-->

Kronik Toggle

Goenawan Kembalikan AB Award, Freedom Belikan Buku

JAKARTA – Pendiri Majalah Tempo Goenawan Mohammad mengembalikan Achmad Bakrie Award yang pernah diterimanya. Keputusan ini, kata dia, diambil dengan besar hati karena sejumlah alasan.

“Di satu pihak saya tahu benar di balik Bakrie Award ada niat baik, kehendak meningkatkan mutu kehidupan ilmu, pemikiran, sastra dan pendidikan di Indonesia,” kata dia dalam jumpa pers di  Utan Kayu, Selasa 22 Juni 2010.

Goenawan mengaku kecewa terhadap Aburizal Bakrie yang adalah ketua umum Golkar dalam kasus skandal Bank Century yang dianggap menyudutkan Wakil Presiden Boediono dan Sri Mulyani yang saat itu menjadi Menteri Keuangan.

“Ini bukan soal jabatan mereka karena saya tahu mereka tak bersalah, dihukum dan dikorbankan.” kata wartawan senior itu.

Penghargaan Achmad Bakrie Award diterima sejumlah cendekiawan yang tekun terhadap bidangnya. Dari ilmuwan hingga sastrawan.  Dalam situs Freedom Institute disebutkan bahwa mereka yang menerima penghargaan ini antara lain Sapardi Djoko Damono dan Ignas Kleden (November 2003).

Goenawan Mohamad (bidang kesusastraan) dan Nurcholish Madjid (bidang sosial-budaya)  tanggal 1 Agustus 2004.  Pada tahun ketiga–Agustus 2005– penghargaan ini diberikan kepada Sartono Kartodirdjo dan Budi Darma, masing untuk pemikiran sosial dan untuk kesusastraan. Penghargaan khusus bidang Kedokteran untuk Sri Oemijati.

Agustus 2006 penghargaan itu diberikan kepada  Arief Budiman (pemikiran sosial), Rendra (sastra), dan Iskandar Wahidiyat (kedokteran).

Tahun 2007  penghargaan itu diterima oleh sastrawan Putu Wijaya dan Franz Magnis-Suseno(  yang diberi penghargaan karena pemikiran sosial menolak menerimanya), Sang­kot Marzuki (kedokteran), Jorga Ibrahim (sains), dan Balai Besar Pene litian Tanaman Padi (BB Padi) Sukamandi, Subang (teknologi).

Sastrawan Taufik Abdullah menerima penghargaan itu pada Agustus 2008. Pada saat itu, sastrawan ini menegaskan bahwa sah-sah saja bila ada pihak yang menolak penghargaan itu terkait kasus lumpur di Sidoardjo, yang melibatkan PT Lapindo. Tapi, kata Taufik, antara kasus lumpur itu dan penghargaan itu adalah dua hal yang berbeda. “Kita harus melihat persoalan secara jernih. Kalau kita terus curiga, kepada siapa lagi kita percaya?,” katanya.

Tokoh yang juga menerima penghargaan itu pada 2008 itu adalah Sutardji Calzoum Bachri, Mulyanto, Laksana Tri Handoko dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit.

Tahun 2009 lalu, penghargaan itu diberikan kepada Ag Soemantri(Kedokteran) Pantur Silaban (sains) Warsito P Taruno (teknologi), dan Danarto (Kesusasteraan)

Program Manager Freedom Institute, Nong Darul Mahmada, menyebutkan bahwa Goenawan melalui utusannya kemarin mengembalikan plakat penghargaan dan uang hadiah sebesar Rp 100 juta.

Nong menegaskan bahwa penghargaan  yang diterima oleh Goenawan itu bukan pemberian langsung dari Aburizal Bakrie, tapi diberikan oleh Freedom Institute.

“Penghargaan itu dilatarbelakangi keinginan Freedom memberi penghargaan kepada intelektual Indonesia karena selama ini belum ada penghargaan semacam itu,” ujar Nong. Lalu Freedom mencari penyandang dana untuk penghargaan yang pertama kali digelar pada 2004 itu.

“Kemudian ada Pak Aburizal Bakrie yang mau menyumbang dana, namun itu didedikasikan untuk ayahnya, Achmad Bakrie,” kata Nong. “Figur Achmad Bakrie sendiri memang orang yang peduli dengan ilmu pengetahuan,” kata Nong.

Freedom sendiri menyatakan bersedih, namun menghormati hak Goenawan mengembalikan penghargaan itu. Uang dikembalikan itu dipakai untuk memperluas perpustakaan –yang dikelola Freedom Institute dan membeli buku.

Sumber: VIVANews.com, 22 Juni 2010

Lihat juga beritanya di Harian Kompas Edisi 23 Juni 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan