-->

Kronik Toggle

Orang Sakit Pun Disediakan Bacaan

MALANG, Pertamina bekerjasama dengan Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang serta Gerakan Anak Indonesia Membaca membuka ruang baca gratis bagi pasien di RSSA Malang.

Masyarakat yang tidak membaca adalah masyarakat miskin gagasan. Masyarakat seperti ini akan gagal memerangi buta aksara dan kemiskinan.

Hal ini diharapkan akan meningkatkan budaya membaca pada masyarakat di mana pun berada.
Anjungan membaca tersebut dibuat di lobi lantai satu RSSA Malang, di areal 3 x 8 meter persegi di sekitar ruang pemeriksaan di lantai satu RSSA.

Terdapat ratusan judul buku, majalah, dan surat kabar yang disediakan untuk dibaca pasien sambil menunggu pemeriksaan. Nyonya Cahyono (73), seorang pasien RSSA pada Rabu (3/6/2010), mengaku cukup senang dengan anjungan membaca itu.

“Saya senang membaca novel. Dengan adanya ruang baca gratis ini jelas saya senang. Ini bisa mengisi waktu saya saat menunggu pemeriksaan,” ujarnya.

Ruang baca ini dibuka setiap Senin-Jumat mulai pukul 08.00-16.00 WIB. Sebelum bisa menikmati bermacam jenis buku ini, pembaca harus mengisi buku hadir terlebih dahulu.

Anjungan buku ini diharapkan bisa dimanfaatkan oleh pasien dan pengantar di sela-sela menunggu pemeriksaan. “Koleksi bukunya akan disirkulasikan dengan jaringan kepustakaan Provinsi Jawa Timur agar buku-bukunya tetap up to date,” ujar koordinator Gerakan Anak Indonesia Membaca, Daniel Mohammad Rosyid.

Menurut Daniel, dengan memasyarakatkan membaca di mana pun dan kapanpun, diharapkan budaya membaca bagi bangsa Indonesia terus tumbuh. Sebab salah satu kunci keberhasilan dan kesejahteraan masyarakat menurut Daniel adalah dengan membaca.

“Sayang sekali saat ini budaya baca bangsa Indonesia termasuk masyarakat Jatim masih tertinggal. Salah satu indikatornya bida dilihat dari jumlah judul buku yang diterbitkan setiap tahunnya,” imbuh Daniel.

Indonesia setiap tahun menurut Daniel paling banyak menerbitkan 10.000 judul buku. Jumlah ini sangat sedikit bila dibandingkan dengan Malaysia yang menerbitkan 15.000 judul buku setahunnya, atau Inggris yang menerbitkan 100.000 judul buku setiap tahunnya.

“Masyarakat yang tidak membaca adalah masyarakat miskin gagasan. Masyarakat seperti ini akan gagal memerangi buta aksara dan kemiskinan,” ujar Daniel.

*) Oase.kompas.com 3 Juni 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan