-->

Kronik Toggle

Ada Perpustakaan di Polres Gresik

GRESIK – Pemohon surat izin mengemudi (SIM) kendaraan bermotor di Satuan Penyelenggara Administrasi (Satpas) Satlantas Polres Gresik kini bisa melakukannya dengan nyaman. Mereka tidak perlu berdesakan dan kepanasan saat menunggu giliran.

Polres menyediakan ruang tunggu berpendingin ruang dan bebas asap rokok. Ruang tunggu tersebut diresmikan Kapolres Gresik AKBP Rinto Djatmono kemarin (21/6). Selain sejuk dan bebas asap rokok, ruang berukuran 6 x 8 meter persegi itu dilengkapi televisi LCD berukuran 32 inci. Tersedia 48 channel televisi dari provider TV kabel berlangganan.

Jenuh karena menonton televisi atau tidak ada acara yang disukai, pemohon bisa memanfaatkan ruang perpustakaan. Perpusatakaan tersebut menjadi satu dengan ruang tunggu dengan dinding kaca itu.

Koleksi buku di perpustakaan tersebut pun lumayan lengkap. Sebagian besar buku berkaitan dengan pengetahuan tentang lalu lintas. Ada juga buku yang mengisahkan sejarah Polres Gresik.

Ada juga buku pengetahuan umum. Di antaranya, Oh…Film! Karya Misbach Yusa Biran, Cara Mudah Memahami Demokrasi karya Frederich Ebert Stifung, serta Dakwah Sekolah di Era Baru karya Koesmarwati dan Nugroho Widiyantoro. “Semoga fasilitas ini membuat pemohon semakin nyaman ketika mengurus SIM,” ujar Rinto.

Selain meresmikan ruang tunggu pengurusan SIM, Rinto meresmikan pembangunan sarana training uji praktik SIM Polsek Driyorejo. Pembangunan ruang tunggu konstruksi kaca itu butuh waktu sebulan. Pengerjaannya dimulai 21 Mei dan rampung 21 Juni 2010. Biaya pembangunan berasal dari swadaya anggota polisi dan pihak ketiga.

Rinto menambahkan, perbaikan fasilitas pelayanan itu tidak hanya dalam bentuk fisik. Kualitas pelayanan pemohon juga ditingkatkan. “Satpas di sini telah mendapatkan ISO 9001 : 2008,” katanya.

Di jajaran Polda Jatim, baru ada tujuh satpas yang ber-ISO. “Di antaranya di Gresik,” tambah mantan Kapolres Nabire, Papua, itu.

Sedangkan pembangunan training uji praktik di Driyorejo didasarkan pada aspirasi warga masyarakat di Driyorejo. Terutama para pekerja pabrik. “Sebelumnya, mereka harus mengorbankan banyak waktu untuk mendapatkan SIM ketika ujian tidak lulus. Dengan training, diharapkan bisa belajar dan ketika praktik bisa lulus,” tandas perwira dengan dua melati di pundaknya itu. (yad/c10/ruk)

*) Jawapos, 22 Juni 2010 dengan judul asli “Mengurus SIM dengan Nyaman”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan