-->

Tokoh Toggle

Indoq Masseq, Pelantun Syair La Galigo

Indoq Masseq dan Tradisi “Massureq”
Selasa, 8 Juni 2010 | 02:45 WIB
Aswin Rizal Harahap
”Ki pemmagai lobbang linoe’,
bere-bere teng lolo tona,
manuq-manuq teng luttuq tona…”.
Penggalan syair dari kitab ”La Galigo” itu melantun indah dari mulut Indoq Masseq. Suara lembut perempuan itu sesekali terdengar tinggi melengking seperti orang mengaji. Alunan berirama ratusan suku kata itu memecah keheningan rumah panggung di Desa Buloe, Kecamatan Maniangpajo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.
Seni melantunkan syair La Galigo disebut massureq. La Galigo adalah epik mitos penciptaan dari peradaban Bugis di Sulsel, yang ditulis dengan aksara Bugis Lontara berbentuk puisi berbahasa Bugis kuno. Isinya asal usul penciptaan manusia dan berbagai petuah bijak yang dijunjung tinggi masyarakat Bugis.
Dengan kesakralan itu, La Galigo menjadi kitab suci penganut Hindu Tolotan dalam masyarakat Bugis sebelum Islam disebarluaskan di Sulsel. Aliran kepercayaan itu masih dianut sebagian warga di daerah tempat tinggal Indoq Masseq di Desa Buloe, sekitar 19 kilometer dari ibu kota Kabupaten Wajo, Sengkang.
Massureq masih kerap dilakukan pada sejumlah upacara adat, seperti maddoja bine (menabur benih padi di sawah), mappaenreq bola (selamatan rumah baru), mappabotting (pernikahan), dan macceraq arajang (selamatan benda pusaka).
Saat kekeringan melanda Kecamatan Maniangpajo pada akhir 1960-an, warga menganggap hal itu dipicu oleh tak adanya massureq. Sejumlah pelantun massureq sebelum masa itu, seperti I Tasik, I Ganda, I Susang, dan La Semang, sudah meninggal. Mereka tak menurunkan ilmu massureq.
Kondisi ini menggugah Indoq mempelajari massureq dari Ruseng, sang mertua yang menguasai ajaran La Galigo, pada tahun 1968. Awalnya, ia kesulitan karena bahasa dalam La Galigo sarat makna idiom dan kiasan.
Namun, dengan semangat dan ketekunan, Indoq mampu menguasai massureq dalam tiga tahun. Ia—kala itu berusia 26 tahun—mulai dipercaya melantunkan syair La Galigo dalam upacara penaburan benih padi di sawah. Penampilan perdana itu disambut warga sebab ia mampu melantunkan syair La Galigo semalam suntuk tanpa diiringi alat musik sesuai aturan.
Hal itu juga menumbuhkan kepercayaan diri Indoq untuk tampil dalam berbagai upacara adat di Kecamatan Maniangpajo dan di Kabupaten Wajo. Dalam setiap pementasan massureq, ia mendapat imbalan bahan pangan, seperti beras, ayam, daging sapi, ketan, dan pisang.
Ilmu itu diturunkan
Reputasi Indoq dalam massureq semakin dikenal. Namun, ia tak ingin kemampuan itu hanya dia nikmati sendiri. ”Belajar dari masa lalu, ilmu massureq sebaiknya diturunkan agar tak punah dan tetap bermanfaat,” tuturnya.
Tahun 1988, Indoq mulai mengajarkan ilmu massureq kepada anak keduanya yang saat itu berusia 6 tahun, Indoq Wero (kini 28 tahun). Indoq Masseq memberikan buku berisi salinan isi La Galigo yang ditulis dengan aksara Lontara. Ia mengajari anaknya setiap malam.
Ketika Indoq Wero berusia 12 tahun, Indoq Masseq mengajaknya ke sejumlah upacara adat. Sesekali dia memberikan kesempatan anaknya unjuk kebolehan. Permintaan tampil kian banyak tatkala Indoq Masseq berkenalan dengan Sudirman Sa’bang, sarjana penggerak pembangunan pedesaan, pada 1994.
Sudirman yang mengagumi kemampuan massureq Indoq Masseq mengajaknya tampil di sejumlah acara kebudayaan di Makassar. Indoq pun menarik sejumlah pemerhati kebudayaan, seperti Nurhayati Rahman, pengajar Jurusan Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, dan Ian Caldwell, penulis asal Amerika Serikat.
Dalam acara Gerakan Revitalisasi Kebudayaan Sulsel di Malino (2002), mereka sepakat, massureq menjadi salah satu budaya yang wajib dilestarikan. Dua tahun berselang, Nurhayati menerjunkan sejumlah mahasiswa Sastra Daerah Universitas Hasanuddin ”magang” di Desa Buloe, Maniangpajo, Wajo.
Selama dua bulan, mahasiswa belajar massureq di rumah Indoq meskipun untuk itu ia harus menyulap ruang tamu 3 x 4 meter di rumah panggungnya menjadi kelas. Sampai 2005, ia mengajari sekitar 50 mahasiswa. Di sini, ia didampingi Sudirman yang bertugas sebagai penerjemah.
Seusai masa magang, Indoq tak ingin ruang kelas itu mubazir. Ia merekrut anak-anak usia 9-15 tahun yang mau belajar massureq. Sebanyak 16 anak, termasuk Ramadhani (14), cucunya, belajar massureq dua kali dalam seminggu. Ia dibantu Indoq Wero.
”Saya mengajarkan mereka cara melantunkan syair-syair La Galigo dengan benar. Makna syair itu diajarkan seiring mereka beranjak dewasa,” ungkap Indoq yang tampil di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 2005.
Setahun kemudian, Indoq Masseq dipercaya menjadi dosen tamu Jurusan Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin untuk mata kuliah Kajian La Galigo. Ini merupakan program Pusat Studi La Galigo (PSLG) Universitas Hasanuddin untuk merevitalisasi kebudayaan. Meski tak tamat sekolah dasar, Indoq mantap menerima kepercayaan itu.
Setahun, Indoq yang sudah berusia 61 tahun rela bolak-balik menumpang angkutan umum dari Wajo ke Makassar yang berjarak 242 kilometer. Rasa lelahnya itu terbayar dengan antusiasme mahasiswa untuk mengenali lebih dalam seni menuturkan syair La Galigo. Dalam penyampaian materi, ia didampingi Esti Pertiwiningsih, pengajar Sastra Daerah Universitas Hasanuddin.
Tugas menjadi dosen tamu berlangsung hingga 2007, seiring berakhirnya kontrak Yayasan Ford Foundation dengan PSLG. Indoq pun kembali mengelola sawah seluas satu hektar bersama suaminya, Ummereng.
Namun, Indoq Masseq masih berharap dia bisa kembali ke kampus. Keinginannya menularkan ilmu massureq tak pernah padam meski fisiknya semakin renta. ”Kalau tawaran itu (mengajar) datang lagi, saya tak akan menyia-nyiakannya. Saya ingin seni melantunkan syair La Galigo semakin digemari generasi muda,” katanya.
***
INDOQ MASSEQ
• Lahir: Desa Ujungpero, Kecamatan Sabbang Paru, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, 1945
• Suami: Ummereng (65)
• Anak: Indoq Intan (35), Indoq Wero (28), Ahmadi (15)
• Pencapaian:
– Melantunkan syair ”La Galigo” atau ”massureq”, 1968-kini
– Tampil pada acara kebudayaan di Benteng Somba Opu Makassar, 1995; acara Gerakan Revitalisasi Kebudayaan Sulawesi Selatan, 2002; dan acara kebudayaan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 2005
– Dosen tamu mata kuliah Kajian La Galigo di Jurusan Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, 2006-2007
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/08/02451992/indoq.masseq.dan.tradisi.massureq

Sumber: KompasOleh: Aswin Rizal Harahap

”Ki pemmagai lobbang linoe’,

bere-bere teng lolo tona,

manuq-manuq teng luttuq tona…”.

Penggalan syair dari kitab ”La Galigo” itu melantun indah dari mulut Indoq Masseq. Suara lembut perempuan itu sesekali terdengar tinggi melengking seperti orang mengaji. Alunan berirama ratusan suku kata itu memecah keheningan rumah panggung di Desa Buloe, Kecamatan Maniangpajo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.
Dengan kesakralan itu, La Galigo menjadi kitab suci penganut Hindu Tolotan dalam masyarakat Bugis sebelum Islam disebarluaskan di Sulsel. Aliran kepercayaan itu masih dianut sebagian warga di daerah tempat tinggal Indoq Masseq di Desa Buloe, sekitar 19 kilometer dari ibu kota Kabupaten Wajo, Sengkang.

Massureq masih kerap dilakukan pada sejumlah upacara adat, seperti maddoja bine (menabur benih padi di sawah), mappaenreq bola (selamatan rumah baru), mappabotting (pernikahan), dan macceraq arajang (selamatan benda pusaka).

Saat kekeringan melanda Kecamatan Maniangpajo pada akhir 1960-an, warga menganggap hal itu dipicu oleh tak adanya massureq. Sejumlah pelantun massureq sebelum masa itu, seperti I Tasik, I Ganda, I Susang, dan La Semang, sudah meninggal. Mereka tak menurunkan ilmu massureq.

Kondisi ini menggugah Indoq mempelajari massureq dari Ruseng, sang mertua yang menguasai ajaran La Galigo, pada tahun 1968. Awalnya, ia kesulitan karena bahasa dalam La Galigo sarat makna idiom dan kiasan.

Namun, dengan semangat dan ketekunan, Indoq mampu menguasai massureq dalam tiga tahun. Ia—kala itu berusia 26 tahun—mulai dipercaya melantunkan syair La Galigo dalam upacara penaburan benih padi di sawah. Penampilan perdana itu disambut warga sebab ia mampu melantunkan syair La Galigo semalam suntuk tanpa diiringi alat musik sesuai aturan.

Hal itu juga menumbuhkan kepercayaan diri Indoq untuk tampil dalam berbagai upacara adat di Kecamatan Maniangpajo dan di Kabupaten Wajo. Dalam setiap pementasan massureq, ia mendapat imbalan bahan pangan, seperti beras, ayam, daging sapi, ketan, dan pisang.

Ilmu itu diturunkan

Reputasi Indoq dalam massureq semakin dikenal. Namun, ia tak ingin kemampuan itu hanya dia nikmati sendiri. ”Belajar dari masa lalu, ilmu massureq sebaiknya diturunkan agar tak punah dan tetap bermanfaat,” tuturnya.

Tahun 1988, Indoq mulai mengajarkan ilmu massureq kepada anak keduanya yang saat itu berusia 6 tahun, Indoq Wero (kini 28 tahun). Indoq Masseq memberikan buku berisi salinan isi La Galigo yang ditulis dengan aksara Lontara. Ia mengajari anaknya setiap malam.

Ketika Indoq Wero berusia 12 tahun, Indoq Masseq mengajaknya ke sejumlah upacara adat. Sesekali dia memberikan kesempatan anaknya unjuk kebolehan. Permintaan tampil kian banyak tatkala Indoq Masseq berkenalan dengan Sudirman Sa’bang, sarjana penggerak pembangunan pedesaan, pada 1994.

Sudirman yang mengagumi kemampuan massureq Indoq Masseq mengajaknya tampil di sejumlah acara kebudayaan di Makassar. Indoq pun menarik sejumlah pemerhati kebudayaan, seperti Nurhayati Rahman, pengajar Jurusan Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, dan Ian Caldwell, penulis asal Amerika Serikat.

Dalam acara Gerakan Revitalisasi Kebudayaan Sulsel di Malino (2002), mereka sepakat, massureq menjadi salah satu budaya yang wajib dilestarikan. Dua tahun berselang, Nurhayati menerjunkan sejumlah mahasiswa Sastra Daerah Universitas Hasanuddin ”magang” di Desa Buloe, Maniangpajo, Wajo.

Selama dua bulan, mahasiswa belajar massureq di rumah Indoq meskipun untuk itu ia harus menyulap ruang tamu 3 x 4 meter di rumah panggungnya menjadi kelas. Sampai 2005, ia mengajari sekitar 50 mahasiswa. Di sini, ia didampingi Sudirman yang bertugas sebagai penerjemah.

Seusai masa magang, Indoq tak ingin ruang kelas itu mubazir. Ia merekrut anak-anak usia 9-15 tahun yang mau belajar massureq. Sebanyak 16 anak, termasuk Ramadhani (14), cucunya, belajar massureq dua kali dalam seminggu. Ia dibantu Indoq Wero.

”Saya mengajarkan mereka cara melantunkan syair-syair La Galigo dengan benar. Makna syair itu diajarkan seiring mereka beranjak dewasa,” ungkap Indoq yang tampil di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 2005.

Setahun kemudian, Indoq Masseq dipercaya menjadi dosen tamu Jurusan Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin untuk mata kuliah Kajian La Galigo. Ini merupakan program Pusat Studi La Galigo (PSLG) Universitas Hasanuddin untuk merevitalisasi kebudayaan. Meski tak tamat sekolah dasar, Indoq mantap menerima kepercayaan itu.

Setahun, Indoq yang sudah berusia 61 tahun rela bolak-balik menumpang angkutan umum dari Wajo ke Makassar yang berjarak 242 kilometer. Rasa lelahnya itu terbayar dengan antusiasme mahasiswa untuk mengenali lebih dalam seni menuturkan syair La Galigo. Dalam penyampaian materi, ia didampingi Esti Pertiwiningsih, pengajar Sastra Daerah Universitas Hasanuddin.

Tugas menjadi dosen tamu berlangsung hingga 2007, seiring berakhirnya kontrak Yayasan Ford Foundation dengan PSLG. Indoq pun kembali mengelola sawah seluas satu hektar bersama suaminya, Ummereng.

Namun, Indoq Masseq masih berharap dia bisa kembali ke kampus. Keinginannya menularkan ilmu massureq tak pernah padam meski fisiknya semakin renta. ”Kalau tawaran itu (mengajar) datang lagi, saya tak akan menyia-nyiakannya. Saya ingin seni melantunkan syair La Galigo semakin digemari generasi muda,” katanya.

TENTANG INDOQ MASSEQ

• Lahir: Desa Ujungpero, Kecamatan Sabbang Paru, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, 1945

• Suami: Ummereng (65)

• Anak: Indoq Intan (35), Indoq Wero (28), Ahmadi (15)

• Pencapaian:

– Melantunkan syair ”La Galigo” atau ”massureq”, 1968-kini

– Tampil pada acara kebudayaan di Benteng Somba Opu Makassar, 1995; acara Gerakan Revitalisasi Kebudayaan Sulawesi Selatan, 2002; dan acara kebudayaan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 2005

– Dosen tamu mata kuliah Kajian La Galigo di Jurusan Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, 2006-2007

Sumber: Kompas, 8 Juni 2010

5 Comments

H. Sudirman Massangiang - 05. Jul, 2010 -

Wah hebat, seorang yang berpendidikan minimal mampu menjadi dosen tamu di Fak. Ilmu Budaya Unhas, salut san hormat

Andi Annisa Amalia - 05. Jul, 2010 -

Membaca kitab La Galigo atau massure, pada tahun 1960 an masih sering tersengar, seperti I Ganda & I Sussang, namun di era gobalisasi sangat langka, namun seorang Indo Masse yang melestarikan “massure”, sesuatu yang langka tapi nyata, semoga Indo Masse jaya @ panjang umur

Andi Annisa Amalia Dianputri - 07. Jul, 2010 -

Melestarikan budaya “Massure” merupakan langkah yang sangat tepat untuk membendung budaya luar yang tidak sesuai dengan budaya kita, apa masih ada Indo Masse selanjutnya sebagai penerus budaya “Massure”, kami sebagai generasi anak Bugis yang lahir di Ibukota RI (kedua orang tua saya berasal dr Anabua & Tancung) sangat mengharapkan ….. ewako ogi, aja nakalako suku lainnge salama manekki tabe’

anggun - 06. Sep, 2010 -

Sangat disayangkan kalau budaya massure lenyap di arena pergaulan suku Bugis. Bangsa-bangsa lain saja sangat peduli perihal budaya duku Bugis, kenapa suku Bugis sendiri tidak peka terhadap budayanya sendiri, atau ditelah arus moderen, entahlah ………

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan