-->

Kronik Toggle

Gaya Hidup Buku yang Mulai Terbentuk di Surabaya Timur

Gaya hidup yang berkaitan dengan buku perlahan mulai terbentuk di Surabaya Timur seiring kian menjamurnya toko buku di kawasan tersebut. Mulai diskusi dan bedah buku hingga kesempatan beraudiensi langsung dengan penerbit tersedia.

TEMPATNYA tak terlalu luas. Ada sedikitnya 12 meja yang masing-masing dikelilingi empat kursi. Di sisi timur air mancur buatan tiada henti mengguyur di sela pepohonan. Sedangkan sisi barat adalah lapangan parkir.

“Di sini nyaman, terbuka tapi tenang. Sejuk pula. Harga makanannya juga terjangkau. Itulah yang bikin saya betah berjam-jam nongkrong sambil baca buku,” kata Fauzia Fatchan, pegawai swasta yang kerap mengunjungi tempat tersebut.

Tempat yang dimaksud adalah kafe di kompleks toko buku Petra Toga Mas di kawasan Pucang. Kenyamanan seperti yang dimaksud Fauzia tadilah yang membuat tiap hari nyaris seluruh kursi di kafe itu selalu penuh.

“Biasanya, tempat ini digunakan untuk diskusi para mahasiswa,” terang Wakil Store Manager Toko Buku Petra Toga Mas Eko Siti Sholihah.

Sambil membawa laptop, lanjut Eko, diskusi di kafe tersebut bisa berlangsung gayeng karena tersedia fasilitas wifi gratis. “Tempat ini juga favorit para anggota book club kami untuk ngobrol tentang buku,” ujar Eko.

Diskusi buku di kafe dan terbentuknya klub buku: itulah sebagian gaya hidup yang berkaitan dengan buku yang mulai terbentuk di Surabaya Timur. Itu tak lepas dari kian menjamurnya toko buku di kawasan tersebut. Hal tersebut wajar mengingat bagian timur Surabaya adalah sentra pendidikan. Data Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya menunjukkan bahwa 70 persen dari total mahasiswa di Surabaya berkuliah di sana.

Di area segiempat Kertajaya-Pucang-Ngagel-Manyar saja, setidaknya ada empat toko buku besar. Yang terbaru di Kapas Krampung Plaza (Kaza), berdiri Pasar Buku Indonesia Cerdas (PBIC). Itu belum termasuk jalur “indie“. Yakni, para aktivis mahasiswa yang berjualan buku dengan tema tertentu di selasar kampus atau di sekretariat organisasi mahasiswa.

Buntutnya, kelompok diskusi, klub buku, kegiatan bedah buku, dan seminar tentang buku pun bertumbuhan. Toko-toko buku juga berlomba untuk menjadi lebih dari sekadar tempat berjualan buku.

Di Petra Toga Mas, misalnya. Selain kafe, ada hall yang biasanya digunakan untuk bedah buku, seminar, hingga pameran. “Biasanya, bedah buku dilakukan minimal sebulan sekali,” ujar Eko. Ada pula kegiatan Wisata Buku. “Banyak anak playgroup dan TK yang mulai dibentuk agar cinta buku mengunjungi toko kami,” tuturnya.

Di Toko Buku Uranus dan Toko Buku Manyar juga ada semacam membership untuk mengikat para pelanggan dengan tawaran diskon menarik. Lewat cara itu pula, secara tidak langsung sebuah komunitas pecinta buku pun terbentuk.

Bedah buku atau seminar mengenai buku baru kadang juga dihelat di Uranus. Walaupun belum bisa dikatakan rutin. “Asal ada komunikasi dari pihak penerbit dan penulis dengan kami, acara itu sangat mungkin dilakukan,” ujar Felisita, pemilik Toko Buku Uranus Ngagel.

Sedangkan Gramedia Manyar juga menyiapkan perubahan untuk membuat para pengunjung kian nyaman. “Dalam waktu dekat kami akan melakukan renovasi ruang. Namun, tidak untuk membuat area nongkrong seperti kafe atau panggung live music,” ucap Yoharianto, supervisor Gramedia Manyar.

Komunitas dan gaya hidup terkait dengan buku pun mulai terlihat di PBIC. Menurut Dadang M.A., wakil pengelola PBIC, pihaknya memberikan keleluasaan kepada berbagai pihak untuk memanfaatkan ruang seminar, ruang baca, dan atrium sebagai tempat kegiatan yang berhubungan dengan buku. “Bedah buku mulai rutin dilakukan di sini,” kata Dadang.

PBIC yang bersistem grosir dan dikelola bersama antara IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) dan manajemen Kaza memungkinkan calon pembeli beraudiensi langsung dengan penerbit. Sebab, di tempat itu terdapat berbagai stan penerbit baik lokal maupun nasional. (upi/rio/dan/c10/ttg)

Tak Mudah Bisa seperti Jogja dan Bandung

MULAI mengentalnya budaya buku di Surabaya, khususnya Surabaya Timur, juga tak lepas dari kian tingginya minat baca. Menurut Ketua Ikapi Surabaya Abdul Muiz Nahari, meningkatnya minat baca itu bisa dilihat dari bertambahnya jumlah penerbit di Kota Pahlawan ini.

“Empat tahun lalu, jumlah penerbit kurang dari 90. Sekarang jumlahnya sudah 107,” ungkapnya. “Otomatis, jumlah buku yang diterbitkan juga semakin banyak dan beragam,” lanjut dia.

Jenis buku yang banyak dipilih warga metropolis adalah yang mengupas keterampilan, motivasi, dan agama. Untuk buku pelajaran, umumnya sekolah masing-masing sudah memfasilitasi.

Namun, jika dibandingkan dengan kota pendidikan lain, seperti Jogjakarta maupun Bandung, Muiz mengakui bahwa Surabaya masih kalah. “Di sini kan lebih banyak tempat hiburan. Jadi, kebanyakan warga kota lebih memilih ke tempat hiburan daripada ke toko buku,” ucapnya.

Sementara itu, sastrawan Prof Budi Darma menuturkan, kultur buku yang kuat terbentuk di Jogja dan Bandung tak lepas dari sejarah intelektual masa lalu di dua daerah tersebut. Jogja maupun Bandung sejak dulu sudah dikenal sebagai sentra pendidikan dan kesenian. Sementara Surabaya dikenal sebagai pusat perniagaan dan industri.

Di samping itu, ungkap guru besar Sastra Inggris Universitas Surabaya tersebut, kampus di Jogja dikenal tua dengan jurusan-jurusan yang bersifat sosial dan humaniora. Beda halnya dengan kampus di Surabaya yang jurusan tertuanya adalah kedokteran dan teknologi. “Orang dari kedokteran dan teknologi pasti bisa membaca buku-buku sosial dan humaniora. Namun, belum tentu sebaliknya,” jelas pria asal Rembang tersebut.

Lalu, apakah Surabaya mungkin membangun kultur buku sekuat dua kota itu? Dosen yang bulan depan akan menjadi penulis tamu di Singapura selama tiga bulan penuh tersebut tetap optimistis.

“Meskipun pasti sangat sukar,” ujar sastrawan penulis novel Orang-orang Bloomington itu. “Sebab, beda dengan Jogjakarta dan Bandung yang kulturnya sudah terbentuk sejak dulu, Surabaya mulai membentuknya pada masa di mana televisi merajalela,” terangnya. (upi/rio/c9/ttg)

*) Jawapos, 31 Mei 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan