-->

Kronik Toggle

HENDRA Ingin Bukukan Kehidupan Prajurit

HENDRA JAYA (42) ingin menceritakan kehidupan prajurit yang ada di Indonesia. Namun ini baru bisa dilakukan setelah mengelilingi seluruh propinsi.

Saat ini sudah 31 propinsi yang disinggahi dengan menghabiskan waktu 4 tahun. Perjalanan keliling Indonesia diawali 18 Juni 2006 dari Bengkulu dan sekarang HENDRA singgah di Kantor FKPPI (Forum Komunikasi Putra Putri TNI-Polri Indonesia) Surabaya di Jalan Simpang Dukuh Surabaya dekat markas Yayasan Suporter Surabaya (YSS).

Pada suarasurabaya.net, Jumat (18/06), HENDRA mengatakan, tidak tahu persis sampai kapan perjalanan keliling Indonesia akan berakhir. Pasalnya, dengan menggunakan motor Sprint buatan tahun 1968, tidak bisa diprediksi waktu yang dibutuhkan.

“Contohnya, saat di Surabaya ini, saya butuh tanda tangan dari Panglima Armatim, bertemu Gubernur Jawa Timur. Tidak cukup hanya sehari karena harus dijadwalkan lebih dulu. Dari Surabaya, perjalanan akan saya teruskan ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan,”papar HENDRA.

Tujuan utama keliling Indonesia dengan motor tua, ungkap HENDRA, dirinya ingin tahu lebih dekat tentang kehidupan prajurit dan keluarga atau masyarakat. Apalagi, dirinya juga berasal dari keluarga prajurit yang jiwanya diwarisi dari almarhum sang ayah yakni Sersan Mayor A RIDWAN yang dulu bertugas di Kesatuan Militer Denpom II Sriwijaya Palembang.

Dari hasil perjalanan yang sudah dilakukan, HENDRA melihat kehidupan prajurit cukup memprihatinkan. Masih banyak prajurit tinggal dengan mertua, kalau toh punya rumah kondisinya tidak layak huni.

Begitu pula dengan kesehatan keluarga prajurit, ada batasan yang diberlakukan yakni cukup untuk 2 anak. “Padahal masih bisa 3 sampai 4 anak. Dari hasil pengamatan selama keliling Indonesia, akan saya buat sebuah buku. Dan buku ini bentuk kecintaan saya pada NKRI (Negara Kedaulatan Republik Indonesia,”tambah HENDRA.

Motor tua yang dikendarai HENDRA makin terlihat unik. Beragam suvenir dari daerah yang dikunjungi ‘menempel’ pada motor. Mulai koteka, kerajinan anyaman, patung semua dipajang di motornya. “Suvenir di motor ini sebagai bukti perjalanan yang sudah saya singgahi,”pungkasnya. (tin)

*) Suarasurabaya.net 18 Juni 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan