-->

Lainnya Toggle

Wisata Bibliopolis

Oleh Muhidin M Dahlan

jalan sunyiImagined Places. Tempat-tempat Imajiner. Sudah lama buku karya Michael Pearson ini saya kenal tampangnya. Sekadar kenal angin. Tepatnya sekira 1997 sewaktu disebut-sebut oleh Zainal Arifin Thoha (alm) dalam zikir dan salawatan. Saya lupa di mana tepatnya. Tapi saya tahu itu di tahun 1997.

Dan kini saya membacanya lagi lebih khusyuk dalam satu kali jalan kereta yang melaju dari Jakarta-Jogjakarta. Di buku ini terurai kesimpulan awal sekaligus akhir bahwa setiap penulis dan pengarang pastilah, selain waktu khusus, memiliki tempat dan sekotak ruang di mana tali pengembaraan imajinasi terpacak dan terulur.

Di situ ada pilihan untuk berhenti dan merekam. Tentang penggambaran detail dan tubrukan dari serpihan-serpihan peristiwa yang ditransendensikan menjadi cerita.

Dan demikianlah saya kemudian mendengar ada orang yang suka sekali menjadikan bak mandi sebagai kubangan imajinasi, seperti yang dilakukan Archimedes di kota Syracuse, yang kemudian melahirkan proklamasi pengetahuan yang maha penting: Eureka!

Karl Marx dengan dingin membiarkan satu per satu keluarganya mati kelaparan lantaran bertahan dalam tempat pemujaan, Perpustakaan London, untuk tujuan agung menuntaskan titik terakhir Das Kapital.

Lain lagi dengan Pablo Neruda. Penyair kiri Chile ini tinggal dan setiap hari mengitari gigir pantai,  mendengar ombak dari samudera biru memukul karang, dan ia menulis soneta-soneta cintanya.

Sementara dua nabi menjadikan bukit sebagai mihrab untuk menemukan “jati-diri” (diri sejati) yang terkungkum menjadi karya maha agung, seperti Muhammad dengan Bukit Cahaya (Jabal Nur) dan Musa dengan Bukit Tursina.

Tapi Michael Pearson bukan pengarang. Bukan pencipta. Ia “hanya” pembaca. Tapi ia ingin lebih dari pembaca yang umum. Pearson coba keluar dan meloncat dari bacaan tentang apa yang diceritakan pengarang dalam karya-karyanya.

Bagi Pearson, buku-bukulah dengan bau pulp asamnya yang khas dan bikin kepala berpusing-pusing, yang membuatnya selalu tergoda mendengar suara-suara lain yang tak selamanya seragam.

Buku yang memperkenalkannya dengan orang-orang yang selalu baru dan tempat-tempat yang tak dikenal. Ia ingin sekali berjalan. Mencari dan menandai tempat-tempat yang menjadi mitos dan alamat sebuah nama yang terkisahkan dalam buku.

Pengarang dan Kota

Langkah pertama yang dilakukannya adalah menyeleksi beberapa karya pengarang dan tempat-tempat di mana ingatan dan mitos tereram. Ia mencermati secara serius karya yang mana dari pengarang siapa yang menjadi “juru kunci” sebuah kota.

Maka muncul kemudian nama Foulkner dan Missisipi, Robert Frost dan Vermont, Hemingway dan Key West/Florida, Steinbeck dan California, Mark Twain dan Hanibal/Missouri, serta Flannery O’Connor dan Georgia.

Pearson adalah pembaca yang daya tahunya lebih. Ia jelajahi semua kota, tempat, di mana mitos-mitos itu dicipta oleh pengarang-pengarang yang sudah dipilihnya. Pearson tidak ingin seperti yang dikatakan anaknya ketika ditanya temannya apa pekerjaan ayahnya dan menjawab: “pekerjaan ayahku adalah membaca buku”.

Pearson ingin lebih dari anggapan anaknya sebagai pembaca klangenan seperti kebiasaan bangsawan atau elite baru (membaca sebagai kerja sampingan buang penat). Ia berusaha menjelajahi, menapaki jalanan berbatu, mencium udara kota, mencecap ulang percakapan-percakapan tokoh-tokoh cerita, mencicipi makanan, dan yang lebih penting dari itu menemukan kehidupan yang nyata dari sebuah fantasi.

Berbeda dengan petualang biasa yang dipandu oleh peta kota dan buku panduan wisata keluaran Dinas Pariwisata atau lembaga partikelir, Pearson mempercayakan sepenuhnya karya fiksi sebagai pembimbing langkahnya menyusuri seluruh ceruk kota yang pernah digambarkan oleh pengarang dengan intensitas yang tinggi dan memukau imajinasinya. Sungguh, Pearson percaya tanpa reserve bahwa pengarang besar selalu membaca “sejarah kecil dengan wawasan universal”.

Dan tanpa disadarinya, dengan metode membaca urakan dan kadang aneh yang dipilihnya, Pearson sebetulnya menjadikan dirinya sebagai pembaca buku dan sekaligus pemandu wisata bibliopolis.

Ia memberikan pemaknaan lain, impian yang berbeda dengan apa yang disebut “Amerika”–yang bukan tafsir yang didesakkan oleh pejabat militer, politisi, pengusaha, maupun birokrat. Ia menuntun dunia untuk melihat “Amerika” dari mata hati para pengarangnya yang dengan segala jerihnya menghidupkan cerita-cerita kehidupan kota dari sebuah zaman yang silam. Dan setiap kota selalu memiliki penutur yang lihai; penutur yang membangun batu-bata kota dengan sihir kata-kata, intensitas percakapan, tokoh-tokoh fiktif yang hidup, serta mitos-mitos yang mengelilingi pengarangnya.

Mencari Indonesia

Jika Pearson menjadi pembaca cum pemandu bibliopolis ihwal “Amerika”, maka di Indonesia saya belum menemukannya. Memang ada penulis catatan perjalanan di Indonesia yang mumpuni, mulai dari Adi Negoro dengan Melawat ke Barat, Gerson Poyk dengan Catatan Perjalanan dari Padang Sabana Timor dan Sumba dan Catatan Perjalanan Daendels, hingga yang teranyar Sigit Susanto yang mengelanai dunia berdasarkan ingatan-ingatan dan jejak aksara di sebuah kota. Sigit sebetulnya seperti Pearson, tapi ia, sebagaimana terbaca dalam bukuya Menyusuri Lorong Dunia (I & II) fokus pada kota-kota di dunia dan umumnya bukan disiapkan membaca sebuah karya sastra di sebuah kota dan merekonstruksi ulang karya itu dalam sebuah wisata bibliopolis.

Ada juga nama Jassin. Tapi ia semata pembaca—ada yang membaptisnya sebagai kritikus sastra dan paus sastra Indonesia. Jassin bukanlah tipikal pejalan yang keras. Batang kakinya terlalu lembek dan berlemak. Dan terbukti sampai wafat pun, batang kaki itu tetap saja lembek. Ia hanya pengembara dan pembaca diam-mengamar, peziarah karya dalam pikiran yang kemudian menghasilkan berseri-seri buku esei.

Dalam statuta pembaca dan sekaligus pemandu wisata bibliopolis, seorang pribadi membekali diri secara sadar dengan karya pengarang untuk menjelajahi seluruh petak-petak kota, nama-nama, demografi, dan lanskap kehidupan di dalamnya. Rekam-jalan yang dilakukannya itu kemudian tak semata sebagai laku-membaca, tapi juga laku melihat kota dengan cara pandang fiksi; mendialogkan kenyataan dalam imajinasi dan kenyataan yang terlihat.

Indonesia punya setumpuk karya yang intens merekam hiruk-pikuk kehidupan sebuah kota dalam masa tertentu. Bila berjalan mengelilingi Surabaya, misalnya, bisa merujuk ke beberapa prosa yang  menjadi “juru kunci” Surabaya, antara lain: Surabaya-nya Idrus, Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer, dan Kembang Jepun karya Remi Silado.

Untuk mendapatkan suasana malam yang menggairahkan di Banyumas bisa meminta panduan Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Buku ini disebut-sebut sebagai salah satu “juru kunci” terbaik yang memberi jejak tentang kehidupan desa yang tak sekadar tempat percontohan UNESCO untuk program desa pemberantasan BAB  sembarangan (Buang Air Besar). Hal yang sama bisa dilakukan saat keliling Bangka Belitong dengan dipandu sang “juru kunci”:  Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.

Dan jangan lupa, untuk memasuki Rangkasbitung bawalah serta Max Havelaar karya Multatuli dan rasai bagaimana kerasnya hidup pribumi berhadapan dengan aturan rimba dan bagaimana sesaknya dada keluarga Saija menyaksikan satu per satu kerbaunya habis demi sepetak sawah yang terampas.

Atau bila kita memasuki dan menerobos hiruk-pikuk jalan raya Jakarta dan gang-gangnya, dan sungai-sungainya bisa meminta panduan suara ratusan penyair yang terangkum dalam antologi yang disusun Ajib Rosidi, Jakarta dalam Puisi Indonesia. Atau juga prosa Pramoedya Ananta Toer, Cerita dari Jakarta.

Kita masih bisa merinci dengan cermat dan selektif daftar karya mana saja yang dianggap menjadi “juru kunci” sebuah kota yang bisa dijadikan pandu wisata bibliopolis; sebuah penjelajahan kota dari pandangan fiksi. Sekaligus ini “metode” membaca karya dengan cara masuk dan masyuk dalam diri pengarang, karya, dan demografi kota yang hidup dalam alam-karya lewat sebuah perjumpaan darat dan kekukuhan batang kaki.

Muhidin M Dahlan, kerani di www.indonesiabuku.com

Sumber: Edisi ringkas tulisan ini dimuat di Kompas, 1 Mei 2010

1 Comment

dewa api - 04. Mei, 2010 -

kok ga ngomongin bandung, tuan??

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan