-->

Kronik Toggle

Mahfud MD Luncurkan Buku tentang Gus Dur

Yogyakarta – Memperingati hari ulang tahunnya yang ke-53, Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud M.D., meluncurkan buku tentang Gus Dur, yang dia sebut sang guru. Buku berjudul Gus Dur: Islam, Politik, dan Kebangsaan ini antara lain menceritakan kesederhanaan Gus Dur sebagai presiden.

“Buku ini saya dedikasikan bagi Gus Dur yang telah banyak membantu karir saya,” kata Mahfud M.D., saat menyampaikan sambutannya dalam peluncuran buku di Restoran Ayam Goreng Suharti, Jumat, 14 Mei 2010. Mahfud menyampaikan, buku ini merupakan kumpulan tulisan yang terserak di berbagai media di Indonesia. Oleh penerbit LKiS, Yogyakarta, kumpulan tulisan tersebut lantas disusun dalam format buku yang dijalin dengan tulisan yang runtut.

Karena kedekatannya, Mahfud, yang pernah menjadi Menteri Pertahanan pada zaman pemerintahan Gus Dur, dapat memotret lebih dekat kesederhanaan dan kebersahajaan Gus Dur. Menurut cerita Mahfud, kesederhaan itu dapat dilihat dari cara Gus Dur menyajikan menu makanan kepada tamunya yang hanya disuguhi kacang rebus, jagung rebus, dan tempe goreng. “Sikapnya sangat sederhana dan rileks jauh dari kesan angker seperti presiden yang saya lihat,” tutur Mahfud dalam bukunya setebal 268 halaman itu.

Buku ini juga menuturkan humor politik Gus Dur yang memikat banyak orang. Cerita tentang semua presiden punya penyakit gila, saat Gus Dur melakukan kunjungannya ke Kuba dan bertemu Presiden Fidel Castro, membuat buku ini segar untuk dibaca. Gus Dur menyebut Presiden Soekarno gila wanita, Presiden Soeharto gila harta, Presiden Habibie dia sebut benar-benar gila alias gila beneran, sementara Gus Dur menyebut dirinya sebagai presiden yang membuat orang gila karena yang memilih juga orang-orang gila.

Buku ini diterbitkan oleh penerbit LKiS bekerja sama dengan Program Pascasarjana Fakultas Hukum, Universitas Islam Indonesia. Ridwan Khairandi, Ketua Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Yogyakarta, mengatakan peluncuran buku Mahfud ini sebagai dedikasi murid terhadap sang guru. “Inilah cara murid menghormati gurunya. Karena Pak Mahfud selalu menyebut Gus Dur adalah gurunya,” kata Ridwan.

Sayang, di buku ini, Mahfud tak memberikan kepada pembaca tulisan terbarunya tentang Gus Dur. Tulisan yang terbaru tak lain hanyalah kata pengantar.

BERNADA RURIT

*) Dikronik dari Tempo interaktif, 14 Mei 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan