-->

Kronik Toggle

Ksatria VarchLand dari Pekalongan

YOGYAKARTA–Mungkin Adi Toha-lah pembicara paling kalem saat Babak Kedua diskusi 10 buku sastra dilangsungkan di Yayasan Umar Kayam Yogyakarta (1/5). Pengarang fantasi dari Pekalongan ini berada satu sesi dengan komentator-komentator “galak”, seperti Saut Situmorang dan Bustan Basir Maras.

“Sepertinya saya salah masuk nih,” kata Adi Toha. Adi lalu menceritakan dengan tenang proses kreatifnya dalam menulis noel fantasi Valharald.

Menurutnya, novel ini lahir dari mimpinya untuk membuat sebuah fiksi yang di sana ia sama sekali tak akrab dengan dunia ini.

Adi sadar bahwa ia bukan penghuni istimewa di genre ini. Sudah ada nama-nama di sana. Sebut saja W.D. Yoga (Ledgard), A.M.K. Narongkrang (Phoenik Mahkota Negeri Azura), Ataka (Misteri Pedang Skinheald), Mama Piyo (Pinissi), dan lain-lain.

Dan setelah booming fiksi genre fantasi ini meredup, Adi Toha muncul. Tapi Adi sudah sadar sepenuhnya dengan situasi kurang baik itu. Lantaran itu ia tetap bersikap realistik. “Ketimbang tokoh-tokoh yang saya tulis mengganggu pikiran saya selama-lamanya, lebih baik memang novel ini saya selesaikan jadi buku. Terserah saja setelah itu,” katanya pasrah.

Berlatar negeri VarchLand, novel ini berkisah tentang pencarian dan perjalanan 12 ksatria yang telah diwarisi sebuah kunci rahasia. Kunci tersebut berbentuk segitiga yang sama besar bentuknya. Dua belas kunci harus disatukan untuk membuka sebuah ruang rahasia di mana tersimpan senjata-senjata rahasia yang telah disimpan oleh para kstaria pendahulu karena VarchLand telah berada pada masa-masa damai.

Di luar perkiraan, kekuatan kegelapan bangsa Vomorian, yang pernah dikalahkan ksatria generasi pertama ratusan tahun sebelumnya, tengah bangkit dan hendak membalas.

Tutur Adi, ancaman pembalasan itu menuntut ruang rahasia harus dibuka lagi, senjata-senjata harus dibangkitkan, dan para pemegang kunci harus segera ditemukan.

Mudah-mudah Sulit
Adi mengaku, menulis novel bergenre ini memang sulit. Bergantung sebesar besar daya imajinasi dalam merangkai peristiwa demi peristiwa, karakter demi karakter, plot demi plot hingga menjadi jalinan cerita yang logis dan utuh.

“Tapi saya akui bahwa novel ini masih banyak kekurangan. Maklumlah, ini novel pertama saya. Tapi saya bersyukur saya terbebas dari tokoh-tokoh ini yang menggayuti pikiran saya selama 10 bulan lamanya,” aku Adi yang belum lama ini menyelenggarakan Program Sepeda Aksara di kota Pekalongan.

Selain buku ini, diskusi maraton dalam semalam itu membahas juga buku-buku, yakni Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia karya Agus Noor, Kumpulan Budak Setan karya Eka Kurniawan dkk (Kumpulan cerpen), dan Tangan untuk Utik karya Bamby Cahyadi (kumpulan cerpen).

Selain itu ada juga dua buku esei, yakni Historiografi Sastra Indonesia 1960-an karya asep Sambodja dan Politik Sastra karya Saut Situmorang (esei).

Sedangkan novel yang dibedah adalah Sinar Mandar karya Aguk Irawan. Juga ada dua buku puisi: Kitab Hujan (Pentas Teater Singkat) karya Nana Sastrawan dan G 30 S: Antologi Gempa Padang karya sastrawan Apsasian.

Dan terakhir karya terjemahan berjudul Proses karya Franz Kafka. (GM/IBOEKOE)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan