-->

Tokoh Toggle

Kirana Kejora, Penulis Indie yang Rela Tinggalkan Pekerjaan Mapan

kirana_kejoraJawab Protes Keluarga dengan Karya

Acara bedah buku yang berlangsung di kawasan Ngagel awal Mei lalu berlangsung sederhana. Pengunjung yang umumnya kalangan seniman duduk di gelaran karpet. Mereka membedah novel Elang karya Kirana Kejora.

PUJI TYASARI

ELANG berkisah tentang saudara kembar bernama Elang Timur dan Elang Laut. Elang Timur merupakan pria sukses, cerdas, dan punya jabatan tinggi. Dia juga ilmuwan yang peduli terhadap nasib kaum terpinggirkan. Sementara Elang Laut seorang seniman sederhana yang terkesan lemah dan tak berpendirian. Dua bersaudara itu sama-sama mencintai perempuan bernama Jora.

Namun, Timur menyadari bahwa dirinya, yang tiap hari bergelut dengan bahan-bahan kimia di laboratorium, tidak mampu memberikan keturunan kepada Jora. Sementara Laut mampu menekan egonya sampai pada titik terendah. Dia mencintai Jora meski tak harus memilikinya.

Cerita tersebut sebenarnya sederhana, sebuah cinta segi tiga. “Namun, penulis piawai meramu sehingga menjadi sebuah cerita yang menarik. Sarat konflik di antara tokoh-tokohnya,” kata Ferry Herlambang, pembedah buku yang juga penulis novel berbasis IT.

Novel Elang, menurut Kirana Kejora yang juga hadir dalam bedah buku tersebut, sekitar 70 persen merupakan kisah nyata. Antara lain dari pengalamannya ketika bekerja sebagai staf ahli sosial ekonomi proyek Management Monitoring Consultant di Lombok.

“Saya sempat bekerja di sana, jadi setting-nya pun di sana. Ada tiga tempat, yaitu Papua, Jakarta, dan Lombok,” papar Kirana yang tak bersedia menyebut nama aslinya. “Tentang ilmuwan dalam cerita itu, juga tidak jauh dari pengalaman saya yang sempat bekerja sebagai peneliti,” sambungnya.

Kirana Kejora merupakan salah seorang penulis indie (independen) yang sukses. Salah satu karyanya yang menjadi banyak perhatian ya Elang itu. Novel yang terbit tahun lalu tersebut dianggap sangat maskulin.

Kirana bercita-cita menjadi penulis sejak berusia sembilan tahun. Karena itu, dia berangan-angan studi di jurusan sastra atau antropologi. Namun, nasib membawanya ke fakultas perikanan.

“Itu keinginan orang tua saya,” ungkap alumnus Universitas Brawijaya tersebut.

Namun, keinginannya menjadi penulis tetap diasah. ”Salah satunya dengan mempelajari sosial ekonomi (saat kuliah). Saya bisa bertualang ke rumah-rumah nelayan, menyenangkan,” kenangnya.

Setelah lulus, dia bekerja sebagai staf pengajar di SMK Perikanan Lampung. Dia kemudian menjadi staf ahli sosial ekonomi proyek Management Monitoring Cosultant di Sulawesi Tenggara dan sekitarnya. Kirana juga pernah menjadi staf pengajar di Universitas Hang Tuah Surabaya. Namun, semua pekerjaan mapan tersebut tak sesuai dengan hatinya. “Akhirnya kampus saya tinggalkan,” katanya.

Dia melampiaskan kecintaannya terhadap menulis sebagai wartawan di sebuah tabloid pada 2004. Kirana menulis beragam karya, mulai puisi, skenario film, hingga novel. Dia lalu memutuskan menjadi full time writer (penulis). “Keluarga besar belum menerima keadaan saya sebagai full time writer,” katanya. “Malah (keputusan itu, Red) dianggap sebagai kebodohan. Apalagi, tawaran menjadi dosen juga saya tolak. Tapi, saya tetap setia dengan pilihan saya,” tegas dia.

Kirana lebih memilih jalur indie agar idealismenya tak terpasung kepentingan bisnis penerbit major label. Tapi, tidak adanya dukungan keluarga cukup menjadi beban bagi Kirana. Apalagi, pernikahan yang telah dibina selama sembilan tahun juga kandas. “Ada perempuan ketiga yang hadir. Itu adalah saat-saat terburuk dalam hidup saya,” kenang wanita yang sudah tujuh tahun menjadi penulis tersebut.

Dia mencoba bangkit dan memutuskan hijrah ke Jakarta. “Kedua anak saya diasuh ibu saya (di Sidoarjo),” katanya. Mengapa ke Jakarta? “Surabaya nerakanya penulis. Apresiasi terhadap seni masih sangat kurang,” paparnya.

Di Jakarta, pelan-pelan Kirana menemukan kehidupannya. Beberapa karyanya mendapat apresiasi banyak kalangan. Bahkan, permintaan penulisan skenario film untuk televisi pun berdatangan. “Akhirnya saya mampu menunjukkan, setidaknya kepada keluarga besar saya, bahwa menjadi penulis tak bisa dipandang sebelah mata,” tuturnya.

Di Jakarta, perempuan kelahiran Ngawi itu bergabung dengan komunitas sastra dan aktif menunjukkan karyanya melalui performance show. Salah satunya membaca puisi teatrikal. “Kok pas, acara itu dihadiri penyair ternama dari Malaysia Dato Kemala. Nggak nyangka, beliau tertarik dengan performance saya. Akhirnya saya diundang jadi salah satu pembicara di Malaysia,” jelas Kirana. “Saya pembicara dari komunitas indie,” imbuhnya.

Kirana hadir dalam Seminar Wajah Kepengarangan Muslimah Nusantara 2009 di Kuala Lumpur Maret tahun lalu. Seminar tersebut dihadiri wakil lima negara, yakni Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Indonesia. “Ada juga beberapa pembicara dari Indonesia yang diundang mewakili komunitas. Tapi, saya diundang mewakili diri sendiri,” terang perempuan 38 tahun itu.

Di seminar tersebut, dia juga bercerita tentang Elang. “Selain di Malaysia, Elang, tanpa sepengetahuan saya, ternyata juga dibedah oleh mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri. Seperti di London, Yaman, juga Jepang,” ungkapnya.

Kirana tidak memilih major label karena dirinya tidak mau tulisannya diedit yang kemudian mengubah arti dan keasliannya. “Saya juga tidak mau di bawah bayang-bayang penerbit untuk memasarkan sebuah buku. Saya ingin memasarkan buku saya sendiri, tidak mengikuti keinginan atau style penerbit. Saya lebih suka bebas dan independen,” tegasnya.

Di bawah naungan Almira Management, indie label atau penerbit yang dirintisnya, dia mengedarkan 3.000 eksemplar Elang. Kamis malam lalu (3/6) Elang juga tampil di acara komedi Opera van Java (OVJ). “Awalnya cuma sharing dengan salah satu tim kreatif OVJ. Ternyata, mereka tertarik, kemudian diambil beberapa pelesetan ala OVJ, saya terima,” katanya.

Selain Elang, karya perempuan single fighter itu antara lain Kepak Elang (novelet dan kumpulan puisi), Selingkuh (antologi cerpen dan puisi), Perempuan dan Daun (antologi cerpen dan puisi bergambar), Gempa Padang (antologi puisi bersama penyair Indonesia-Malaysia), Surat-Surat Hawa (antologi puisi bersama penyair Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, dan Indonesia), serta Jangan Bunuh Anakku (novel inspiring tentang AIDS). Kini dia bersiap meluncurkan Biru Mahameru dan Elang 2. “Kalau tidak ada halangan, keduanya bisa lahir tahun ini,” ucapnya. (*/c9/cfu)

*) Jawa Pos, 5 Juni 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan