-->

Lainnya Toggle

Kafka, a Post-Nietzschean

http://www.facebook.com/#!/notes/udin-attar/kafka-a-post-nietzschean-writer/400680760761
Kafka, a Post-Nietzschean
Hari ini jam 14:12
M Sulhanudin
Franz Kafka (1883-1924) mengerahkan sumber fantasinya berdasarkan potret kehidupan pribadi. Pengalaman pribadi Kafka dituangkan dalam karya-karyanya yang absurd. Pahlawan-pahlawannya seringkali tampak sebagai proyeksi alegoris kaum intelektual. Tokoh-tokoh dalam karyanya kerap ditampilkan tak berdaya, diombang-ambingkan oleh situasi hidup yang tidak pasti. Dari kenyataan itu, seperti yang diungkapkan Susan Sontag, banyak kritikus yang secara ceroboh menafsirkan karya Kafka sebagai penyakit kejiwaan pengarang dan frustasi terhadap birokrasi modern.
Bagi Milan Kundera karya Kafka merupakan contoh terbaik dari otonomi radikal novel (puisi dalam bentuk novel). Otonomi ini mendorong Kafka menyatakan hal-hal mengenai kondisi kemanusiaan yang tidak pernah bisa dinyatakan oleh pemikiran sosial atau politik. The Transformation adalah salah satunya. Pembaca seketika akan dikejutkan dengan kalimat pembuka: As Gregor Samsa awoke one morning from aneasy dreams he found himself transformed in his bed into a gigantic insect.
Nihilisme yang ditandai dengan runtuhnya nilai-nilai lama dan sebagai konsekuensinya manusia hidup dalam kekosongan menjadi persoalan pokok yang diajukan dalam The Transformation karya Franz Kafka. Gerakan menentang nilai-nilai lama yang telah mapan di masyarakat Eropa, khususnya dalam dunia kesenian dan kebudayaan, dikenal dengan modernisme. Karya sastra yang lahir pada abad modern memiliki ciri khas mengeksplorasi kesadaran pribadi (self-consciousness). Pada masa itu terdapat pertentangan antara kaum modernis dan konservatif (yang diwakili kaum agamawan gereja). Konflik menjadi keruh ketika masuk ke wilayah gereja, kedokteran, hukum dan seni. Mereka yang memberontak gereja akan disebut antipatriotik, dan generasi muda dekaden.
Topik nihilisme dan dekaden telah dikemukakan oleh Friedrich Nietzsche (1844-1900) dalam pemikiran filosofisnya. Bahkan dapat dikatakan, filsafat Nietzsche dikerahkan untuk menghancurkan nihilisme tersebut. Lewat kematian Tuhan, filsuf ini hendak mengeluarkan manusia modern dari bayang-bayang nihilisme. Dengan mempersoalkan dua topik yang menjadi bahasan pokok filsafat Nietzsche tersebut, maka Kafka dapat dijuluki sebagai penulis “Post Nietzschean”.
Selain Kafka, Robert Musil (1880-1942) sebenarnya juga mengadaptasi pemikiran Nietzsche dalam karya-karyanya. Akan tetapi pengaruh Musil dan penulis lainnya tidak sesignifikan dari apa yang telah dilakukan Kafka. Jika penulis lain mengadopsi filsafat Nietzsche sekadar untuk memuluskan tujuannya, maka pada Kafka nihilisme Nietzschean itu sangat menyatu dalam karya-karya sastranya yang berciri khas pesimistik.
Kafka, seperti diakui karibnya Max Brod, adalah seorang pembaca Nietzsche yang ulung. Namun dia tidak secara eksplisit menunjukkan pengaruh bacaannya itu dalam karya-karya sastranya. Hampir dalam keseluruhan karya Kafka tidak satupun yang mencantumkan nama Nietzsche sebagaimana dalam Doctor Faustus karya Thomas Mann. Tidak seperti penulis Yahudi muda lainnya –seperti Herzl dan Werfel termasuk juga Kraus- Kafka tidak suka pemer menunjukkan bacaannya atas Nietzsche.

Udin AttarOleh: M Sulhanudin

Franz Kafka (1883-1924) mengerahkan sumber fantasinya berdasarkan potret kehidupan pribadi. Pengalaman pribadi Kafka dituangkan dalam karya-karyanya yang absurd. Pahlawan-pahlawannya seringkali tampak sebagai proyeksi alegoris kaum intelektual. Tokoh-tokoh dalam karyanya kerap ditampilkan tak berdaya, diombang-ambingkan oleh situasi hidup yang tidak pasti. Dari kenyataan itu, seperti yang diungkapkan Susan Sontag, banyak kritikus yang secara ceroboh menafsirkan karya Kafka sebagai penyakit kejiwaan pengarang dan frustasi terhadap birokrasi modern.

Bagi Milan Kundera karya Kafka merupakan contoh terbaik dari otonomi radikal novel (puisi dalam bentuk novel). Otonomi ini mendorong Kafka menyatakan hal-hal mengenai kondisi kemanusiaan yang tidak pernah bisa dinyatakan oleh pemikiran sosial atau politik. The Transformation adalah salah satunya. Pembaca seketika akan dikejutkan dengan kalimat pembuka: As Gregor Samsa awoke one morning from aneasy dreams he found himself transformed in his bed into a gigantic insect.

Nihilisme yang ditandai dengan runtuhnya nilai-nilai lama dan sebagai konsekuensinya manusia hidup dalam kekosongan menjadi persoalan pokok yang diajukan dalam The Transformation karya Franz Kafka. Gerakan menentang nilai-nilai lama yang telah mapan di masyarakat Eropa, khususnya dalam dunia kesenian dan kebudayaan, dikenal dengan modernisme. Karya sastra yang lahir pada abad modern memiliki ciri khas mengeksplorasi kesadaran pribadi (self-consciousness). Pada masa itu terdapat pertentangan antara kaum modernis dan konservatif (yang diwakili kaum agamawan gereja). Konflik menjadi keruh ketika masuk ke wilayah gereja, kedokteran, hukum dan seni. Mereka yang memberontak gereja akan disebut antipatriotik, dan generasi muda dekaden.

Topik nihilisme dan dekaden telah dikemukakan oleh Friedrich Nietzsche (1844-1900) dalam pemikiran filosofisnya. Bahkan dapat dikatakan, filsafat Nietzsche dikerahkan untuk menghancurkan nihilisme tersebut. Lewat kematian Tuhan, filsuf ini hendak mengeluarkan manusia modern dari bayang-bayang nihilisme. Dengan mempersoalkan dua topik yang menjadi bahasan pokok filsafat Nietzsche tersebut, maka Kafka dapat dijuluki sebagai penulis “Post Nietzschean”.

Selain Kafka, Robert Musil (1880-1942) sebenarnya juga mengadaptasi pemikiran Nietzsche dalam karya-karyanya. Akan tetapi pengaruh Musil dan penulis lainnya tidak sesignifikan dari apa yang telah dilakukan Kafka. Jika penulis lain mengadopsi filsafat Nietzsche sekadar untuk memuluskan tujuannya, maka pada Kafka nihilisme Nietzschean itu sangat menyatu dalam karya-karya sastranya yang berciri khas pesimistik.

Kafka, seperti diakui karibnya Max Brod, adalah seorang pembaca Nietzsche yang ulung. Namun dia tidak secara eksplisit menunjukkan pengaruh bacaannya itu dalam karya-karya sastranya. Hampir dalam keseluruhan karya Kafka tidak satupun yang mencantumkan nama Nietzsche sebagaimana dalam Doctor Faustus karya Thomas Mann. Tidak seperti penulis Yahudi muda lainnya –seperti Herzl dan Werfel termasuk juga Kraus- Kafka tidak suka pemer menunjukkan bacaannya atas Nietzsche.

* Pengaman Situs Indonesia Buku

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan