-->

Kronik Toggle

Terbit:Matinya Otonomi Seni

IBOEKOE,SURABAYA– Satu lagi buku diterbitkan oleh Dewan kesenian Jawa Timur. Kali ini buku senirupa karya Djuli Djatiprambudi (DD), perupa sekaligus doktor di jurusan Seni Rupa, Universitas Negeri Surabaya (UNESA).

Buku yang diberi tajuk “Matinya Otonomi Seni” ini diluncurkan di Auditorium Prof Leo Idra Ardiana Gedung, Fakultas Bahasa dan Seni¬† UNESA, Jl Lidah Wetan, Surabaya hari ini (27/5).

Riadi Ngasiran, Pimpinan Redaksi majalah Kidung dalam diskusi menyampaikan bahwa bahwa seni dikembalikan ke jatidirinya untuk berperan membantu masyarakat berefleksi.

“Bila kemudaian seni telah merosot, menjadi propaganda atau seni komoditas yang direkayasa oleh pemegang hegemoni politik dan ekonomi, maka seni telah kehilangan otonominya”, lanjut Riadi.

Buku setebal 246  halaman ini adalah kumpulan 47 esai senirupa yang ditulis DD sejak 1990 hingga 2008. Ilustrasi sampulnya dibuat oleh perupa Ivan Haryanto.

Doktor Senirupa ITB ini menyoroti tiga aspek penting dalam wacana senirupa yaitu masalah sistem, institusi dan individu.

Wawan Setiawan, dosen sekaligus Redaktur Ahli Tabloid GEMA UNESA yang juga menjadi pembahas dalam diskusi, menyebut gaya bahasa yang digunakan DD yang gamblang, kadang menyapa pembaca dengan logat lokal, dan langsung pada sasaran.

“Rasanya ringan membaca tulisan-tulisannya, namun ternyata setelah selesai membaca, terasa sekali bahwa DD menyajikan wacana yang kompleks, makro sekaligus mikro, masalah-masalah jangka pendek maupun jangka panjang”.

DD sendiri mengaku bahwa menulis itu memasuki lorong sunyi, sendiri, sepi, kontemplasi, berefleksi dan menjadi.

“Menulis itu belajar memaknai realitas dengan intuisi, disitu ada logos, etor, patos dan mitos” pungkas DD. (DS)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan