-->

Kronik Toggle

Sosok Amien Rais di Mata Putrinya, Hanum Salsabiela Rais

Selalu Ingat Kemarahan Ayah karena Tukang Sapu

Sosok Amien Rais bisa dibilang fenomenal di pentas perpolitikan tanah air. Dia menjadi tokoh besar yang hingga saat ini memiliki banyak pengagum dan pengikut. Putri keduanya, Hanum Salsabiela, merupakan salah seorang di antaranya.

DIAN WAHYUDI, Jakarta

HINGGA beberapa hari ke depan, Hanum Salsabiela menjalani kesibukan baru. Perempuan kelahiran Jogjakarta, 12 April 1981, itu telah diagendakan di sejumlah tempat untuk mengisi acara peluncuran sekaligus promo buku pertama yang ditulisnya.

Kemarin (30/4), misalnya, tepat sehari setelah launching perdana di Kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Hanum masih harus mengikuti acara sejenis di sebuah toko buku di kawasan Matraman, Jakarta. Buku setebal 284 halaman itu berjudul Menapak Jejak Amien Rais, Persembahan Seorang Putri untuk Ayah Tercinta.

Sesuai dengan judulnya, buku itu banyak mengupas sosok mantan ketua MPR tersebut. “Saya berharap penjualan buku ini bisa sukses, bukan semata karena materinya (uang, Red), tapi lebih pada harapan agar makin banyak masyarakat yang bisa mengenal sosok Bapak (Amien Rais) lebih lengkap,” jelas Hanum.

Di buku yang ditulis dengan gaya ringan ala novel itu, sosok Amien berusaha dipotret lewat sisi lain yang selama ini belum banyak terungkap kepada publik melalui media. Sebagai keluarga dan anak, Hanum tentu memiliki banyak kisah dan pelajaran penting yang tidak diketahui banyak orang.

Misalnya, perhatian dan kepedulian Amien terhadap nasib sebagian masyarakat Indonesia yang masih hidup dalam kekurangan tidak disuguhkan dengan paparan yang muluk-muluk. Hanum hanya menghadirkan kepada pembaca pengalamannya semasa kecil.

Saat itu, pada suatu siang yang panas, lewat di depan rumah mereka di Jogja seorang penjual sapu yang sedang menjajakan dagangannya. Amien yang ikut mendengar hal itu memerintah Hanum untuk membeli sapu. “Hanum, ini tolong belikan Bapak sapu,” kisah anak kedua di antara lima bersaudara itu, menirukan permintaan ayahnya.

Dalam hati, sebenarnya Hanum bertanya-tanya alasan ayahnya merasa perlu membeli sapu lagi. Padahal, sapu di rumah mereka masih ada dan kondisinya masih bagus. Namun, setelah menerima uang Rp 10 ribu dari ayahnya, dia bergegas keluar membeli sapu tersebut.

Tak berapa lama kemudian, Hanum kembali masuk rumah sambil membawa sapu pesanan ayahnya. Sambil menyerahkan sapu, dia juga menyerahkan uang kembalian Rp 6.500. Ternyata, sapu tersebut dibeli dengan menawar dari harga pertama Rp 7.000 hingga akhirnya dilepas dengan harga Rp 3.500. “Lumayan kan Pak, sapunya bisa terbeli dengan setengah harga,” katanya, membanggakan diri.

Namun, di luar dugaan, pernyataan Hanum yang disampaikan sambil lalu itu mendapat reaksi begitu serius dari Amien. Raut muka mantan ketua umum PP Muhammadiyah yang tadinya sedang santai menonton televisi tersebut mendadak berubah. “Tiba-tiba, mata Bapak mendelik tajam. Sama sekali bukan pandangan orang kagum, tapi orang yang sedang marah besar,” bebernya, sambil tersenyum mengingat kejadian itu.

Seketika itu, Amien membentak putrinya yang sejak 2008 tinggal di Wina, Austria, tersebut agar mengejar tukang sapu itu. Dia diperintah menyerahkan uang kembalian. “Sambil ketakutan, saya langsung lari ke luar sampai lupa kalau tidak pakai sandal, tapi tetap saja tukang sapu yang naik sepeda angin itu tidak terkejar,” kisahnya kembali.

Selain cerita tersebut, masih banyak cerita menarik yang diungkapkan kembali oleh Hanum dalam bukunya. Di antaranya, kebesaran hati sang ayah saat mengetahui kalah dalam pemilihan presiden pada 2004. Sebelum memberikan pernyataan kepada publik tentang kekalahannya, Amien ternyata mengumpulkan dulu seluruh keluarga.

Hanum juga memang banyak mengungkap kepiluan yang dialaminya saat tumbuh di bawah bimbingan kedua orang tuanya, terutama Amien.

*) DIkronik dari Jawapos, 1 Mei 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan