-->

Kronik Toggle

Vivi Diani: "Jangan terkecoh dengan Agus Noor"

YOGYAKARTA–Jangan pernah terkecoh dengan dongeng dan cerita indah Agus Noor, karena kita akan mendapatkan kepahitan, kesakitan, dan ironi dalam hidup.

Demikian disampaikan Vivi Diani Savitri dalam diskusi buku ramai-ramai: “Parade Obrolan 10 Karya dalam Semalam” di Yayasan Umar Kayam, Perum Sawitsari, Condong Catur, Yogyakarta (01/05).

Vivi didaulat memberikan catatan atas kumpulan cerpen Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia karya Agus Noor mengakui bahwa ia memiliki keterikatan emosional, untuk tidak dikatakan terhipnotis, seperti dalam cerita “Penjahit Airmata” dan “Empat Cinta”.

“Imajinasi-imajinasinya mensubversi. Seperti dongeng. Tapi dongeng aneh karena tak membikin nyaman, malah bingung dengan dunia yang kita hidup. Menggelisahkan. Ini real atau bukan,” kata Vivi.

Namun Vivi mengingatkan untuk jangan terkecoh dengan bahasa yang digunakan Noer yang terkadang indah. Tapi pikirkan kedalamannya. “Dongeng-dongengnya detail. Sehingga kita ragu, jika ini dongeng, kenapa begitu detail, seperti ‘Sepotong Bibir Paling Indah’. Magis. Antara ada dan tiada,” ujar mahasiswi Fisip Univeritas Indonesia ini.

Salah satu cerita yang mengesankan bagi Vivi adalah “Episode” yang engisahkan ihwa orang miskin yang bahagia. Cerita yang disusun dalam banyak fragmen ini mirip cerita 1001 malam. Ia meledek orang miskin, juga sekaligus meledek orang yang melihat orang miskin.

Diminta tanggapannya atas pembahasan Vivi, Agus Noor yang sengaja datang dan didaulat duduk di bangku lincak paling depan mengatakan bahwa teknis penulisan cerita “Episode” karena ingatan akan cerita detektif anak-anak.

“Ada dua anak yg melihat kelinci. Apa mengejar? Kalau ingin, langsung baca halaman ini. Kalau tidak, baca halaman ini. Ini sebagai upaya, mencoba menafsir kembali tradisi sastra yang sudah ada yang mau tak mau menambah selera sastra saya,” kata Noor.

Selain buku Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia karya Agus Noor, buku yang didiskusikan secara maraton dalam semalam antara lain: Kumpulan Budak Setan karya Eka Kurniawan dkk (Kumpulan cerpen), Tangan untuk Utik karya Bamby Cahyadi (Kumpulan cerpen).

Selain itu, ada dua buku esei, yakni Politik Sastra karya Saut Situmorang (esei) dan Historiografi Sastra Indonesia 1960-an karya Asep Sambodja (esei).

Sedangkan novel yang dibedah adalah Sinar Mandar karya Aguk Irawan dan Valharald karya Adi Toha.

Juga ada dua buku puisi: Kitab Hujan (Pentas Teater Singkat) karya Nana Sastrawan dan Antologi Gempa Padang karya sastrawan Apsasian.

Dan terakhir karya terjemahan berjudul Proses karya Franz Kafka. (GM/IBOEKOE)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan