-->

Kronik Toggle

Karena Vertigo Bamby Menulis

YOGYAKARTA–Bamby Cahyadi, penulis kumpulan cerita Tangan untuk Utik adalah pengarang yang divonis menderita penyakit vertigo. Penyakit ini membawa penderitanya tak bisa berada di tengah keriuhan. Apalagi di keramaian itu penuh dengan asap rokok. Oleh dokter kemudian Bamby dianjurkan untuk menulis.

Paragraf itu yang menjadi ucapan pembuka Khrisna Pabichara yang datang dari Jakarta untuk memberikan testimoni atas buku Bamby Cahyadi, Tangan untuk Utik, di Yayasan Umar Khayam Yogyakarta (1/5).

Penggiat Mata Aksara Jakarta ini bercerita bahwa 13 cerita Bamby dalam buku ini sangat sederhana. Mimpi-mimpi dengan eksekusi sederhana.

Khrisna membahas beberapa cerita untuk memperkuat asumsi itu, antara lain “Tangan untuk Utik”, “Televisi Ibu”, “Hadiah untuk Ibu”, “Mimpi dalam Stoples”, dan “Tameng untuk Ayah”.

“Dalam ‘Tangan untuk Utik'”, aku Krishna, “saya harus membacanya dengan tiga hal mendasar: dengan mata terbuka dan membayangkannya, dengan pikiran terbuka dan mempercayainya, serta dengan hati terbuka dan merasakannya.”

Cerita itu mengisahkan apa arti persahabatan dengan jalan empati. Bagi Bamby, seperti dikatakan Khrisna, tak ada persahabatan tulus tanpa disertai rasa empati, baik dalam gelimang airmata maupun ketika riuh tertawa bahagia.

Sahabat sejati dalam bayangan Bamby, selalu bisa memberi dan menerima. Dengan tulus dan ikhlas. Tanpa pamrih, tanpa pretensi.

Dalam sesi diskusi salah satu penanya menggugat bahwa cerita pendek ini umumnya murung. Di luar kebiasaan Bamby yang biasanya ceria, humoris, dengan gayanya menulis cerita 100 kata di internet.

“Barangkali Bamby ingin keluar dari zona yang tenang dengan segala kemampuan estetiknya,” jelas Khrisna.

Selain buku ini, diskusi maraton dalam semalam itu membahas juga buku-buku, yakni Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia karya Agus Noor dan Kumpulan Budak Setan karya Eka Kurniawan dkk (Kumpulan cerpen).

Selain itu, ada dua buku esei, yakni Politik Sastra karya Saut Situmorang (esei) dan Historiografi Sastra Indonesia 1960-an karya Asep Sambodja (esei).

Sedangkan novel yang dibedah adalah Sinar Mandar karya Aguk Irawan dan Valharald karya Adi Toha.

Juga ada dua buku puisi: Kitab Hujan (Pentas Teater Singkat) karya Nana Sastrawan dan G 30 S: Antologi Gempa Padang karya sastrawan Apsasian.

Dan terakhir karya terjemahan berjudul Proses karya Franz Kafka. (GM/IBOEKOE)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan