-->

Kronik Toggle

Remeh Temeh Penulisan Sejarah

Oleh
Dyah Sulistyorini

Stagnasi pada penulisan sejarah populer perlu disiasati, salah satunya dengan upaya menghadirkan hal remeh-temeh dari sejarah. Sesuatu yang dekat dengan keseharian atau problem aktual, tetapi tetap mampu memikul tugas sejarah sebagai alat untuk bercermin masa lalu.

Stagnasi historiografi memang terasa dilihat dari kecilnya jumlah karya yang menggetarkan dan mampu memberi inspirasi. Kondisi ini membuat gelisah peneliti sejarah di Komunitas Bambu JJ Rizal.

Rizal dalam kursus penulisan sejarah yang diselenggarakan majalah online, “Historia” awal Juni lalu mengatakan, “Kita kekurangan sosok yang memiliki `asketisme intelektual`, sosok yang mengabdikan hidupnya untuk keilmuan dan pencapaian diri dengan terus melahirkan karya-karya yang menggetarkan dan menginspirasi.”

Rizal yang pernah bertahun-tahun menjadi kolumnis “Batavia-Jakarta Tempo Doeloe” di “Het Indisch Maanblad Moesson”, Belanda, menyayangkan intelektual kampus yang jumlahnya makin meningkat namun belum memberi dampak positif bagi penulisan sejarah populer.

“Ironis, kita kekurangan karya bagus dan inspiratif meski tiap tahun kampus-kampus mengalami peningkatan jumlah sarjana S1, S2 dan S3. Padahal semestinya intelektual kampus yang banyak berperan memberi stimulus bagi tumbuhnya wacana sejarah di masyarakat.”

Rizal menyimpulkan bahwa kursus penulisan sejarah menjadi penting bukan hanya menjadi alternatif namun juga sekaligus menjadi wahana bagi masyarakat yang berminat untuk mengenal dan mengetahui sejarah.

“Dalam kuliah retorika sejarah yang bertujuan untuk mengarahkan siswa untuk memahami bahwa sejarah adalah penyampaian cerita dan untuk itu memerlukan gaya bercerita, tentu di tengah arus media tontonan yang makin hebat, para terdidik sejarah harus bersaing agar ceritanya mendapat tempat di hati masyarakat,” katanya.

Rizal melanjutkan, sejarah populer yang terlibat dengan isu kekinian atau yang dekat dan akrab itulah yang akan mempermudah masyarakat memahami masalah “sekarang” dari peristiwa sejarah dan mereka dituntun memiliki perspektif.

Dalam konteks itu, Rizal mengatakan, “Kita rindu kenakalan-kenakalan yang genial, yang mencerdaskan yang bisa ditampilkan lewat hal-hal kecil untuk memahami masalah besar, karena ada refleksi dan di situlah sejarah mampu berfungsi sebagai cermin yang membawa kekinian masa silam.”

Mosaik itu tampak nyata dalam salah satu esai JJ Rizal berjudul “Nyamuk dan Kota yang Ambruk” yang terbit di Kolom Tempo, 29 April 2007.

Rizal dengan cerdas mampu mengusung sejarah “Old Batavia” lewat nyamuk sebagai masalah kota Batavia sejak jaman Gubernur Jenderal Dirk van Cloon (1732-1735) berkuasa dan mengaitkan dengan rentetan data dan fakta yang menyertai perkembangan penyakit itu.

Melalui kaca mata mikro pula kita diajak untuk menjelajah waktu seperti tulisan JJ Rizal di harian Kompas, 14 Oktober 2006 hal 27 tentang sejarah kuliner berjudul “Persaudaraan Dalam Kue Lebaran”.

Contoh lain adalah tulisan JJ Rizal tentang sejarah ikan asin berjudul, “Ikan Asin, on The Historical, Nutritional and Sentiment Properties Ofsalt Fish” yang bercerita tentang potret durhaka kita terhadap negara kepulauan lewat cerita tentang ikan asin.

Sementara Bonnie Triyana, Direktur Utama PT Mediahistoria Indonesia, majalah sejarah online mengemukakan bahwa lewat karya-karya mikro itulah penulis mampu mengaktualkan sejarah.

Dia mengatakan, “Tidak ada hal yang tidak aktual, semua bisa dilihat secara aktual, tergantung sudut pandang kita melihat masalah sejarah dan lewat sejarah mikrolah kita bisa menangkap hal-hal aneh masa silam, sesuatu yang menggugah, yang menggetarkan hati.

Bonnie lewat tulisannya berjudul “Madu dan Racun di Rangkasbitung” di Kolom Tempo, 2 Mei 2010 berhasil mengangkat tema sejarah besar lewat kacamata racun yang sudah digunakan sejak jaman “baheula”.

Sementara itu Dadan Ramdani pengajar pada Lembaga Pendidikan Jurnalistik ANTARA mengatakan bahwa penulis sejarah dituntut untuk mencari angle atau sudut pandang yang menarik dan itu butuh imajinasi yang kuat.

“Meski sudah jelas bahwa sejarah pasti ada subjektivitas di ujungnya, namun subjektivitas itu harus tetap didukung data dan fakta yang teruji keabsahannya,” ujarnya sambil menyarankan penulis sejarah untuk sering-sering melihat film.

“Penulis sejarah harus sering melihat film dan menulis sejarah ibarat sedang bermain puzzle yang menuntut kecerdasan dan kelihaian untuk mencari serta memasangkan kepingan-kepiangan yang terlepas,” ujar Dadan yang menjadi editor buku “99 Tokoh Olahraga Indonesia, Catatan Satu Abad (1908-2009)”.

Sedangkan JJ Rizal mengemukakan selalu kagum dengan “historian akademis” mampu membuat karya memukau secara akademis, tetapi juga mampu menulis kolom sejarah yang berefleksi atas persoalan-persoalan kekinian.

“Sayang, faktanya kita sangat kekurangan historian yang mau dan mampu memenuhi kewajiban sebagai sejarawan publik,” ujar Rizal.

Dia melanjutkan, “Sesungguhnya sejarawan yang intelektual publik mendapat nilai besar atas kontribusinya, ia memberi perspektif yang menyadarkan sebab mampu menghadirkan sejarah ke masa kini sebagai alat refleksi.”

Lalu pertanyaan selanjutnya adalah benarkah kita kekurangan karya-karya sejarah yang menggetarkan? Bila selama ini sejarah dimetaforkan sebagai sejenis burung aneh yang menyuarakan hal aneh-aneh dari masa silam, maka saatnya memang sejarawan menulis hal-hal aneh, hal-hal unik yang selama ini diabaikan, dilupakan dan dianggap remeh agar bisa dekat dengan pembacanya, demikian pendapat Rizal.

Semetara itu Gerry van Klinken, peneliti sejarah dari KITLV (Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies) memandang cara pendekatan yang dipakai JJ Rizal sebagai sesuatu yang bagus dan layak dikembangkan secara lebih luas.

Sedangkan Dadan Ramdani melihat kesadaran penulisan sejarah popular sudah makin baik dari tahun ke tahun. “Dari kecil kita tidak dibiasakan menyampaikan wacana ke publik, wacana yang mengemas sesuatu secara layak, koheren dan populer namun jangan berkecil hati karena lambat laun kesadaran itu sudah mulai banyak muncul sekarang-sekarang ini,” ujarnya.

*) kompas.com 22 Juni 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan