-->

Kronik Toggle

Naskah Kuno Pakualaman Menuntun Zaman

YOGYAKARTA–Pengelola Perpustakaan Pura Pakualaman, Sri Ratna Saktimulya, sempat dianggap dukun. Tiga bulan sebelum gempa melanda DIY, empat tahun lalu, ia sudah memaparkan potensi gempa besar di DIY. Jalur gempa yang ia presentasikan di Pusat Studi Bencana Alam Universitas Gadjah Mada sama persis dengan kejadian gempa bulan Mei 2006.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM tersebut mengakui, pengetahuannya tentang prediksi jalur gempa diperoleh dari naskah kuno. Isi naskah itu tak diketahui khalayak karena berhuruf dan berbahasa Jawa dan belum diterjemahkan. Kejadian itu membuktikan, sastra lama dalam naskah-naskah kuno merekam berbagai informasi pada masa lampau sehingga tak bisa diabaikan.

Naskah kuno Babad Pakualaman, yang merupakan koleksi Perpustakaan Pura Pakualaman, mencatat, gempa bumi dahsyat pernah terjadi di Yogyakarta pada subuh hari Senin Wage tanggal 7 Sapar tahun ehe 1796 (10 Juni 1867). Babad Pakualaman yang terdiri atas tiga jilid itu dicipta permaisuri Paku Alam VI, Gusti Kanjeng Raden Ayu Adipati Paku Alam atau Siti Jaleka.

Babad Pakualaman menyebutkan, gempa berlangsung sekitar dua menit: tanah berjungkat bagai diayun-ayun, bergetar bergoyang bagai hendak dicabut. Bumi dan langit seperti hendak menelungkup, suara gemuruh di puncak gunung sangat mengerikan, dan ombak laut pun menjadi besar: “kocak-kocak” hingga air dan ikannya terangkat ke daratan.

Daerah Kotagede dan Makam Imogiri rusak parah. Pendapa Pakualaman roboh dan beberapa bangunan di dalam Beteng Keraton Yogyakarta juga roboh.

Semua kondisi itu sama persis dengan gempa Mei lalu. Babad Pakualaman juga menuliskan jalur-jalur lain gempa di Bantul yang serupa dengan kejadian gempa 2006.

Jika terjadi perbedaan hanya pada jumlah korban gempa. Gempa yang tercatat di Babad Pakualaman menyebutkan jumlah 1.000 orang. Para korban kala itu mendapat bantuan dari Gubernur Jenderal Belanda di Semarang sesuai dengan kerusakan yang dideritanya. Selanjutnya, rakyat dianjurkan agar pembangunan rumah menggunakan atap daun tebu yang sudah kering atau alang-alang.

Tak terbantahkan, catatan kuno itu merupakan catatan sejarah yang sangat berharga. Bukan khayalan. Bukan mitos.

Menurut Ratna, sastra lama merupakan sumber kaya untuk digali unsur spiritualnya. Babad Pakualaman menyimpulkan bahwa terjadinya gempa dahsyat di Yogyakarta, antara lain karena banyak orang yang lupa berbakti pada Tuhan. Sayangnya, dari 251 naskah kuno yang tersimpan di Pura Pakualaman, baru sekitar 12 naskah yang telah dialihbahasakan.

Kendala penerjemahan

Penerjemahan kembali naskah kuno, antara lain, terkendala pemahaman bahasa dan huruf Jawa. Selain itu, naskah kuno umumnya sangat tebal, dari 200-1.100 halaman. Koleksi naskah tertua di Perpustakaan Pakualaman berasal dari masa Paku Alam I.

Kepala Museum Sonobudoyo Yogyakarta Martono menambahkan, baru 40 buah dari 1.200 naskah kuno yang sudah diterjemahkan di Sonobudoyo. Naskah tertua di museum tersebut berasal dari abad ke-17. Program pelestarian naskah di Museum Sonobudoyo baru dilakukan sejak 2009 dengan pendanaan dari APBD DIY. Tahun ini, APBD DIY hanya menganggarkan Rp 60 juta untuk pelestarian naskah Babad Ngayogyakarta.

Tak hanya peristiwa masa lalu, naskah kuno seperti Sestro Ageng Adidarma justru mengisahkan cerita binatang bagi anak-anak dengan gambar yang menarik dan penuh warna. Sejak generasi muda, anak-anak sudah diperkenalkan naskah bergambar aneka binatang. “Ketika kecil mereka menikmati gambarnya dan akan mengerti maknanya setelah dewasa,” kata Ratna.

Beberapa naskah kuno juga memiliki nilai filsafat tinggi, yang mengajarkan pengamalan Sestradi atau ajaran leluhur sebagai penuntun hidup. Keseluruhan ajaran Sestradi didasarkan pada kesungguhan, kebersihan hati, dan cinta kasih. Ajaran leluhur menjadi salah satu alternatif untuk memperkuat hati menghadapi berbagai permasalahan.

Babad Pakualaman adalah cermin, betapa masa kini adalah keberulangan masa lalu. Jika tidak digali, naskah-naskah kuno itu akan terus tersembunyi. Catatan kearifan nenek moyang sangat berharga: bukan untuk diperjualbelikan seperti harta karun kapal karam, tetapi dipelajari dan diambil manfaatnya.

Sumber: Kompas, 6 Mei 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan