-->

Tokoh Toggle

Elisa Christiana:Pelajari Karya Sastra Berusia 3 Ribu Tahun

elisaSemangat dan keseriusan Elisa Christiana dalam mengembangkan bahasa mandarin sungguh luar biasa. Sampai-sampai, dalam waktu bersamaan, dosen sastra Tionghoa di Universitas Kristen (UK) Petra tersebut mengambil dua magister khusus untuk memperdalam dan menunjang bidang itu.

Vincentius Kharisma J.U.

Elisa, begitu dia akrab disapa, saat ini sedang menyelesaikan dua program magister, yakni di Huaqiao University Tiongkok dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa). “Saya mengambil dua bidang yang berbeda,” katanya.

Pakar modern Chinese dan Chinese literature tersebut menyatakan, dirinya mengambil dua program magister itu karena ingin melengkapi ilmu yang dimiliki. “Di Huaqiao saya belajar Chinese literature lagi dan di Unesa saya belajar di pascasarjana pendidikan bahasa dan sastra,” ungkapnya. Untuk keduanya, kini Elisa sudah memasuki tahap akhir penyelesaian tesis.

Elisa mengatakan, selain ingin menambah ilmu, dirinya berkeinginan meningkatkan kualitas pembelajaran sastra Tionghoa di Surabaya, terutama di UK Petra. “Saat ini saya melihat bahwa jumlah guru atau pengajar bahasa Tionghoa sangat minim. Jadi, saya terpanggil untuk meningkatkan kualitas dan kuantitasnya,” jelas dia.

Elisa menyadari mengapa tenaga pengajar bahasa mandarin belum banyak. Sebab, bahasa tersebut memiliki tingkat kesulitan tersendiri jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain. “Bahasa Tionghoa tidak seperti bahasa lain karena tulisan dan bunyinya tidak sama. Tidak seperti bahasa Indonesia yang bunyi dan ucapannya sama,” paparnya.

Dia menambahkan, nada pengucapan juga memengaruhi arti kata itu. Elisa lantas mencontohkan kata mai. Kata tersebut dapat berarti menjual dan membeli. “Jika diucapkan dengan nada rendah, itu artinya menjual. Lalu, jika diucapkan dengan nada tinggi, itu berarti membeli,” terangnya. Dari contoh tersebut, dapat dibayangkan susahnya belajar bahasa mandarin, apalagi mengajarkannya.

Untuk studinya di Huaqiao, lulusan Sastra Inggris UK Petra itu mengambil fokus classical Chinese. “Ini adalah tahap lanjut dari studi saya yang terdahulu,” ucapnya. Studi kali ini, menurut Elisa, lebih mirip mempelajari budaya dan sejarah bangsa Tiongkok.

Sebab, dengan mempelajari classical Chinese, dia harus lebih banyak mempelajari karya sastra yang berumur lebih dari 3 ribu tahun. “Tulisan ini banyak ditemui di dinding gua dan dinding bangunan kuno,” imbuhnya.

Apa beda antara classical Chinese dan modern Chinese? “Kalau modern Chinese, perbendaharaan katanya tidak sebanyak classical Chinese,” jelas Elisa. Menurut dia, saat ini yang banyak dipakai adalah modern Chinese atau yang dikenal sebagai Chinese simplified. “Dari segi bahasa dan tulisan, Chinese simplified jauh lebih sederhana dan mudah dipelajari,” ujarnya.

Classical Chinese atau Chinese traditional sendiri malah lebih banyak digunakan di Taiwan dan Hongkong. Sedangkan di Tiongkok daratan, lebih banyak digunakan Chinese simplified. Begitu pula halnya di Singapura. “Saat ini memang hanya ada di beberapa negara (yang menggunakan classical Chinese, Red) karena kerumitannya tersebut,” ungkap wanita berkulit putih itu.

Perbedaan lain, lanjut Elisa, classical Chinese lebih intelektual dan lebih halus. “Kalau diibaratkan mirip kromo inggil,” ujarnya lantas terkekeh. Selain memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dan lebih halus, aksara mandarin pada classical Chinese punya makna lebih utuh.

Ibu dua anak tersebut lantas memberikan contoh dengan menuliskan huruf yang memiliki arti negara. Dalam huruf classical Chinese, negara mengandung makna demikian: negara harus mempunyai wilayah, negara harus memiliki rakyat yang harus diberi makan, negara memiliki senjata dan armada tempur, serta negara harus punya kesatuan. Tapi, dalam huruf versi modern, negara memiliki makna: negara harus mempunyai wilayah, negara harus mempunyai pemimpin, negara memiliki pejabat atau orang kaya.

Saat ini Elisa tengah menyelesaikan tesisnya mengenai perkembangan bahasa suku Hakka di Indonesia untuk Huaqiao University. Sedangkan untuk di Unesa, dia menyelesaikan topik tentang teknik pengajaran karakter Han Zi (karakter bahasa mandarin). “Saya harus pintar bagi waktu untuk kuliah dan mengajar,” ujarnya sembari tersenyum.

Rencananya, Juni dan Juli mendatang Elisa merampungkan dua studi magisternya tersebut. “Satu sampai dua bulan mendatang, saya akan sidang tesis,” ucapnya. “Doakan saya lulus ya,” sambungnya.

Rencananya, sidang untuk topik bahasa Hakka diadakan di Huaqiao University di Kota Jimei, Provinsi Fujian, Tiongkok. “Selama ini saya kuliah di Surabaya. Dosennya dipanggil ke Surabaya,” terangnya.

Elisa dan 12 temannya memang menempuh kuliah jarak jauh untuk studinya di Huaqiao. Untuk kuliah tatap muka, dosennya yang datang ke Surabaya. “Saya ndak mungkin bolak-balik ke Tiongkok karena saya juga mengajar,” jelasnya. Maka, Elisa meminta universitas mengirimkan dosennya ke Kota Pahlawan. “Saat ini di Indonesia ada tiga kota yang memanggil dosen dari Huaqiao,” jelasnya.

Ya, teman-teman Elisa yang sedang mendalami bidang yang sama rata-rata memang orang sibuk. “Banyak teman saya yang bekerja. Jadi, kami sejak awal meminta Huaqiao mengirimkan staf pengajarnya,” terang wanita berambut ikal tersebut. Jika sudah selesai mengerjakan tesis atau tugas akhir, baru mereka berangkat ke Tiongkok untuk sidang.

Kuliah tatap muka dilakukan di sebuah hotel di Surabaya. Tiap 1,5 bulan dosen datang. Selama seminggu penuh, dia memberikan materi kuliah.

Tidak hanya sibuk dengan kuliah dan mengajar, mantan ketua Jurusan Sastra Tionghoa UK Petra tersebut hingga kini juga aktif di berbagai perkumpulan warga Tionghoa di Surabaya. Tak tanggung-tanggung, saat ini dia menjadi pengurus di sembilan perkumpulan. Di antaranya di Asosiasi Pengajar Bahasa Tionghoa Honghua, Himpunan Pendidik Bahasa Tionghoa Jawa Timur, dan Ikatan Guru Bahasa Tionghoa Surabaya. Selain itu, dia menjabat ketua Asosiasi Pengajar Bahasa Tionghoa Honghua dan Ikatan Guru Bahasa Tionghoa Surabaya. (c9/nw)

*) Jawapos, 30 mei 2010 dengan judul asli “Elisa Christiana Dedikasikan Tenaga dan Pikiran untuk Perkembangan”

1 Comment

loli - 06. Des, 2010 -

hmm..

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan