-->

Kronik Toggle

2 Buku Tandai 2 Tahun ESOK

SURABAYA,IBOEKOE: Emperan Sastra Cepetan Ojo Keri (ESOK) genap berusia 2 tahun. Dan malam ini (17/6) komunitas yang sering mengadakan pertemuan di Art Cafe, Waru, Sidorajo ini merayakan perjalanan dua tahun itu dengan menggelar Srawung Art #3, sebuah acara temu lintas komunitas seni budaya.

Srawung Art #3 yang mengambil tema “Sebuah Permulaan” ini diawali dengan Performance Art seniman Slamet Gaprax. Slamet mengambil simbol kelahiran manusia menggunakan plastik yang melilit tubuhnya. Ia yang terjepit dalam kamar mandi berusaha keluar dan membebas. Seperti manusia yang keluar dari rahim.Kelahiran, adalah sebuah permulaan kehidupan.

Tema permulaan ini sejalan pula dengan dua buku yang dibahas dalam diskusi. Valharald , novel pertama Adi Toha, dan Membongkar Misteri Tanda buku pertama karya Heru Susanto.

Akhudiat, penulis dan kolektor buku di Surabaya yang membahas buku Adi Toha mengatakan bahwa Valharalad memiliki keistimewaan karena ia memilih kehidupan, tidak kehancuran seperti umumnya kisah-kisah fiksi fantasi. Akhudiat menggunakan metode anagram sehingga menemukan banyak kata yang menjadi ruh Valharalad: lava, lahar,hara, darah, bala, aral, dll.

Valharald sendiri adalah sebuah kisah perjalanan dan petualangan 12 Ksatria Talismandala dalam menjalani misi dan takdirnya sebagai ksatria cahaya, menyelamatkan negeri VarchLand dari Kekuatan Kegelapan. Kedua belas Ksatria Talismandala ini merupakan orang-orang yang terpilih dengan keunikan dan karakteristik tersendiri dari beragam suku.

Sementara Fauzi Ballah yang mengkritisi tulisan Heru Susanto lebih banyak memberi permakluman karena tulisan Heru memang pada dasarnya merupakan kumpulan esai dan beberapa dimuat dalam jurnal ilmiah, sehingga pola penulisannya pun akademik.

Perayaan 2 tahun ESOK ini diakhiri dengan penampilan beberapa musikalisasi puisi dan band-band indie.

“Kami ingin ESOK terus berlanjut sebagai sebuah komunitas yang menjembatani pertemuan berbagai genre kesenian melalui acara Srawung Art ini. Seperti namanya, srawung berarti kenal, bertemu, maka Srawung Art bisa menjadi ajang pertemuan lintas komunitas di Surabaya dan sekitarnya” tutur Gita Pratama, koordinator ESOK (DS)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan