancara kerja dan menabrak dia,” Risa mengenang. Mereka bertukar nomor telepon dan saling kontak. Tiga bulan kemudian Dwiyanto mempekerjakan Risa di firma hukumnya.

Dengan kesibukannya yang luar biasa, Risa menyempatkan waktu menulis di Blackberry miliknya, misalnya kalau sedang menunggu atau kena macet di jalan. Tulisan itu ia transfer ke komputer dan dipublikasikan di blog miliknya.

Dan karya-karyanya terus hadir. Juli mendatang, ia akan meluncurkan buku motivasi berjudul Heart to Heart. Sebelumnya, pada 2009, ia meluncurkan buku motivasi Especially for You yang memperoleh royalti lumayan. “Tapi ya gali lubang tutup lubang.” Soalnya, royalti buku itu dipakai untuk promo dan roadshow Good Lawyer.

Pada hari kerja, Risa tinggal di kawasan Ambassador, Jakarta Selatan. Ketika akhir pekan, ia tinggal di kawasan Cibubur bersama dua putrinya, Sidney Callista dan Edsa Estella. AMANDRA MUSTIKA MEGARANI

Nama : Risa Hartati Amrikasari
Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta, 22 Oktober 1969
Hobi : Menulis, Golf, Karaoke

PENDIDIKAN :
– Sarjana Sastra Inggris Universitas Nasional (lulus tahun 1994)
– Magister Hukum, Universitas Gajah Mada (on going)

KARIR:
2010 – sekarang Intellectual Property Rights Consultant & Deputy Director, Intellectual Property Advisory Services (IPAS) Institute
2008 – sekarang Government Liaison Officer, International Organization for Migration (IOM) Indonesia
2006 – sekarang Owner & Managing Director, Rose Heart Publishing
2004 – sekarang Associate, General Corporate & Commercial Litigation Law Firm, Prihartono & Partners Law Office
2004 – 2008 National Programme Assistant for Asia, International Organization for Migration (IOM) Indonesia
2003 – 2004 Personal Assistant to the Managing Partners, Prihartono & Partners Law Office
2000 – 2002 Executive Assistant to the Board of Directors (Corporate Secretary), PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia
1993 – 2000 Executive Secretary to the President Director, PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia
1992 -1995 Senior Secretary to the Senior Managers, Drs Gunawan, Prijohandojo & Co., Arthur Andersen & Co., International Tax Consultant
1991 – 1992 Secretary to the Planning & Project Director, Lippo Village, Pt Lippo Karawaci Indonesia

PENGHARGAAN
2007-Indonesian Representative for IOM Director General Award
2001-Anugerah Wanita Eksekutif se-Jawa & Bali
1999-100 Profil Wanita Eksekutif Indonesia
1998-Kharisma Kartini Se-Jawa Tengah dan Yogyakarta

*) tempointeraktif, 23 Juni 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan