-->

Perpustakaan Toggle

Rumah Baca Jala Pustaka

jala pustakaRUANG berukuran 6 x 3 m2 itu, jauh dari layak untuk sebuah etalase. Selain dinding dari bambu yang reyot dan penerangan ala kadarnya, ruangan juga terlalu dekat dengan kamar tidur, dapur, bahkan kakus.

Tapi belasan anak dan remaja, sepertinya tak terusik dengan situasi tersebut. Mereka terlihat nyaman dan asik membaca, sebagian memilih-milih buku yang berjejer di rak sederhana.

Demikianlah suasana sehari-hari di Rumah Baca Jala Pustaka, di Jalan Raya Kranji, Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan.

Rumah baca yang dikelola keluarga sederhana itu, kini menjadi salah satu tempat mangkal anak-anak dan remaja yang haus akan bacaan.

Belum lama ini, Jala Pustaka bahkan menjadi tuan rumah pertemuan para sastrawan dan penuiis, dari berbagai daerah di tanah air. Dari mulai workshop, sepeda pustaka, bedah novel, diskusi pustaka, hingga pentas teater dan puisi digelar.

“Tak ada bantuan pemerintah, sponsor, atau donatur. Semuanya dari iuran dan kantong para penulis,” ujar Adi Thoha, pemilik Rumah Baca Jala Pustaka.

Jala Pustaka, yang lahir 15 Oktober 2008 memang diniatkan untuk kegiatan sosial, yaitu memin-jamkan bacaan dan buku secara cuma-cuma kepada warga.

“Siapa pun bebas meminjam karena tak ada keanggotaan ketat dan tak ada biaya pendaftaran atau peminjaman,” ujar Adi yang baru saja meluncurkan novelnya berjudul ‘Valharald”.

Saat awal beroperasi, rumah baca itu sering diprotes oleh keluarga. Ruang tamu tergusur oleh etalase dan tak ada lagi ruang privat untuk lima anggota keluarga yang menghuni rumah itu.

“Tapi lama-lama, keluarga bisa menerima, bahkan kini bapak atau ibu saya juga sering ikut melayani pengunjung yang ingin pinjam buku,” tutur pemuda kelahiran Kedungwuni, September 1982 itu.

Makin lama pengunjung makin banyak, kini rata-rata tiap hari, Jala Pustaka dikunjungi sekitar 50 pembaca. Begitu juga dengan jumlah buku yang dipinjam tiap hari, rata-rata sekitar 50 judul.

Jala Pustaka yang awalnya didirikan untuk memanfaatkan koleksi buku pribadi agar bisa dibaca masyarakat, kini makin ramai.

Koleksi bukunya sudah ber-tambah dari sekitar 400 judul menjadi 2.000-an judul.

Adi Toha bahkan berani mengklaim jika banyak buku sastra koleksi Jala Pustaka yang tidak dimiliki perpustakaan lain, termasuk milik Pemkab yang didukung dengan anggaran rutin untuk pembelian buku.

Meski makin ramai dan dipadati berbagai kegiatan, Jala Pustaka tetap tidak membuat aturan yang ketat untuk mereka yang ingin pinjam. Memang ada denda bagi mereka yang meminjam lebih lama dari batas waktu yang ditetapkan. Namun itupun sukarela dan sering tidak ditagih.

Adi Toha yang pemah kuliah di Universitas Padjajaran, Jurusan llmu Fisika yakin, jika kultur membaca dan cinta buku sudah terbangun, pembaca akan melindungi sendiri buku itu.

“Sekarang para peminjam bahkan ikut melayani pengunjung baru yang ingin pinjam,” jelasnya.

Membangun kultur membaca dan menulis jauh lebih penting dari membisniskan perpustakaan. Bahkan keluarga sederhana yang jauh dari berkecukupan rela menghabiskan isi kantong untuk mengelola rumah baca yang jika dilihat dari luar lebih menyerupai gubuk sederhana. Sebuah gubuk yang ternyata bisa mengobarkan pencerahan (Muhammad Burhan-74)

*) Dikronik dari Suara Merdeka, 4 Mei 2010

1 Comment

Yuyun - 06. Jan, 2011 -

Aku juga mau buka, lagi nyari2 buku banyak nih..
bagi tips nya duonk, murah dan brkwalitas , judulnya jg okey….

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan