-->

Lainnya Toggle

Komunitas Literasi 3.0

Oleh. AGUS M. IRKHAM
Membaca buku, semula bersifat personal, kini komunal. Para penggila buku berhimpun dalam sebuah komunitas, kelompok, paguyuban, atau apapunlah namanya. Mereka saling berbagi pengalaman membaca, bertukar informasi perihal buku baru, dan lain sebagainya. Kelompok ini biasa disapa dengan sebutan komunitas literasi. Kata komunitas untuk menunjukkan himpunan orang-orang yang disatukan oleh kesamaan hobi dan nilai (value). Sedangkan literasi merujuk pada makna baca tulis (buku).

Komunitas literasi ini lahir, tumbuh, dan berkembang tidak di lingkungan yang vakum. Siklus dan gaya gerakan mereka senantiasa bertalian dengan aktivitas dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Itu sebab, komunitas literasi mengalami perubahan bentuk dan gaya pula. Akibat dari upaya mengakomodasi, dan imitasi terhadap perubahan itu.

Dalam hitungan saya, komunitas literasi telah mengalami tiga kali gelombang pergeseran, jika tidak mau disebut sebagai perubahan. Boleh juga disebut sebagai tiga generasi. Generasi pertama, komunitas literasi yang semata-mata berbasis pada perpustakaan. Kegiatannya melulu meminjam, membaca buku, mengembalikan. Sudah itu saja. Inilah kegiatan paling minimal yang dapat dihelat oleh komunitas literasi generasi pertama (1.0). Karena aktivitasnya bersifat sangat teknis, birokratis, dan formal, menyebabkan sifat keanggotannya memiliki angka turn over (keluar-masuk) tinggi. Aktivisnya selalu gonta-ganti. Keberadaannya sering kali on off. Masih sangat tergantung pada satu ketokohan. Yang biasanya selain menjadi ujung tombak, juga menjadi ujung tombok.

Komunitas literasi generasi pertama ini masih bisa dijumpai, terutama di desa-desa. Masih terjadi demikian karena memang akibat dari terbatasnya sumber daya, fasilitas, askes informasi, jaringan, dan sarana-prasarana. Komunitas literasi masih sama dengan perpustakaan. Kalau mau kita perluas makna komunitas literasi generasi pertama ini, khususnya dari segi model kegiatannya, maka perpustakaan pemerintah, baik yang berada di kecamatan, kabupaten dan provinsi, jika operasi perpustakaan hanya mendasarkan pada pinjam, baca, mengembalikan, maka perpustakaan yang demikian masih masuk ke dalam kelompok komunitas literasi generasi pertama. Semua aktivitas berjalan dengan sistem temu langsung atau tatap muka.

Itu komunitas literasi generasi pertama. Bagaimana yang kedua (2.0)?

Komunitas literasi generasi kedua, adalah komunitas baca tulis yang telah memperluas kegiatannya/varian layanannya tidak semata-mata pinjam buku, baca, dan mengembalikan. Ada banyak acara yang digelar untuk menambah efektifitas gerakan pemasyarakatan minat baca. Mulai dari peluncuran dan bedah buku, jumpa penulis, workshop kepenulisan, lomba membacakan buku cerita (read aloud), dan lain sebagainya. Pendek kata, komunitas literasi 2.0 ini telah menyadari betul, buku, meskipun sebagai produk budaya bersifat sangat superior (unggul), sekaligus mulia, tapi jika tidak dipasarkan, atau dipasarkan tapi dengan cara-cara yang kuno (tradisional/lama/inferior

) maka tidak ada atau hanya sedikit saja orang yang mau “beli”.

Varian layanan itu didasarkan pada satu kausa mendasar. Yaitu adanya kesadaran: isi (content-buku) itu penting, tapi belum cukup. Agar menarik konsumen (pengunjung), dan mereka mau membeli (membaca), maka isi tersebut harus dikemas secara menarik (context). Jadi (aktivitas membaca)buku tidak ”dijual” tapi ”dipasarkan.” Maka buku itu harus dipasarkan dengan beragama kegiatan yang mengarah pada mobilisasi massa, populer, dan nyatai tanpa harus kehilangan substansi.

Sekarang ini di Indonesia, komunitas literasi yang demikian (generasi kedua ini) telah menjadi kecenderungan umum. Seperti yang bisa kita baca di katalog program World Book Day 2010 Indonesia. Di katalog bertajuk “Kepergok Membaca” yang dikeluarkan oleh Forum Indonesia Membaca tersebut memuat kurang lebih 50 komunitas literasi. Mereka berasal dari beragam daerah: Jakarta, Wonosobo, Muntilan, Serang, Surabaya, Solo, Bandung, Sumedang, hingga Manado.

Ada banyak bentuk dan strategi memarketingkan budaya baca. Tapi dari sekian banyak siasat itu, mayoritas masih bertemu pada satu lokus yaitu menjadikan buku sebagai pijakan awal gerakan, untuk kemudian dikemas dengan beragam program kreatif. Di dalam komunitas literasi generasi kedua ini, dari segi modus kontak para eksponennya agak sedikit berbeda dengan komunitas literasi generasi pertama. Selain dengan tatap muka (offline), mereka juga melengkapinya dengan model komunikasi maya (online).

Terakhir, komunitas literasi generasi ketiga (3.0). Komunitas ini memaknai entry literasi tidak terbatas pada “baca tulis” apalagi “buku” belaka. Lebih luas dari itu. Literasi mereka artikan sebagai kemampuan yang diperlukan oleh seorang atau sebuah komunitas untuk ambil bagian dalam semua kegiatan yang berkaitan dengan teks dan wacana. Dengan deskripsi yang berbeda: Literasi tidak semata-mata mencakup persoalan membaca dan menulis (performative), namun bergandengan pula dengan aspek lain, seperti ekonomi, politik, hukum, teknologi (fuctional), serta pendidikan, sejarah, dan gaya hidup (informational-epistic).

Maka ciri paling kentara dari komunitas literasi generasi ketiga ini adalah dijadikan ikon budaya pop (musik, nonton, jalan-jalan, bermian, film, fotografi, internet, game online, animasi, ngobrol) sebagai titik pijak gerakan. Semuanya bisa digerakkan secara online. Artinya sesama eksponennya tidak harus atau wajib bertatap muka langsung. Dan nampaknya ke depan, komunitas literasi generasi ketiga inilah yang bakal mendominasi. Baik dari segi kelahirannya (munculnya komunitas baru), magnet perhatian publik, maupun publikasi aktivitasnya.♦

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan