-->

Kronik Toggle

Arif Afandi: Sekali Wartawan Tetap Wartawan

IBOEKOE, SURABAYA: “Buku ini adalah bukti. Bahwa sekali wartawan tetap wartawan. Ketika profesi  wartawan sudah menjadi bagian hidup seseorang, jadi apapun, dia tak akan tahan untuk tidak menulis . Buku ini adalah kumpulan  tulisan seorang mantan wartawan yang kebetulan sedang menjadi wakil walikota”

Kalimat itu disampaikan Arif Afandi, wakil walikota Surabaya dalam peluncuran buku karyanya, Membesarkan Kue Bersama, bukan Berebut Kue yang Sama di Cafe Taman, Plaza Surabaya Hotel sore ini (4/6).

Dalam diskusi yang dipandu penulis novel, Lan Fang itu, pendapat Arif  diamini oleh Dhimam Abror, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Jawa Timur yang juga mantan Pemimpin Redaksi Jawa Pos Jogja, tempat pertamakali Arif belajar menulis di koran .

” Buku adalah mahkotanya wartawan. Dan Mas Arif sudah punya banyak mahkota. Dia menandai setiap episode dalam hidupnya dengan buku. Maka dia sudah punya banyak mahkota sebenarnya”, canda Abror, menyindir Arif yang sedang menanti hasil akhir pemilihan Walikota Surabaya 2 Juni lalu. Sampai hari ini, Arif yang berpasangan dengan Adies Kadir itu masih diposisi belum aman dari pasangan Bambang DH-Risma.

Disindir begitu, Arif tersenyum. Arif hanya merasa bahwa dalam setiap sesi kehidupannya, ia punya kecenderungan untuk mendokumentasikan sesuatu.

“Berbagai momen penting yang terjadi di Surabaya menyadarkan saya untuk mendokumentasikannya. Saya merasa ‘berdosa’, setelah berhenti menjadi pemimpin redaksi Jawa Pos, 2005, saya ikut berhenti dari kegiatan jurnalistik”

Ia sudah terlatih sejak menjadi wartawan. Menulis dengan kecepatan penuh juga sudah biasa. Abror lah yang melatihnya menulis artikel dalam dua jam, menjadi satu jam, menjadi setengah jam, dan kemudian 15 menit harus jadi.

“Ternyata bisa kok menulis dengan cepat itu. Apalagi sekarang tehnologi sudah sangat membantu penulisan instant. Catatan yang saya buat memang kebanyakan instan, karena pengaruh teknologi, saya menuliskannya disela pekerjaan dan kesibukan. Tapi gagasannya sudah lama ada di benak, bahkan menjadi keseharian.

Menurut Abror, Arif bukanlah seorang pembaca buku yang tekun. Tapi dia adalah pembaca fenomena yang tekun dan jeli, kemudian mampu menuliskannya dalam bentuk yang sederhana. Ciri sederhana itu muncul dalam buku-buku terdahulu maupun buku yang baru ini.

Buku setebal 245 halaman ini banyak mengungkap tentang idealisme, mimpi, dan cita-citanya tentang sebuah kota. Didalamnya terangkum 78 catatan sederhana cerminan kegelisahan, pemikiran, dan perenungan Arif selama melakoni tugas-tugas sebagai pejabat pemerintahan.

Mengutip  pendapat Kresnayana Yahya, Arif mengungkapkan bahwa menulis bagi seorang pejabat publik memiliki dua arti penting, yaitu sebagai dokumentasi gagasan, apa yang dilakukan, dan sebagai bagaian dari akuntabilitas publik. Melalui tulisan itu masyarakat akan mendapat informasi mengenai apa yang akan, sudah  dan sedang dilakukan pejabat.

Arif sendiri masih menyimpan obsesi untuk menerbitkan tesis S2 nyamenjadi buku. Tesis itu tentang Relasi Kepala daerah dan Wakil Kepala daerah. (DS)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan